Saturday, 1 March 2014

Indonesia Berterima Kasih Kepada Belanda, Kenapa ?

Indonesia Berterima Kasih Kepada Belanda, Kenapa ? Sejarah membuktikan bahwa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun atau bisa di katakan 3,5 abad. Kita tahu bahwa Indonesia ini merupakan negara yang kepulauan yang sangat luas, dari Sabang sampai Merauke.

Indonesia dahulu kala sebelum merdeka merupakan wilayah yang memilik kerajaan-kerajaan yang sangat banyak namun saling terpisah. Mulai dari kerajaan Majapahit, Singosari, Sriwijaya, Kahuripan, Pajajaran, dan lain sebagainya.

Ada yang mengatakan bahwa kerajaan kerajaan-kerajaan yang besar di Indoesia tersebut runtuh karena adanya perang saudara dalam merebut kekuasaan. Setelah sering terjadi  peperangan dalam kerajaan tersebut maka datangnya Belanda ke Indonesia, yang mana berniat menjajah Indonesia. Belanda menjajah Indonesia yang paling sering diambil adalah rempah-rempah yang bisa menghangatkan tubuh di musim dingin di negara-negara di Eropa. Lain halnya misalnya negara kita di jajah  Inggris atau yang lainnya maka yang diambil adalah SDA (Sumber Daya Alam) yang tidak bisa diperbarui yaitu emas, dan sejenisnya. Jadi masih beruntunglah negara yang di jajah Belanda karena mengambil rempah-rempah yang merupakan SDA yang bisa perbarui, habis tinggal tanam. Lain halnya dengan emas yang merupakan SDA yang tidak dapat diperbarui.

Namun yang ada hikmah yang lebih penting dibalik dijajahnya Indonesia oleh Belanda yaitu bersatunya Indonesia menjadi NKRI yang bersatu. Andai saja negara ini tidak di jajah Belanda maka negara ini tidak akan bisa bersatu dan berdiri karena saling mementingkan kerajaan-kerajaannya sendiri. Bangsa Indonesia menyadari hal tersebut, bahwa untuk mengusir penjajah dibutuhkan kekuatan dan kekompakkan seluruh bangsa Indonesia. Dan akhirnya setelah hadir Belanda,  Bangsa Indonesia bersatu untuk mengusir penjajah tersebut. Sehingga muncul semboyan Bhineka Tunggal Ika. Mungkin kita harusnya berterima kasih kepada Belanda karena sebab di jajah belanda Indonesia bisa bersatu. 

Tulisan ini dikutip dari pengajian oleh Prof. DR. KH. Abdul Ghofur (Pengasuh PP. Sunan Drajat)