Sunday, 16 February 2014

Mengenal Huruf Pegon & Abajadun - Warisan Walisongo (2)

Mengenal Huruf Pegon & Abajadun -  Warisan Walisongo (2)

Pakem Pegon

Dalam penulisan bahasa apapun tentu ada pakem atau gramatika tertentu yang menjadi acuan. Sebagaimana literatur bahasa arab yang mempunyai pakem bahasa disebut nahwu sharaf, begitupun dalam penulisan huruf pegon.

Secara tertulis, pakem asli dari huruf pegon belum pernah ditemukan. Namun, melihat dari bebarapa kitab klasik yang ditulis dengan menggunakan bahasa daerah, terdapat beberapa huruf yang semuanya hampir mirip dan perbedaannya hanya tertuju pada pembubuhan huruf vocal saja. Pakem dari huruf pegon adalah modifikasi huruf arab yang ditranslit masuk dalam huruf-huruf carakan (aksara jawa), dan bermetafora menyesuaikan diri dengan huruf abjad (hal ini diistilahkan dengan abajadun) dalam hal inilah (modifikasi dengan huruf abjad) yang banyak dipelajari hingga saat ini.



(tabel belum ada)


Dalam tabel tersebut terdapat berbagai pembawuran (istilah pesantren untuk menilai pada perkara yang diplesetkan) huruf arab yang memang tidak sesuai literatur bahasa aslinya.

Itu bisa dilihat dari beberapa kaidah-kaidah dalam penulisannya. Seperti huruf (Ca) yang ditulis dengan menggunakan huruf arab (Jim) dengan titik tiga. Kemudian (Po) menggunakan huruf (Fa’) dengan tiga titik diatas. Aksara (Dha) menggunakan huruf (Dal) dengan tiga titik diatas. Aksara jawa (Nya) menggunakan huruf (Ya’) dengan tiga titik diatas. Serta aksara jawa (Nga) dengan menggunakan huruf arab (‘Ain) dengan tiga titik.

Huruf pada tabel diatas meruakan huruf mati semua (konsonan) sebelum dibubuhi huruf vocal. Sedangkan huruf vocal pada literartur arab hanya ada tiga, yaitu: alif, ya’ dan wawu (ا ي و ). Serta harakat fathah, dlomah, kasroh, pepet dan hamzah (hanya untuk alif).

Penggunaan huruf vocal dan beberapa harakat ini adalah untuk memudahkan dan juga menjauhkan kesalahan dalam pembacaan, hal ini karena dalam penulisan arab pegon atau huruf jawi banyak terjadi kesamaan.



Berikut adalah tabel modifikasi huruf hijaiyah dengan huruf latin atau lebih dikenal dengan istilah Abajadun:



Dalam tabel diatas terdapat sebuah simbol nomor yang tertera dalam masing-masing huruf, ini berguna untuk menghitung dalam almanak dan banyak terdapat pada kalender yang menyertakan almanak. Ini tidak berbeda jauh dalam beberapa huruf Romawi semisal huruf (X) untuk angka 10.

Hanya saja, sebenarnya dalam pembuatan huruf abajadun ini lebih banyak digunakan dalam ilmu hisab (hitung). Hal ini sesuai dengan sejarah dari huruf abajadun itu sendiri.

Ilmu menghitung aksara arab telah di kenal sejak masa kejayaan islam. ilmu tersebut , konon merupakan bagian proyek alih pengetahuan yang dihelat Dinasti Abbasiyyah dengan menerjemahkan buku – buku asing. Setelah melalui proses ” asimilasi” , ilmu itu di kembangkan oleh para ulama ahli hikmah, sebagai contohnya adalah Al Imam Abdul Abbas Ahmad bin Ali al Buni dengan kitabnya Syamsul Ma’arif dan Manba’u Ushulil Hikmah serta Al Imam Abu Hamid Muhammad al Ghazali dalam Al aufaq.

Ilmu hikmah adalah ilmu yang di turunkan oleh Allah khusus kepada Hurmus (tokoh yang hingga kini masih diperdebatkan). Hurmus itulah yang diberi kemampuan Allah bisa menerjemahkan nilai – nilai gaib menjadi kenyataan. Dan dari nama Hurmus itu terbentuk kata hermeneutic (upaya menafsirkan yang gaib menjadi kasat mata). Wallahu a’lam.

edited : http://misykat.lirboyo.net/