Thursday, 22 October 2015

Penjelasan Prof. Dr. KH Said Aqil Siraj Mengenai Memanjangkan Jenggot

Prof. DR. KH. Said Aqil Siraj, MA seputar jenggot. Namun yang perlu di perhatikan adalah adanya berita yang keluar dari jalur sebenarnya atau juga bisa hanya mengambil sepotong-sepotong dari pendapat beliau. Ini menyebabkan banyak netizen yang berkomentar pedas terhadap beliau. 


Prof. Dr. KH Said Aqil Siraj
Menanggapi reaksi sejumlah netizen yang memelintir pidato Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA seputar jenggot, Ketua Umum PBNU ini akhirnya memberikan klarifikasi dan penjelasan melalui sebuah video yang diunggah di Youtube. 

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh…
Memilihara jenggot adalah termasuk salah satu sunnah Rasullah SAW. Konsekuensinya orang yang memanjangkan jenggot harus mengikuti perilaku dan akhlak rasulullah. Karena misi yang paling subtansi dari rasulullah adalah membangun akhlakul karimah, bukan sekedar aksesoris yang menghiasi dirinya, tapi akhlaknya jauh dari perilaku akhlak mulia dan akhlak rasullah. Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang. Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala. Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol karifan jiwanya. Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah. 

berjenggot

 
Semakin cepatnya perkembangan teknologi menyebabkan banyak media yang 'kurang sehat' yang dengan mudah mengalihkan berita bahkan memfitnah seseorang, golongan atau kelompok lain. Jadi jangan mudah terpercaya terhadap sebuah berita yang belum jelas asal usulnya. 

dalah milik dan hak cipta www.santridrajat.com
Beberapa hari yang lalu dunia maya dihebohkan dengan sebuah pendapat Prof. DR. KH. Said Aqil Siraj, MA seputar jenggot. Namun yang perlu di perhatikan adalah adanya berita yang keluar dari jalur sebenarnya atau juga bisa hanya mengambil sepotong-sepotong dari pendapat beliau. Ini menyebabkan banyak netizen yang berkomentar pedas terhadap beliau. prof dr kh. aqil siraj pp sunan drajat paciran lamongan Menanggapi reaksi sejumlah netizen yang memelintir pidato Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA seputar jenggot, Ketua Umum PBNU ini akhirnya memberikan klarifikasi dan penjelasan melalui sebuah video yang diunggah di Youtube. Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh… Memilihara jenggot adalah termasuk salah satu sunnah Rasullah SAW. Konsekuensinya orang yang memanjangkan jenggot harus mengikuti perilaku dan akhlak rasulullah. Karena misi yang paling subtansi dari rasulullah adalah membangun akhlakul karimah, bukan sekedar aksesoris yang menghiasi dirinya, tapi akhlaknya jauh dari perilaku akhlak mulia dan akhlak rasullah. Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang. Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala. Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol karifan jiwanya. Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah. jenggot panjang Semakin cepatnya perkembangan teknologi menyebabkan banyak media yang 'kurang sehat' yang dengan mudah mengalihkan berita bahkan memfitnah seseorang, golongan atau kelompok lain. Jadi jangan mudah terpercaya terhadap sebuah berita yang belum jelas asal usulnya. Link Video https://www.youtube.com/watch?v=jeN5D074E7Q

Sumber: http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:znxhe30ZgzIJ:www.santridrajat.com/2015/09/penjelasan-prof-dr-kh-said-aqil-siraj.html%3Fm%3D0+&cd=1&hl=en&ct=clnk&gl=sg
Konten adalah milik dan hak cipta www.santridrajat.com
Beberapa hari yang lalu dunia maya dihebohkan dengan sebuah pendapat Prof. DR. KH. Said Aqil Siraj, MA seputar jenggot. Namun yang perlu di perhatikan adalah adanya berita yang keluar dari jalur sebenarnya atau juga bisa hanya mengambil sepotong-sepotong dari pendapat beliau. Ini menyebabkan banyak netizen yang berkomentar pedas terhadap beliau. prof dr kh. aqil siraj pp sunan drajat paciran lamongan Menanggapi reaksi sejumlah netizen yang memelintir pidato Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA seputar jenggot, Ketua Umum PBNU ini akhirnya memberikan klarifikasi dan penjelasan melalui sebuah video yang diunggah di Youtube. Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh… Memilihara jenggot adalah termasuk salah satu sunnah Rasullah SAW. Konsekuensinya orang yang memanjangkan jenggot harus mengikuti perilaku dan akhlak rasulullah. Karena misi yang paling subtansi dari rasulullah adalah membangun akhlakul karimah, bukan sekedar aksesoris yang menghiasi dirinya, tapi akhlaknya jauh dari perilaku akhlak mulia dan akhlak rasullah. Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang. Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala. Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol karifan jiwanya. Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah. jenggot panjang Semakin cepatnya perkembangan teknologi menyebabkan banyak media yang 'kurang sehat' yang dengan mudah mengalihkan berita bahkan memfitnah seseorang, golongan atau kelompok lain. Jadi jangan mudah terpercaya terhadap sebuah berita yang belum jelas asal usulnya. Link Video https://www.youtube.com/watch?v=jeN5D074E7Q

Sumber: http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:znxhe30ZgzIJ:www.santridrajat.com/2015/09/penjelasan-prof-dr-kh-said-aqil-siraj.html%3Fm%3D0+&cd=1&hl=en&ct=clnk&gl=sg
Konten adalah milik dan hak cipta www.santridrajat.com


EmoticonEmoticon