Tuesday, 28 June 2016

Dekan ITS: Teknologi Penting untuk Memahami Kitab Kuning

Dekan Fakultas Teknik Informatika ITS Surabaya Agus Zainal Arifin menyatakan, laju perkembangan dunia teknologi makin hari semakin cepat. Untuk mempermudah dalam mempelajarai kitab kuning, para santri di pesantren dituntut untuk mengenal dan menguasai teknologi.

Dekan ITS: Teknologi Penting untuk Memahami Kitab Kuning

“Mari jadikan teknologi ini sebagai wasilah (perantara) untuk mencapai ghoyah (tujuan) dalam memahami kitab kuning,” demikian dikatakan Agus Zainal Arifin saat mengisi materi workshop "Peningkatan Mutu Teknologi dan Peningkatan Penguasaan Kitab Kuning Melalui Aplikasi Berbasis Internet", yang diadakan Badan Eksekutif Mahasantri (BEM) Ma’had Aly Attarmasi, Pesantren Tremas Pacitan, Ahad (1/4).

Agus yang menjabat Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI NU) itu mengatakan, dewasa ini modal untuk mempelajari kitab kuning sebagai literatur dan referensi Islam tidak cukup hanya dengan menggunakan ilmu alat saja, seperti nahwu dan sharaf. Namun harus dipadukan dengan teknologi. Teknologi, menurutnya mempunyai arti yang sangat luas. 

“Kehadiran teknologi bukan bermaksud menggantikan posisi kiai dan kitab kuning, bukan. Justru teknologi hadir untuk mempermudah para kiai dan santri dalam mempelajari kitab kuning,” jelas doktor lulusan Hiroshima University, Jepang itu.

Ia menambahkan, pesantren tidak boleh menjadi bagian dari komunitas yang tertinggal dalam pengusaan teknologi.  Di lingkungan pesantren, antara penguasaan kitab kuning dan teknologi harus berimbang.  Apalagi dengan tibanya era digital, maka semua sudah didigitalkan termasuk kitab kuning. Saat ini aplikasi kitab kuning yang berbasis android sudah banyak beredar, para santri didorong untuk dapat memanfaatkanya.

Monggo (silahkan) software- software kitab kuning, yang berbasis android kita download. Untuk mempermudah kita dalam belajar, untuk mencari takbir bahtsul masail dan lain-lain,” katanya.

Agus pun mendorong para santri di pesantren untuk tekun belajar dan lebih kreatif lagi. Kedepan para santri tidak boleh hanya menjadi penikmat aplikasi berbasis android, namun harus mampu menciptakan sendiri aplikasi-aplikasi kitab kuning berbasis android tersebut. 

Sementara itu, Direktur Ma’had Aly Attarmasi KH Luqman Harits mengajak kepada para santri untuk lebih meningkatkan penguasaan kitab kuning. Sebab kitab kuning merupakan literatur warisan para ulama pendahulu dan merupakan kebanggan para santri di pesantren.

“Oleh karena itu, kita tidak boleh lemah dalam menguasai kitab kuning,” harapnya. (Zaenal Faizin/Zunus)
nu or id

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon