Monday, 25 July 2016

Mimpi Terindah - Kisah Abu Nawas

Mimpi Terindah - Kisah Abu Nawas

Mimpi Terindah - Kisah Abu Nawas - Abu Nawas tengah dalam pengembaraan suci bersama seorang Ahli Yoga dan seorang Pendeta. Dalam sebuah kesempatan ketika tengah beristirahat dan hendak menyantap bekal makanan yang mereka bawa, Sang Pendeta berkata, “Bagaimana kalau kita menguji diri sendiri?”

“Maksudmu?” tanya Abu Nawas.

“Begini, barangsiapa bermimpi paling indah dalam tidurnya, maka ia akan mendapat bagian terbanyak. Yang kedua lebih sedikit dan yang terburuk akan mendapat paling sedikit,” jelas Sang Pendeta.

Mereka pun sepakat. Ketiganya kemudian mengambil tempat masing-masing untuk tidur. Namun diam-diam Abu Nawas mencium gelagat kurang baik. Ia merasa bahwa Sang Pendeta dan Ahli Yoga hendak mengerjainya.

Keesokan harinya mereka bangun hampir bersamaan. Satu per satu menceritakan mimpinya.

Ahli Yoga dengan wajah berseri-seri bercerita, “Tadi malam aku bermimpi memasuki sebuah taman yang mirip sekali dengan Nirwana. Aku merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan dalam hidup ini.”

“Betul-betul luar biasa,” komentarSang Pendeta. Kemudian ia menceritakan mimpinya, “Aku seolah-olah menembus ruang danwaktu. Dan secara tidak sengaja aku bertemu dengan Pendiri Agamaku. Yang lebih membahagiakan adalah aku diberkati oleh beliau.”

Ahli Yoga memuji-muji kehebatan mimpi Pendeta itu. Sementara Abu Nawas hanya diam saja mendengar apa yang disampaikan teman-temannya.

“Bagaimana dengan mimpimu?” tanya Sang Ahli Yoga.

Abu Nawas diam sejenak. Ia mengatur nafas lalu dengan tenang mulai menceritakan mimpinya.

“Kalian tentu tahu Nabi Khidir. Beliau adalah mahaguru para sufi. Tadi malam aku bermimpi berbincang-bincang dengan beliau. Beliau menanyakan apakah aku berpuasa atau tidak. Aku katakan aku berpuasa karena aku memang tidak makan sejak dini hari. Kemudian beliau menyuruhku segera berbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani mengabaikan perintah beliau. Aku segera bangun dari tidur dan langsung menghabiskan makanan kita.”

Sang Pendeta dan Sang Ahli Yoga tersenyum kecut saling berpandangan. Sementara Abu Nawas tetap duduk tenang tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon