Friday, 9 September 2016

Sejarah dan Profil Pondok Pesantren Abu Dzarrin Bojonegoro

Sejarah dan Profil Pondok Pesantren Abu Dzarrin Bojonegoro 

Sejarah dan Profil Pondok Pesantren Abu Dzarrin Bojonegoro

 

Riwayat Berdirinya Pondok Pesantren Abu Dzarrin Bojonegoro

1. Pada tanggal 25 September 1919 M. Pondok Pesantren Abu Dzarrin didukuh kendal Sumbertlaseh Dander Bojonegoro mulai dirintis dan didirikan oleh seorang ulama` besar yang bernama K. Abu Dzarrin. Bangunan yang ada mulanya hanya berupa sebuah masjid, dan merupakan bangunan yang sudah tua yakni peninggalan seorang penghulu Bojonegoro yang bernama H. Umar, sementara santri yang ada baru satu atau dua dari desa setempat dan sekitarnya.

2. Tidak beberapa lama kemudian oleh beliau didirikan sebuah bangunan dari kayu jati yang sederhana yang terdiri dari 7 kamar sebagai tempat santri yang menetap. Namun semakin hari santri semakin meningkat perkembangannya dan hanya bangunan tersebutlah satu – satunya bangunan yang pertama didirikan yakni pada tahun 1924 M.

3. Namun pada tahun 1924 M. beliau terpaksa meninggalkan Pondok Pesantren yang dirintis untuk sementara waktu untuk menunaikan rukun islam yang ke – 5 yakni ibadah haji kebaitulloh yakni Makkatul Mukarromah dan beliau bermukim disana selama 2 tahun untuk belajar atau Istifadatil Ilmu pada guru & ulama` besar disana.

4. Dan pada waktu beliau bermukim di Makkah selama 2 tahun (1924 – 1926) yang memegang dan mengelola roda pendidikan para santri di pesantren adalah:

-KH. Ma`sum (seorang Na`ib di Mantup Lamongan yakni saudara misan KH. Abu Dzarrin).

-KH. Basyir (Penghulu Bojonegoro pada waktu itu).

5. Pada waktu beliau kembali dari tanah suci Makkah, maka semakin banyak perkembangan santri baik dari daerah bojonegoro maupun sekitarnya. Dan tidak sedikit diantara para santri yang dulunya pernah menjadi santri beliau sewaktu beliau membantu mengajar di Pondok Pesantrennya KH. Kholil Bangkalan Madura kira – kira selama 3 tahun. Dan santri beliau ketika membantu mengajar di Pondok Pesantren Termas Pacitan dibawah Kepengasuhan KH. Raden Dimyathi & KH. Raden Makhfudz serta KH. Abu Dzarrin menetap dipesantren tersebut kira – kira selama 6 tahun. Dengan semakin tambahnya perkembangan para santri , sudah barang tentu bangunan tersebut tidak memadai untuk menampung para santri, sehingga Beliau berusaha untuk menambah bangunan. Dan Alhamdulillah akhirnya terwujud 5 bangunan yang terdiri dari 15 kamar. Namun demikian sekalipun sudah terwujud bangunan yang baru akan masih juga belum memadahi untuk menampung para santri karena mengalami perkembangan yang sangat pesatdan tidak sedikit sekali santri yang datang dari luar daerah seperti Jawa Timur sendiri, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera bahkan ada dari luar negeri yakni Singapura sebanyak 5 Orang, dan jumlah keseluruhan kira – kira sekitar 200 orang.

6. Pada tahun 1933 M. Mulailah dirintis pendidikan formal yakni Madrasah mulai dari Kelas 0 (Nol) Besar untuk menampung anak – anak disekitar Pesantren dan selama berjalan kurang lebih 3 tahun perkembangan Madrasah tersebut belum bisa berkembang sesuai dengan yang diharapkan, bahkan semakin hari mengalami satu kemerosotan karena situasi setempat yang kurang memungkinkan , sehingga untuk sementara waktu dibekukan / difakumkan.

7. Dan pada Era Negara ini dijajah oleh Jepang, Pesantren mengalami suatu kemunduran, karena tidak sedikit santri yang meninggalkan Pondok Pesantren akibat situasi dan kondisi pada saat itu kurang menguntungkan bagi keselamatan dan kehidupan para santri. Namun juga tidak sedikit para santri yang masih menetap dan bertahan di pesantren untuk meneruskan belajarnya sekalipun dalam keadaan yang sangat sulit dan genting. Dan sekalipun situasi dan kondisi pada saat itu sangat rawan dan penuh dengan kesulitan dan kekurangan , akan tetapi kegiatan dan pendidikan di Pesantren tetap berjalan sebagaimana biasa, baik pengajian umum maupun kegiatan – kegiatan lainnya.

8. Pada Era Revolusi 1945 M. Pondok Pesantren bukan hanya dihuni oleh para santri namun juga menjadi tempat Alternatif oleh para pengungsi atau Gerilyawan para Pejuang Kemerdekaan melawan Belanda. Pondok Prsantren juga dijadikan Benteng Pertahanan Pejuang Kemerdekaan pada saat itu. Dan pada masa Revolusi Pondok Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pendidikan, namun juga ikut andil yang sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari kekuasaan penjajah. Bertambahnya pejuang – pejuang dari Pesantren adalah berkat pendidikan yang ditanamkan oleh para ulama` dilibuk hati yang sangat dalam untuk tetap mempertahankan misi yang diajarkan oleh Rosululloh SAW, yakni “ Cinta tanah air adalah merupakan sebagian dari pada iman “.

9. Pada tahun 1947 M. oleh KH. Dimyathi Putra KH. Abu Dzarrin Madrasah yang dulunya dibekukan atau diberhentikan sementara mulai diteruskan kembali yakni pada saat itu dimulai dari Tingkat Madrasah Ibtida`iyah (MI) dengan nama Madrasah Salafiyah, dan saat itu baru menampung murid laki – laki. Dan KH. Dimyathi berusaha keras untuk mengembangkan Madrasah tersebut agar lebih maju dan berkembang dengan pesat. Akhirnya berkat usaha keras dan keikhlasan hati beliau dalam memperjuangkan agama islam akhirnya Madrasah tersebut semakin hari semakin berkembang dan semakin maju yang sehingga sampai saat sekarang Madrasah tersebut tetap bertahan dan semoga tetap abadi dan lestari sampai hari kiamat. Amin……… Dan pada tahun 1947 M. Madrasah tersebut mendapat Pengesahan dan Piagam dari Departemen Agama Republik Indonesia. Dan pada tahun 1978 M. Piagam tersebut diperbaharui oleh Kepala Bidang Pendidikan Agama pada Kantor Wilayah Departemen Agama Jawa Timur dengan Status Terdaftar serta menggunakan Kurikulum Departemen Agama Republik Indonesia. Adapun setelah dibukanya kembali Madrasah pada tahun 1947 M. Tempat para murid belajar adalah pada sebuah bangunan kecil yang sangat sederhana (Semi Sempurna) yang berukuran 7 X 8 M.dan terdiri dari 2 lokal sedangkan sebagian murid yang lain menempati serambi masjid pada tahun 1959 M.

10. Kemudian pada tahun 1953 M. Mulailah dirintis Madrasah Tsanawiyah (MTs) Oleh KH. Dimyathi Bin KH. Abu Dzarrin untuk menampung / melanjutkan belajar para murid yang telah tamat belajar dari tingkat Ibtida`iyah kependidikan yang lebih tinggi. Dan Alhamdulillah semakin hari semakin meningkat, para siswa yang melanjutkan dimadrasah Tsanawiyah yang diberi nama Madrasah Islam Salafiyah Roudlotul Ilmiyah (MISRI). Demikian pula Madrasah Ibtida’iyah juga dirubah namanya sama dengan Madrasah Tsanawiyah. dan untuk sementara saat itu juga hanya dapat menampung putra yang ditempatkan dimasjid untuk sementara, karena belum punya gedung yang resmi.

11. Pada tahun 1956 M. mengalami peningkatan siswa yang tidak sedikit , sehingga gedung yang ada sudah ada tidak dapat menampung dari sekian banyaknya siswa dan santri, maka masing – masing terdiri dari 6 kamar yang salah satunya berada disamping kanan masjid sekaligus sebagai perluasan serambi masjid yang terdiri dari 6 kamar lainnya hanya untuk tempat santri. Sekaligus untuk sekolah sedang yang 6 kamar lainnya digunakan untuk santri , sehingga jumlah gedung saat itu sebanyak 8 gedung yang terdiri dari 46 kamar ditambah sebuah masjid dan gedung Madrasah kecil 2 lokal.

12. KH. Abu Dzarrin selain mendidik dan mengajar para santri yang menetap diPesantren juga mengadakan pengajian Rutin yang sifatnya umum untuk kaum dewasa atau orang tua setiap hari selasa pagi untuk orang pria kurang lebih sekitar 200 orang. Sedangkan untk orang wanita pada hari selasa siang yang kurang lebih sekitar 400 orang, dan juga pengajian rutin setiap selesai solat Jum`at.

13. Pada hari kamis tanggal 5 juni 1958 M. KH. Abu Dzarrin Dipanggil untuk menghadap Alloh SWT. (Wafat) yang pada saat itu jumlah santri sekitar 300 santri yang menetap dipesantren. Sejak saat itu Pengasuh dan Pengelola Pondok Pesantren diteruskan Oleh putra laki – laki Beliau yang pertama yaitu KH. Dimyathi dan dibantu oleh Putra keduanya yaitu KHA. Munir An. Dan sejak saat itu pula Pondok Pesantren ini diberi nama Pondok Pesantren Abu Dzarrin untuk menghormati dan mengingat jasa Beliau sebagai perintis dan pendiri Pondok Pesantren.

14. Semenjak KH. Dimyathi menggantikan KH. Abu Dzarrin beliau berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk lebih meningkatkan pendidikan yang berada dipesantren atau yang berada di Madrasah yang formal baik dari segi kwalitas maupun kwantitas pendidikan. Dan hal itu dapat kita lihat dan kita rasakan dari perkembangan pendidikan pada masa – masa berikutnya.

15. Pada tahun 1959 M. gedung asrama putri yang sudah tua dan sudah tidak layak untuk dihuni dibongkar dan dibangun kembali gedung yang baru yang terdiri dari 2 buah gedung asrama bertingkat (komplek kapas). Serta dibangun pula musholla yang besar bagi putra untuk jama`ah & belajar / mengaji oleh para santri putra dan kaum pria dewasa. Dan saat ini bangunan musholla tersebut masih abadi. Dan juga dibangun sebuah gedung tembok yang terdiri dari 12 lokal termasuk ruang kantor madrasah.

16. Dan pada Tahun 1959 M. beliau juga mendirikan 2 buah bangunan yang terdiri dari 12 kamar dan sebuah musholla untuk Pondok Pesantren Abu Dzarrin Putri, dan pada saat itu pula Pondok Pesantren Abu Dzarrin mulai menampung / mengelola serta mengasuh santri putri dan sekaligus membuka dan mendirikan Madrasah Putri baik tingkat Madrasah Ibtida`iyah (MI) maupun Madrasah Tsanawiyah (MTs). Dan Alhamdulillah akhirnya banyak pula santri putri yang menetap dipesantren atau yang nasuk madrasah.

17. Pada tahun 1960 M. KH. Ahmad Munir An. Sebagai pembantu Pengasuh Ponpes Abu Dzarrin mendirikanMadrasah Mu`alimin Mu`alimat (untuk Mendidik Calon Guru) 4 tahun.

18. Kemudian pada tahun 1970 M. Madrasah Mu`alimin Mu`alimat dibubarkan sebagai gantinya didirikan Madrasah Aliyah Baik Putra maupun Putri jurusan Agama dan pada tahun 1981 / 1982 M. ditambah juga jurusan IPS. Madrasah Aliyah (MA) – Madrasah Tsanawiyah (MTs) - Madrasah Ibtida`iyah (MI) semua berstatus terdaftar oleh Departemen Agama dan juga mendapat Bimbingan dan bantuan Guru Negeri pada semua tingkatan dari Departemen Agama.

19. Pada tahun 1974 M. KH. Dimyathi Adnan mendirikan sebuah gedung berukuran 44 M. X 8 M. yang terdiri dari 8 ruang termasuk ruang kantor untuk menampung murid madrasah ysng semakin bertambah, namun juga masih belum memadahi, sehingga sebagian siswa terpaksa masih ada yang menempati gedung dorurot.

20. Pada permulaan tahun 1979 M. / 1980 M. mulai dirintis Taman Pendidikan Kanak – Kanak (namun saat itu masih taraf persiapan) sambil menunggu pembangunan gedung dan peralatan yang dibutuhkan sebagai tempat belajarnya. Dan pada saat itu pula Madrasah Aliyah (MA) – Madrasah Tsanawiyah (MTs) – Madrasah Ibtida`iyah (MI) diberi nama Madrasah Abu Darrin sebab Madrasah tersebutmerupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Abu Dzarrin.

21. Selanjutnya, mulai Tahun 1980 M. pembangunan fisik dilaksanakan secara besar – besaran dan bertahap. Tahap yang pertama direhabilitir beberapa gedung asrama yang sudah tua diantaranya ada yang dibongkar total dengan mendirikan bangunan yang baru.

Lembaga-lembaga yang berada dalam naungan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Abu Dzarrin:

1. Pendidikan Formal
a. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
b. Roudlotul Athfal (RA)
c. Madrasah Ibtida`iyah (MI)
d. Madrasah Tsanawiyah (MTs)
e. Madrasah Aliyah (MA)
f. Universitas Islam ABU DARRIN (UNISAD)

2. Pendidikan non Formal

a.Madrasah Takhasusiyah Al Dimyatiyah (MTHA). Dan progam tambahan :
I. WAJAR DIKDAS 9 Th. (Sederajat dg SMP/ MTs)
II. KEJAR PAKET C (Sederajat dg SMU / MA)

b. Madrasah Al Adnaaniyah (MAN)
c. Jam`iyyah Thoriqoh Qodiriyah Wan Naqsabandiyah
d. Tahfidzul Qur`an
e. Pengajian kitab kuning dengan system sorogan/wetonan untuk para Santri baik putra maupun putri.
f. Majlis Ta`lim (pengajian bagi kaum tua) dengan sistem kuliah.
g. Bermacam – macam berbagai pendidikan keterampilan (antara lain : pertukangan, peternakan, perpustakaan, pramuka, bengkel (montir), komputerisasi, dan lain-lain)

Sumber : hxxp;//abudzarrin,blogspot,co,id

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon