Tuesday, 25 October 2016

Biografi Ibnu Sina

Biografi Ibnu Sina – Ilmuwan Muslim Pakar Kedokteran Dunia - Dalam dunia kedokteran mungkin tidak asing lagi dengan nama Aviccena. Aviccena merupakan nama lain dari Ibnu Sina. Aviccena merupakan panggilan dari orang barat kepada Ibnu Sina, entah mengapa sedikit berubah, mungkin karena perbedaan logat dan bahasa. 

Biografi Ibnu Sina

Siapa Ibnu Sina

Ibnu Sina bernama lengkap Abu Ali Husain Bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina. Beliau terkenal sebagai seorang yang ahli dala bidang ilmu kedokteran. Kecerdasan melebihi orang barat dan eropa waktu itu. Selain ahlii dalam ilmu kedokteran ia juga ahli dalam bidang filosofi, psikolog, pujangga, pendidik serta merupakan sarjana muslim yang hebat.

Terlahir pada bulan shafar 370 Hijriah atau di bulan Agustus 985 Masehi di Asfshana, suatu tempat dekat dengan bukhara. Keluarga merupakan pegawai pemerintahan waktu itu. Keluarganya sudah menanamkan ilmu sejak kecil kepada Ibnu Sina. Seorang guru pun didatangkan oleh keluarganya untuk mengajarinya. Pada usia 10 tahun Ibnu Sina sudah berhasil hafal isi Al Quran dan mendalami berbagai karya sastra.

Setelah itu ia tekun belajar Ilmu Fiqh dari seorang Ulama besar yang bernama Ismail. Kecerdasan seorang anak bernama Ibnu Sina ini memang hebat. Pada umur 16 tahun ia sudah mampu menerangkan isi buku dari Isagoge (Buku Ilmu Logika),Al Mages (Buku tentang Astronomi Kuno) dan buku Ecludis (Buku tentang Arsitektur)

Tidak hanya itu, Ibnu Sina juga sudah belajar filsafat dari Abu Abdilla An-Natili, ia merupakan seorang filosof terkenal pada zaman itu. Fisolof tersebut di minta oleh Ayah Ibnu Sina untuk tinggal di Bukhara untuk mengajarkan filsafat kepada Anaknya. Tidak butuh waktu lama, Ibnu Sina sudah pandai dalam bidang filosofi, hal ini membuat sang guru terkagum-kagum dengannya. Konon ia juga sempat belajar berbagai ilmu, misalnya ilmu perbintangan, beliau dikenal mampu menciptakan sebuah alat yang belum pernah dibuat para ahli sebelumnya.

Ibnu Sina yang masih mudah tertarik pula mendalami Ilmu Kedokteran. Ia mempelajarinya dengan tekun dan semangat. Berkat jerih payahnya ia sudah mampu mengobati orang-orang yang sakit. Ia semakin hari semakin terkenal. Ia terkenal mampu mengobati berbagai penyakit kala itu, banyak pula yang berguru kepadanya. Namun ia tidak menjadikan ilmu yang ia peroleh sebagai ladang penghasil kekayaan. Ia mengajar dan menolong sesama dengan Ikhlas karena Allah SWT.

Suatu saat seorang pejabat bernama Amir Nuh bin Nasr menderita sakit keras. Karena waktu itu Ibnu Sina terkenal, ia meminta untuk mengobatinya. Setelah di obati Amir Nuh Bin Nasr sembuh dari penyakitnya. Berkat itu ia semakin terkenal. Amir memiliki perpustakaan yang sangat lengkap. Ibnu Sina diperbolehkan untuk menggunakan perpustakaan tersebut. Dari sanalah ia mendapat banyak ilmu.

Kecerdikan Ibnu Sina

Selain sebagai dokter, Ibnu Sina juga dikenal sebagai psikolog yang sanggup mengobati orang yang sakit jiwanya. Suatu hari ada seorang lelaki yang terkena melancholia, sebuah penyakit jiwa yang timbul akibat penyakit empedu yang cukup menyedihkan. Lelaki ini merasa dirinya adalah seekor sapi. Ia tidak mau makan dan minum bersama manusia bahkan tidurnya pun di kandang sapi sehingga badannya kurus kering dan kotor. Keluarganya sudah membawanya kemana-mana untuk diobati namun belum juga berhasil. Akhirnya keluarganya mendengar keahlian Ibnu Sina. Kemudian keluarganya membawa laki-laki sakit jiwa tadi ke Ibnu Sina.

Setelah mengamati keadaan lelaki malang itu, Ibnu Sina bertanya :
“Ada apa denganmu?”
“Aku tidak apa-apa.” Jawab lelaki itu. “Aku hanya merasa telah menjadi seekor sapi. Aku melenguh, makan dan minum serta bertingkah layaknya sapi.”
“Kalau begitu kamu memang seekor sapi. Aku akan menyembelihmu, “ kata Ibnu Sina.
“Silahkan saja ,” katanya.

Ibnu Sina lalu menyuruh beberapa orang mengikat tubuhnya dan menyiapkan golok yang tajam. Sambil memegang golok, Ibnu Sina mendekat dan membungkuk. Tapi ketika golok sudah menempel di leher orang tersebut, tiba-tiba Ibnu Sina berhenti.
“ Wah sayang sekali sapinya masih kurus. Ia belum pantas disembelih, “ Kata Ibnu Sina.
“Tidak, aku sudah pantas disembelih, sembelih saja aku,” kata laki-laki tadi.
“Jangan, aku tidak mau menyembelih sapi yang masih kurus, rugi tak ada dagingnya. “ Kata Ibnu Sina.
“Jadi apa yang harus aku lakukan supaya bisa gemuk dan pantas disembelih?” tanya lelaki itu.
“Kamu harus makan dan minum layaknya manusia.” Jawab Ibnu Sina.
“Tetapi janji, setelah aku gemuk kamu akan menyembelihku,” kata lelaki itu.
“Baiklah aku janji.” Kata Ibnu Sina.

Setelah itu, lelaki tersebut mau makan dan minum layaknya manusia. Kesehatannyapun berangsur-angsur pulih karena mendapat asupan makanan. Badannya sudah gemuk kembali dan tentu saja akalnya berfungsi normal lagi. Sehingga ia benar-benar sudah sembuh.

Beberapa hari berikutnya Ibnu Sina mengunjungi lelaki tersebut. Melihatnya dalam keadaan sehat dan gemuk, Ibnu Sina berkata “Wah rupanya sapinya sudah gemuk.”

Lelaki itupun kemudian menjawab, “Iya bahkan sudah pintar.” Jawabnya dengan tertawa.
Keluarga lelaki itupun sangat senang dan sangat berterimakasih pada Ibnu Sina yang telah berhasil menyembuhkannya dari penyakit jiwanya.
Itulah Ibnu Sina. Beliau bukan hanya pandai tapi juga cerdik.

Berikut ini adalah daftar karya Ibnu Sina berupa buku atau kitab yang dihasilkan :

 

  1. Al-Qanun (Aturan) 10 jilid 
  2. Al-Syifa’ (Penyembuhan atau Pengobatan) 8 jilid 
  3. Al-Isyarat (Petunjuk) 1 jilid 
  4. AL-Majmu’ (Himpunan) 1 jilid 
  5. Al-Biir wa a-l Itsm (Perbuatan baik dan dosa) 2 jilid 
  6. Al-Arshad al-Kulliyyat (Petunjuk Lengkap) 1 jilid 
  7. Al-Hashil wa Al-Mahshul (pokok-pokok) 2 jilid 
  8. An-Najad (pembebasan) 3 jilid
  9. Al-Inshaf (keputusan) 20 jilid 
  10. Al-Hidayat (petunjuk) 1 jilid

Dan berbagai kitab-kitab lainnya.

Akhir Hayat Ibnu Sina

Di akhir-akhir hayatnya beliau banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hartanya ia sumbangkan untuk fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Beliau juga gemar membaca Al Quran, bahkan 3 hari sekali ia sudah hatam Al Quran

Ia terus lakukan hal itu sampai malaikat Izrail datang. Beliau wafat di Hamadzan pada hari jum’at di bulan Ramadhan 428 H dalam usia 58 tahun. Jenazahnya dimakamkan di kota tersebut dan hingga sekarang masih ramai dikunjungi orang dari berbagai penjuru dunia.

Sungguh besar jasa Ibnu Sina bagi umat manusia. Semoga Allah SWT menerima amalnya dan mendapat balasan yang terbaik di sisi-Nya. Amin.

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon