Friday, 18 November 2016

Asal Usul Kota Tuban

Asal Usul Kota Tuban - Raden patah adalah putra majapahit. Oleh ayahnya di beri hutan glagahwangi agar di buka dan di jadikan kadipatendan di berikan nama Kadipaten Demak Bimantara. Demak semakin besar banyak kadipaten yang sebelumnya masuk wilayah Majapahit bergabung dengan Demak. Raden patah juga dapat dukungan dari para wali yang menyebar agama di Jawa. Sehingga demak menjadi semakin kuat dan besar, sehingga menjadi sebuah kerajaan.

Pada suatu ketika raden patah bahwa kerajaan majapahit di serang Giriwardhana dari kerajaan Daha. Ayah raden patah yang menjadi raja majapahit melarikan diri tak tentu rimbanya. Timbullah kemarahan raden patah untuk menyerang kerajaan dahayang telah menduduki Majapahit. Serangan raden patah segera di lakukan dengan mendapat dukungan dari para wali maka dengan mudah mengalahkan Giriwardhana.

Raden patah mengumpulkan barang berharga dan benda keramat di majapahit untuk di bawa di demak. Semua benda sudah di kemas dan di masukkan ke dalam kereta untuk di bawa ke demak. Tinggal dua batu besar yang akan di bawa ke demak, maka raden patah bertanya ke para wali "Aku ingin membawa 2 batu ini juga, coba siapa yang mau membawa dua batu besar ini? Maaf raden tentu tidak ada yang bisa membawa 2 batu besar ini ke Demak, perjalan ke demak begitu jauh kata para wali. Biarlah kami para wali meminta kepada dua burung bangau.

Maaf burung bangau!! kami butuh bantuanmu untuk membawa 2 batu ini ke demak, ku harap kalian ikhlas membantu kami. Tuhan tentu akan mencantat semua amal perbuatan kalian, kata sang wali. Sang wali pun menyuruh para prajurit meletakkan 2 batu itu di atas 2 burung bangau. Kedua burung itu pun segera terbang ke arah demak bintara.

Tibalah kedua burung itu pun di atas tanah lapang. Banyak pengembala yang sedang mengembalakan ternak. Para pengembala melihat burung bangau itu membawa 2 batu besar di punggung masing-masing. "hei lihat itu di atas,!! ada 2 ekor burung bangau yang aneh. "Benar terbangnya sangat lambat seperti jalannya kura-kura saja" kata pengembala yang lain.

Kedua bangau marah, dan segera mengepakkan sayapnya lebih cepat. Hasilnya bukan tambah cepat tetapi sayapnya semakin lemah. Kedua bangau itupun hampir meluncur jatuh karena kelelahan. Akhirnya kedua burung bangau itupun menjatuhkan kedua batu yang ada di punggungnya agar mereka tidak meluncur jatuh. Saat kedua batu itu jatuh, para pengembala berteriak "Watu Tiban (batu jatuh)!Watu tiban. Teriakan para pengembala itu di dengar oleh banyak orang, sehingga peristiwa tersebut tersebar kemana-mana dan menjadi pembicaraan banyak orang. Watu tiban pun di singkat menjadi TU-BAN,dan akhirnya daerah tersebut di namakan TUBAN.

Dua batu yang masih legenda itu masih ada, di batu itu tertuliskan tahun 1400 saka. Dan masih di simpan di halaman museum Kambang Putih tidak jauh dari alun-alun kota TUBAN dan makam Sunan Bonang.

hxxp://asal-usulkabupatentuban(.)blogspot.co.id/

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon