Thursday, 1 December 2016

Jejak Kahuripan di Lereng Gunung Pegat Babat Lamongan

Jejak Kahuripan di Lereng Gunung Pegat Babat Lamongan - Para budayawan-peneliti berdarah Lamongan “blusukan” lagi, demi cinta dan bakti mereka terhadap tanah leluhur yang sejarahnya disia-siakan terlalu lama. Mereka ialah Viddy Ad Daery, Sufyan Al-Jawi yang kali ini disertai Mat Rais dan Jumartono serta Ahmad Fanani Mosah dari LKL (Lembaga Kebudayaan Lamongan), dan kini mengarahkan penelitiannya ke tanah tinggi di lereng Gunung Pegat, Babat, ke sebuah desa yang bernama Kuripan, sebelah timur desa Puncak Wangi. Hal itu merupakan langkah lanjutan “meneliti jejak Mahapatih Gajah Mada di masa mudanya”, dimana temuan-temuan di lapangan semakin mengukuhkan teori yang berdasarkan folklore dari desa Modo dan sekitarnya, bahwa “Gajah Mada adalah kelahiran Modo dan sekitarnya”.
Jejak Kahuripan di Lereng Gunung Pegat Babat Lamongan


“Nama Kuripan itu menarik hati kami, karena merupakan toponimi atau pergeseran nama dari Kahuripan, dan menurut catatan arkeologi, sebelah desa Kuripan, yakni desa Puncak Wangi pernah ditemukan prasasti dan benda-benda kuno, maka kami menduga desa Kuripan pernah menjadi desa penting di masa lalu.” Kata Viddy Ad Daery yang bertindak sebagai juru-bicara tim peneliti tersebut.

“Ketika kami mendatangi lokasi desa Kuripan memang ada “aura” desa kuno, yakni tata desanya yang sederhana tapi rapi, yakni ada perempatan sebagai pusat desa, lalu dari situ rumah-rumah berjajar-jajar. Beberapa rumah juga masih tampak berciri kuno, yakni rumah limas atau rumah bucu kalau mewah”.Simpul Sufyan Al-Jawi, seorang Arkeolog-numismatik.

“Dalam prasasti disebutkan, bahwa vassal atau kerajaan bawahan Majapahit antaralain adalah Kahuripan dipimpin Bre Kahuripan dan Kabalan dipimpin Bre Kabalan. Nah, coba lihat, posisi Kuripan ini berseberangan dengan desa Kabalan (kini Kebalan Dono) nun disana, jadi pasti Kuripan ini dulunya mempunyai posisi sepenting Kabalan !” simpul Viddy pula.

Jumartono yang bertugas sebagai fotografer juga menyatakan, bahwa bulukuduknya merinding ketika memasuki desa Kuripan. “Aroma desa kunonya sangat kuat.” Kata pelukis yang kini menekuni art-fotografi itu.

Tim berhasil mewawancarai dua orang narasumber, yaitu Sutrisno yang rumahnya berada di dekat perempatan desa lama, dan H.Sulanan yang merupakan kyai desa. Sutrisno menuturkan kisah folklore yang berharga, bahwa dulunya desa Kuripan disebut “Tanah Majapahit”. “Orang-orang tua kami bertutur, bahwa di zaman Belanda dulu, konon Belanda tidak berani membeli tanah Kuripan karena merupakan “Tanah Majapahit” yang dikeramatkan”, tuturnya.

Sutrisno juga menuturkan, bahwa sungai di sebelah rumahnya dulu merupakan sungai yang agak besar dan membelah Gunung Pegat. “Jadi, orang-orang menyebut Gunung Pegat itu sebetulnya berasal dari sungai ini yang membelah Gunung…kalau jalan raya yang membelah Gunung Pegat sekarang itu kan baru dibangun oleh Belanda, jadi di zaman Majapahit, jalan raya itu belum ada.” Jelas Sutrisno.

Ketika ditanya mengenai bekas-bekas Istana Kerajaan , Sutrisno menuturkan bahwa konon dulu pernah ditemukan pondasi istana, tapi sekarang sudah hilang atau tertutup tanah, namun situs kuburan tua masih ada di Kuripan.Sebetulnya yang lebih fasih berkisah adalah Pak Haji Sulanan…” Kata Sutrisno memberi informasi lebih lanjut.

PERJALANAN ZAMAN

Sementara itu, H.Sulanan memberi informasi mengenai “kisah tutur nenek moyangnya”, bahwa desa Kuripan atau Kahuripan dulunya adalah “Desa Majapahit sampai zaman Prabu Brawijaya”, dengan jalan keluar-masuk desa mengarah ke barat atau ke arah desa Puncak Wangi.

“Namun semenjak zaman Prabu Brawijaya, desa diperluas ke arah utara, karena desa dari arah barat diserang oleh Kerajaan Blambangan dan dibumihanguskan. Arah utara masa kini adalah menyambung ke desa Payaman, desa Gendong, selanjutnya ke Plaosan tembus jalan raya Babat-Kabalan”, kisah H.Sulanan yang berprofesi petani merangkap kyai desa.

Perjalanan zaman adalah “up and down”. Selanjutnya, menurut H.Sulanan, di zaman akhir Majapahit, Payaman justru lebih maju daripada Kuripan, maka Payaman menjadi Kademangan, yang meliputi kelurahan Kuripan, Payaman, Sogo, Bedahan, Plaosan, Gembong, Terpan, Datinawong, Kepoh dan Awar-awar.

Menurut H.Sulanan, Demang yang paling terkenal adalah Adi Taruna yang merupakan kakek buyutnya. Pada zaman kejayaan Kademangan Payaman, Sunan Ampel sempat mampir ke situ untuk berdakwah, karena itu di Payaman ada kuburan Ngampel, yang kemungkinan adalah makam beberapa santri Sunan Ampel.

“Dulu, bengawan Solo kan mengalirnya ke selatan dari Bedahan ke Terpan, jadi Sunan Ampel konon mendarat atau melabuhkan perahunya di Terpan lalu mendaki bukit ke desa Kademangan Payaman.”kisah H.Sulanan yang kini berusia 66 tahun.

Kini, rupanya roda berputar lagi, dan Payaman kembali menjadi padukuhan, sedang Kuripan alias Kahuripan naik status lagi menjadi Kelurahan.

Menurut Ahmad Fanani Mosah, budayawan Babat anggota LKL, dari kisah sejarah desa Kuripan dan Payaman itu, sudah menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan desa penting di zaman Majapahit awal sampai Majapahit akhir. “Bahwa kini desa itu menjadi desa kecil terisolir di pedalaman wilayah Babat, lha begitu itulah perputaran roda zaman.” Simpul guru SMPN 3 Babat tersebut.

Dalam catatan sejarah resmi disebutkan , bahwa Kahuripan adalah wilayah vassal Majapahit paling penting , karena setiap putra mahkota dijadikan bre atau pimpinan di Kahuripan. Tribuana Tungga Dewi sebelum jadi Ratu Majapahit adalah Rani Kahuripan . Demikian juga Hayam Wuruk sebelum diserahi mahkota Raja Majapahit juga di”raja-muda”kan sebagai Bre Kahuripan.
“Bahkan yang menarik, Gajah Mada sebelum diangkat menjadi mahapatih Majapahit , di”tatar” dulu oleh Ratu Tribuana Tungga Dewi , ditugasi menjadi Patih Kahuripan , setelah matang , baru dipindah menjadi Patih Kediri, wilayah “musuh dalam selimut” Majapahit , dan setelah siap sebagai politikus yang matang, baru diangkat menjadi Mahapatih Majapahit!” simpul Viddy yang memandang dari sudut politik , karena Viddy kini juga terjun ke politik praktis masuk anggota Partai Politik tertentu , yang masih mempunyai visi idealis dan belum tercemar dosa korupsi dan belum pernah mengkhianati bangsa.

Sumber : kompas.com dan lamongan kota blogspot com

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon