Thursday, 9 February 2017

Tumbuhkan Sisi Kewanitaan Sampean

Antara Ajaran Islam dan Budaya Arab - Sedang merapikan di laptop namun tidak sengaja menemukan file yang berjudul "TUMBUHKAN SISI KEWANITAAN SAMPEAN" dalam bentuk file MS Word. Saya buka dan baca isinya. Dan isinya menarik untuk di share di blog ini. Entah dari mana artikel ini, saya pun lupa dari mana. Karena tidak terdapat sumber atau referensi namun isinya bagus dan tidak mengada-ada. Apa saja isinya ? Silakan di baca dan di share ya.

Tumbuhkan Sisi Kewanitaan Sampean
 Gambar Hanya Pemanis Buatan


TUMBUHKAN SISI KEWANITAAN SAMPEAN


"Tumbuhkanlah sisi kewanitaan sampean. Sebagaimana Gusti Kanjeng Nabi dengan segala kelembutannya. Di tengah budaya keras dan kakunya masyarakat Timur Tengah, beliau hadir dengan sebaliknya. Mungkin karakter Gusti Kanjeng Umar bin Khattab bisa dijadikan patokan karakter Timur Tengah kebanyakan. Ada masalah, selesaikan dengan pedang, kalau memang sudah tidak bisa dibicarakan. Satu tetua saja mengatakan tumpahkan darah dalam rapat suku, maka seluruh suku pun akan menjunjung pedang. Lantas Gusti Kanjeng Nabi mengenalkan metode baru, musyawarah mufakat. Sebagaimana tertera dalam Pancasila kita, salah satu asas Bhinneka Tunggal Ika yang tertera dalam hukum tertulis Kerajaan Majapahit.

Bukankah dalam sekian puluh tahun saja kultur budaya masyarakat Arab berubah? Terutama setelah beliau memenangkan Mekkah dari tangan para petinggi Quraisy dengan cara yang sangat lembut. Ingat kan peristiwa Fathu Makkah itu? Dengan prajurit yang berkali lipat dari jumlah tentara Mekkah, Gusti Kanjeng Nabi sama sekali tidak ingin meluluhlantakkan penduduk negeri yang telah menindasnya, telah berusaha membunuh beliau berkali-kali. Malahan, beliau mengutus paman beliau yang baru masuk Islam, Abu Sufyan, untuk menjadi negoisator kepada penduduk Makkah. Akhirnya, dicapailah beberapa poin itu, bahwa yang masuk ke dalam rumah mereka masing-masing, atau rumah Abu Sufyan, akan dimaafkan masa lalunya yang menyakiti Gusti Kanjeng Nabi. Sedang bagi mereka yang mengacungkan pedang akan diselesaikan sesuai aturan pedang.

Nyatanya, penaklukan negeri Mekkah itu tidak menjadi hari banjir darah. Hanya beberapa tentara Mekkah yang melawan dan kalah oleh tentara dari Madinah. Inilah penaklukkan terhalus dalam sejarah peradaban, terutama setelah tunduknya Ratu Bilqis terhadap Gusti Kanjeng Nabi Sulaiman. Bandingkan dengan penaklukan ala Kerajaan Romawi, Kerajaan Persia, Bangsa Mongol, atau Bangsa Viking. Jauh, sangat jauh perbedaannya. Bahkan dibandingkan dengan Kerajaan Romawi yang membawa bendera agama dalam memperluas kekuasannya.

Pun ketika Mekkah sudah menjadi negeri tanpa berhala patung, Gusti Kanjeng Nabi lantas mengirim surat ajakan berdamai kepada para Raja-Raja di seantero dunia. Bahkan Heraclius pun terpukau karena baru sekali itu ada Raja baru yang dengan beraninya mengiriminya surat dan mengajak damai. Karena tersinggung, Kerajaan Romawi pun mengirim ratusan ribu prajuritnya ke Yerussalem, salah satu benteng terdepannya. Konon, surat ini pun sampai di Kerajaan Sriwijaya, jangan tanya bukti, percaya tidak percaya, begitu adanya.

Bukankah Gusti Kanjeng Nabi tidak pernah memaksa orang masuk Islam? Bahkan kepada Raja Ethiopia yang beragama Nasrani, beliau menawarkan perdamaian dan bukannya ajakan pemurtadan terhadap agamanya. Bahkan Raja Ethiopia pun mengijinkan pengungsi Mekkah pada awal-awal kenabian. Saat tidak ada siapapun yang mau menerima pengungsi ini. Para tetua Mekkah pun kebakaran jenggot, yang lantas mengutus diplomat terbaiknya, Kanjeng Amru bin Ash, untuk melobi Raja Ethiopia agar menolak para pengungsi itu.

Untuk memuluskan lobi tersebut, cara yang digunakan persis seperti Ratu Bilqis, mengirim barang-barang berharga dengan harapan meluluhkan hati Raja yang terkenal bijak itu. Tapi hasilnya nihil, meski Kanjeng Amru bin Ash ini adalah sahabat dekat Raja Ethiopia itu. Alasan raja tersebut? Karena kedatangan Gusti Kanjeng Nabi sudah diprediksi hadirnya di dalam Injil yang dianut sang raja, dan sang raja pun melihat kesamaan antara kisah Gusti Kanjeng Nabi Isa dan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad. Oleh karenanya, Kanjeng Amru bin Ash pun pulang dengan tangan kosong, yang lantas disambut senyum sinis para tetua Mekkah.

Tidak ada kekakuan, kekerasan, dalam ajaran Gusti Kanjeng Nabi. Bahkan ditegaskan dalam Quran, la iqraha fiddin, tidak ada paksaan dalam beragama. Perang sebelum Penaklukan Mekkah adalah perang melawan penindasan. Itu pun bukan Gusti Kanjeng Nabi yang memulai. Tapi para tetua Mekkah dengan aliansi suku seantero Arab yang ingin membunuh Gusti Kanjeng Nabi dan ajaran lembutnya. Bukankah saat gigi beliau tanggal dan berdarah saat dilempari batu oleh anak-anak kecil di Thaif, yang beliau doakan adalah hidayah bagi para penerus Thaif itu? Padahal Malaikat Jibril menawari pilihan untuk menimpa Thaif dengan gunung-gunung di sekitarnya. Pun dengan penuh welas kasihnya, Gusti Kanjeng Nabi tidak pernah marah pada paman-pamannya yang ingin membunuhnya. Mereka semua dimaafkan begitu saja, tanpa penjara, tanpa siksaan, tanpa balasan apapun. Betul-betul dilepaskan begitu saja. Beberapa puluh tahun lalu, Mbah Nelson Mandela pun mencontoh perilaku ini, memaafkan mereka yang telah memenjarakannya berpuluh tahun itu. Tanpa hukuman sedikit pun. Di negeri ini? Ya sampean sudah tahu sejarahnya, kan? Wong teman seperjuangan saja diasingkan, dijebloskan ke penjara, dibunuh, bahkan dihapus kebaikan dan jasanya pada negara di garis sejarah negara.

Lantas, kenapa sampean ingin berdakwah dengan jalan keras? Dengan pentungan, pedang, senapan, bahkan pemboman? Mau mencontoh cara di tanah suci Palestina? Lha mereka itu membela diri, alasan mereka berperang ya melindungi negerinya, keluarganya. Persis seperti yang dilakukan Gusti Kanjeng Nabi saat sudah hijrah ke Madinah. Melindungi tanah airnya.

Lha sampean berbuat keras di negeri ini untuk apa? Wong negerinya damai begini, tenang begini, malah sampean yang kemungkinan besar mengompori bentrok-bentrok yang ada. Lha tujuan sampean beragama itu apa? Untuk mencapai kedamaian, seperti yang Gusti Kanjeng Nabi ajarkan di Madinah, atau malah ingin berperang terus sebagaimana para tetua Mekkah?

Coba bercermin, sampean itu di pihak mana niatnya. Jangan-jangan sampean pakai celana cingkrang, ke mana-mana pakai jubah lebar, melarang cukur jenggot, mewajibkan cukur kumis, malah mendekati ke para tetua Mekkah waktu itu, Abu Jahal dan Abu Lahab Cs. Mementingkan penampilan dari tujuan. Tidak bisa membedakan mana budaya, mana ajaran agama. Jangan-jangan sampean menghindari memakai baju kebesaran, dan memotong kain demi menghindari kesombongan, justru terjebak dalam kebesaran dan kesombongan itu sendiri.

Gusti Kanjeng Umar pun pernah menegur seorang ahli ibadah yang berpakaian lusuh dan buruk, 'sampean itu sombong dengan kesederhanaan, dan Gusti Kanjeng Nabiku tidak pernah mengajarkan memamerkan kesederhanaan. Rawatlah diri sampean, aku tidak ingin melihat seorang bangga dengan kezuhudannya.'

Coba tanya dengan jujur ke hati sampean, tujuanmu memakai baju agama itu apa? Untuk kepentingan siapa? Untuk meniru perilaku santun, lembut dan penuh kasih Gusti Kanjeng Nabi atau demi kesombongan sampean sendiri? Cobalah sekali-kali resapi arti rukukmu, sujudmu, dan wudlumu itu. Sudahkah sampean seperti yang agama sampean ajarkan?" Jawab Mbah Surip pada tanya seorang pemuda yang sedang rajin berjamaah di langgarnya.

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon