Thursday, 2 March 2017

Gus Mus : “Gus Dur yang Saya Kenal”

Gus Mus : “Gus Dur yang Saya Kenal”  - Salah satu hal yang menarik dari Mas Dur, waktu itu kemana pun dia pergi, di tangannya selalu ada buku bacaan. Seringnya buku novel bahasa Inggris, atau paling tidak majalah (dia selalu baca Times atau Newsweek dan The Economics). Dan dia membaca buku tanpa memandang tempat dan waktu. Di ruang bioskop, di terminal, bahkan ketika berdiri di atas bus, dia bisa asyik membaca tanpa menghiraukan kanan-kiri.

Gus Mus : “Gus Dur yang Saya Kenal”


Bahkan saya –yang berjalan bersamanya— sering dianggap tidak ada ketika dia sedang asyik membaca. Sering kali saya harus menunggu seperti orang bloon, sampai dia berhenti membaca. Sehubungan dengan ini, saya harus berterima kasih kepadanya. Sebab, kemudian saya –tidak mau rugi— kemana-mana saya pun membawa buku bacaan. Jika dia membaca, saya –tidak harus bloon sendiri—juga membaca.

Selama bergaul di Mesir, saya rasa bukan saya saja yang merasakan keistimewaan Mas Dur, khususnya tentang kecerdasan dan kelincahan berpikirnya. Tapi mungkin jarang yang menyadari keistimewaannya dalam memperhatikan, menganalisis dan merekam banyak hal. Sebagai misal, dari mendengarkan pembicaraan saya yang sambil lalu tentang keluarga dan kampung halaman saya Rembang, mungkin dirangkum dengan cerita-cerita dari kawan-kawan lain yang juga dari Rembang, Mas Dur bisa cerita tentang Rembang persis seperti orang Rembang sendiri, lengkap dengan nama-nama tempat dan tokoh-tokoh yang pernah saya ceritakan.
Beberapa bulan sebelum meletusnya G 30-S, dia datang ke kamar saya di asrama. Waktu itu, saya anggap dia sedang meracau saja. Sebab, waktu itu Bung Karno masih jaya-jayanya, dan dia berbicara soal kemungkinan-kemungkinan adanya perebutan kekuasaan. “Nggak tahu mana yang akan menang nanti.” Katanya waktu itu. “Entah tentara atau PKI?” Kemudian panjang lebar, dia menguraikan kemungkinan bila salah satunya menguasai Indonesia.

Ketika banyak cerita bahwa Gus Dur dalam forum-forum diskusi, sering tidur ketika penceramah berbicara, tapi dia tetap bisa mengikuti dan bisa menanggapi pendapat penceramah yang bersangkutan, saya sendiri berpendapat hal ini –bila benar— bukan lah karena tokoh yang kini jadi presiden itu mempunyai semacam “indera keenam”. Menurut saya –wallahu a’lamu— hal ini lebih dimungkinkan karena ketajaman perhatian, analisis, dan rekamannya itu tadi. Maksud saya, kemungkinan besar, sebelum datang ke forum diskusi, Gus Dur sudah memutar rekamannya tentang apa saja yang berkaitan dengan forum tersebut, termasuk para narasumber yang akan berceramah, sehingga sudah dapat mengira-ngira apa yang akan diakatakan si A atau si B dalam forum semacam itu.

Bersamaan dengan perjalanan waktu, seperti juga banyak orang lain, Mas Dur mengalami banyak perubahan. Misalnya, dulu dia sangat necis dan parlente seperti almarhum Ayahnya (saat ini memang lebih necis dan parlente lagi, tapi saya kira karena terpaksa). Pakaiannya selalu licin, dia setrika sendiri. Kalau tidak salah, Mas Dur mulai berubah dalam hal ini, sejak menjadi ketua DKJ (Dewan Kesenian Jakarta).

Dulu, dalam pergaulan, Mas Dur sangat hangat dan sabar meladeni kawan-kawan hingga yang paling bebal sekalipun. Saya hampir tidak pernah melihatnya marah-marah. Telaten mendengarkan orang berbicara, dan dia sendiri ketika berbicara selalu jelas. Dia selalu bisa menerangkan hal-hal yang sulit dengan bahasa yang mudah diterima, dan jarang sekali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menimbulkan perdebatan. Kalau tidak salah, Mas Dur mulai berubah dalam hal ini, sejak menjadi ketua PBNU.

Yang, menurut saya, tidak pernah berubah dari Mas Dur –selain sifat kesetiakawanan dan humornya—adalah komitmennya terhadap penegakan demokrasi dan obsesinya tentang kejayaan bangsanya.

Oleh: KH Mustofa Bisri

source : gus dur files com

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon