Monday, 3 July 2017

Syekh Abul Fadhol As Senory At Tubani, Ulama Nusantara Asal Tuban

Syekh Abul Fadhol As Senory At Tubani, Ulama Nusantara Asal Tuban - Ada satu ulama Nusantara yang kapasitas keilmuannya sangat luar biasa, mampu mengarang beberapa kitab dengan bahasa Arab yang sangat sempurna. Beliau adalah Kiyai Abul Fadhol bin Abdul Syakur, berasal dari Senori Tuban (Jawa Timur). Menjadi guru utama (‘Umdah) bagi ulama-ulama besar seperti Kiyai Sahal Mahfuz, Kiyai Maimoen Zubair, Kiyai Faqih Langitan, Kiyai Hasyim Muzadi, Kiyai Muhibbi (Ayahanda Gus Milal Bizawie), dan lain-lain.

Syekh Abul Fadhol As Senory At Tubani, Ulama Nusantara Asal Tuban


Bapaknya, Kyai Abdus Syakur, merupakan sahabat dekat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Jalur keturunannya bersambung hingga Mbah Sambu Lasem sampai Joko Tingkir.

Kyai Abul Fadhol ini merupakan ulama yang sangat luas pengetahuan ilmu agamanya. Walaupun semasa hidupnya belum pernah belajar di Haramain, tapi berkat ketekunan dan kedisiplinannya dalam belajar, beliau bisa menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan menjadi ulama yang sangat zuhud.

Kiai Abul Fadhol juga dikenal sebagai seorang Sufi zuhud. Hal ini tampak dalam keseharian beliau yang sangat sederhana dan bersahaja. Saking sederhananya, ketika ta’ziyah dalam wafatnya KH. Zubair Dahlan (ayahanda KH.Maimoen Zubair), tidak ada orang yang mengenalnya.

Songkok hitam yang dipakainya tidak lagi hitam tapi telah berubah warna menjadi merah. Baju yang dikenakan lusuh, hingga orang lain acuh memandangnya. Orang-orang baru tahu kalau itu adalah Kiai Abul Fadhol setelah Mbah Maimoen Zubair menyambutnya dengan mencium tangan Kiai Abul Fadhol dan menempatkannya pada tempat yang layak.

Inilah seklumit kisah nyata kehidupan Kyai Abul Fadhol, beliau mengajarkan kepada kita hidup sederhana dan bersahaja. Beliau tidak terseret arus modernisasi yang cenderung menyesatkan. Dan juga dengan keilmuan beliau yang mumpuni, beliau jadi washilah lahirnya para ulama Aswaja Nusantara yang sangat disegani.

Sanad Keilmuan Kiai Abul Fadhol 

Menurut Ahmad Ginanjar Sya’ban, salah satu hal yang paling romantik dalam tradisi intelektual hubungan guru-murid adalah ketiak seorang murid mensarah kitab karya gurunya. Untuk menelusuri sanad keilmuan Kiai Abul Fadhol, bisa dibaca dalam kitab Faidhul Hija’ karya Mbah Sahal Mahfuzh Kajen Pati.

Salah satu guru kiai Abu Fadhol adalah kiai Faqih Maskumambang (w. 1930 an), kemudian pernah berguru kepada Syekh Muhammad Baghir bin Al-Jughjawi al-Makki. Muhammad Baghir ini adalah Ulama hadits dari Jogja dan pernah mengajar di Mekkah. Di Mekah, beliau berguru kepada Syekh Mahfuz Termas.

Pernah belajar juga pada Syekh Abu Bakar Syatho’ Ad-Dimyati al-Makki (Pengarang I’anatut Thalibin ala Sarah Fath’il Mu’in). Syekh Abu Bakar Syatho’ Ad-Dimyati ini belajar pada Syekh Ahmad Zaini Dahlan – Syekh Usman bin Hasan Ad-Dimyati – Syekh Abdullah Asy-Syarkawi – al-Uztad Muhammad bin Salim Al-Hafni.

Jika diteruskan, sanad keilmuannya sambung sampai Ibnu Umar dan Kanjeng Nabi Muhammad saw. Berikut urutan lengkap sanad Kiai Abul Fadhol yang disusun oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban :





Karya-Karya Syekh Abul Fadhol As Senory At Tubani, Ulama Nusantara Asal Tuban 


Kiai Abul Fadhol sangat ahli di bidang bahasa Arab dengan berbagai seluk beluknya. Bahasa arabnya sempurna, retoris dan mempunyai nilai sastra tinggi. Salah satu kitab yang menjadi rujukan dunia Islam dalam bidang sejarah adalah kitab berjudul Ahla Musamarah fi Hikayat Auliya’ ‘Asyrah,  tentang hikayat wali 10 (Wali Songo + Syekh Siti Jenar), menyoroti tentang faktor utama keberhasilan dakwah wali 10 dalam mengislamkan masyarakat Nusantara yang kala itu mayoritas beragama Hindu/Budha. Di kitab tersebut juga dijelaskan bagaimana masuknya Islam di Nusantara dan bagaimana bersentuhan dengan kerajaan-kerajaan pada waktu itu.

Karya-karya yang lain adalah Kitab Kifâyah al-Thullâb, merupakan kitab nazham (puisi) karangan Kiai Abul Fadhol dari Senori, yang menghimpun teori-teori qawâid fiqhiyyah (filsafat yurisprudensi Islam/ Islamische Rechtsmaximen). Disarikan dari kitab rujukan utama dunia Islam dalam bidang tersebut, yaitu al-Asybâh wa al-Nazhâir fî Qawâ’id wa Furû’ Fiqh al-Syâfi’iyyah (dikenal dengan al-Asybâh wa al-Nazhâir) karya Syaikhul Islam Jalâluddîn al-Suyûthî (w. 1505 M). Nazham Kifâyah al-Thullâb ditulis dalam bahr (metrum puisi Arab) “rajaz”.

Kitab Kifâyah al-Thullâb disyarh oleh KH. Muhibbi Hamzawi dari Kajen lahirlah kitab Hidâyah al-Thullâb (Diterbitkan oleh Pustaka Compass, 2016). Kiai Muhibbi juga murid dari Kiai Abul Fadhol Senori dan terhitung sebagai sepupu al-‘Allamah KH. Sahal Mahfuz, Rois Syuriah PBNU 1999-20014 yang juga pengarang kitab “Tharîqah al-Hushûl (hâsyiah) ‘alâ Ghâyah al-Wushûl (syarh) ‘alâ Lubb al-Ushûl” yang saat ini menjadi salah satu rujukan kajian ushul fiqih dunia Islam.

Kitab lain dari karya Kiai Abul Fadhol adalah , Kasfifuttabarih fi sholatittaroweh. Dalam pendahuluan kitab ini disebutkan “ada sebagian saudara kita yang mengatakan kalau tarawih 20 rakaat itu adalah bid’ah , yang benar 8 rakaat” bahasanya kelihatan sopan sekali. Akhirnya kiai ABul Fadhol mencari dalilnya dan menemukan bahwa 20 atau 8 rakaat sama-sama ada dalilnya. Selain itu, Kiai Abu Fadhol juga mengarang kitab berjudul Tashilul Masalik fi Syarah Alfiyah Ibnu Malik 3 juz.

Itulah gambaran yang cukup singkat tentang tokoh Ulama Intelektual Kiai Abul Fadhol Senori Tuban. Walaupun ketokohan, kealiman dan kezuhudan beliau begitu kuat, tetapi banyak yang tidak tahu sejarah dan karya-karyanya. Rumahnya sangat sederhan dan sampai sekarang, makamnya juga terlihat tidak terurus.

Semoga di generasi ini ada yang memugar makam Kiai Abul fadhol dan menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata religi dan intelektual Ulama Nusantara.

**Resume dari Pemaparan Ahmad Ginanjar Sya’ban dalam “Kajian Turat Ulama Nusantara” di Islam Nusantara Center (INC) Tangsell, Sabtu 01/04. Tema : “Kiai Abul Fadhol Senori, Mutiara Intelektual Nusantara yang Terlupakan”.

By : Denny Fajar Subekti (Aktivis NU Temanggung/ Peserta rutin kajian Turats INC)

Sumber : http://pustakacompass.com

Aku tak sebaik yang kau ucapkan tetapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu (Ali Bin Abi Tholib)


EmoticonEmoticon