Thursday, 24 May 2018

Memanfaatkan Yang Gratis Untuk Berdakwah

Memanfaatkan Yang Gratis Untuk Berdakwah - Saat ini teknologi telah mampu merubah yang biasanya rumit menjadi mudah. Misalnya saja dahulu untuk berkirim surat harus melalui Pos, namun sekarang ada email. Ada pula WhatsApp yang mampu mengirim dokument, foto dan lainnya yang mana hal ini sangat membantu kita. 

Dan untuk bisa menikmati kecanggihan teknologi ini tidaklah butuh dana yang banyak. Dengan uang ratusan ribu saja kita bisa memiliki smartphone dengan fitur yang canggih dan bisa membantu kita dalam aktifitas harian. Apalagi perkembangan sosial media saat ini yang mana membuat orang berbondong-bondong memasuki dunia internet yang tanpa batas. 

Memanfaatkan Yang Gratis Untuk Berdakwah


Kecanggihan teknologi saat ini memang memiliki sisi positif. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk hal dakwah. Dakwah menggunakan internet memang efektif. Coba saja kita lihat di sosial media instagram, banyak ustad dan dai yang menjadi terkenal akibat videonya sering di share di sosial media. 

Hal ini harusnya digunakan juga oleh pondok pesantren yang ada di Indonesia. Dengan memanfaatkan teknologi kita bisa mengenalkan dunia pesantren seperti apa. Dan juga kita bisa berbagi ilmu di internet. Misalnya saja membuat radio online dan TV online. 

Untuk membuat radio online dan TV Online mudah kok. Coba saja cari di google bagaimana cara membuat radio online. Untuk TV Online malah sangat mudah sekali, tidak usah kita membeli ini itu. Cukup daftar saja kita bisa berdakwah di internet, caranya menggunakan fitur gratis di sosial media yakni YOUTUBE DAN INSTAGRAM. Dengan instagram dan Youtube kita menyiarkan secara langsung bagaimana pengajian itu berlangsung. Kenapa menggunakan Youtube ? Alasannya adalah mudah dan simpel, gratis dan juga mudah ditonton oleh banyak orang. Karena pada umumnya masyarakat sudah mengenal youtube sebagai media yang dapat menampilkan video atau bahkan siaran langsung. 

Coba kita lihat TV Nasional sekelas NET TV dan Kompas saja bisa live di youtube, yang dari Pesantren harusnya mencontoh hal ini sebagai sarana dakwahnya. Apalagi instagram yang  popular di kalangan remaja. Remaja yang banyak follower instagramnya dan menyiarkan pengajian langsung, tentunya bermanfaatkan bukan ?

Dalam hal tulisan pun seharusnya kalangan pesantren bisa memanfaatkan internet sebagai sarana dakwah. Menulis artikel yang bermanfaat, misalnya tentang hukum fiqih, kajian hadist, Al Quran dan lainnya. Untuk menulis artikel bisa dengan sistem layaknya organisasi, cukup satu website saja dan penulisnya bisa banyak. Bagi yang sudah paham dunia website mungkin akan paham ini. Hal ini tujuannya agar website yang berisi ilmu dari pesantren yang menulis tidak hanya satu orang saja. Karena terkadang seseorang ahli dalam hal fiqh namun belum tentu paham ilmu lainnya. 

Semoga saja ke depan ada banyak pesantren yang aktif di dunia internet. Karena saya sendiri setiap hari browsing dan saya perhatikan banyak pesantren kurang paham hal ini. Mungkin di anggap remeh, padahal zaman sekarang zaman teknologi. Pendaftaran di kota bisa menggunakan cara online, kapan pesantren bisa daftar secara online ? Apalagi pesantren yang sudah memiliki lembaga pendidikan dalam teknologi seperti SMK misalnya, harusnya mereka memanfaatkan ilmu yang dipelajari sebagai sarana dakwah. Semoga bermanfaat. 

Monday, 2 April 2018

SEJARAH SHOLAWAT BADAR YANG DISUSUN OLEH KH. ALY MANSHUR SANTRI PESANTREN LIRBOYO

SEJARAH SHOLAWAT BADAR YANG DISUSUN OLEH KH. ALY MANSHUR SANTRI PESANTREN LIRBOYO
SEJARAH SHOLAWAT BADAR YANG DISUSUN OLEH KH. ALY MANSHUR SANTRI PESANTREN LIRBOYO


Shalawat Badar berisi pujian-pujian kepada Rasulullah Saw. dan Ahli Badar (para sahabat yang mati syahid dalam perang Badar). Berbentuk syair, dan dinyanyikan dengan lagu khas. Shalawat ini digubah oleh Kiai Ali Mansur, salah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember, pada tahun 1960. Kiai Ali Mansur saat itu menjabat kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi ketua PCNU di tempat yang sama. Proses terciptanya shalawat ini penuh dengan misteri dan teka-teki.

KH. Ali Mansur Siddiq terinspirasi dari sebuah kitab yang berjudul Mandzumah Ahl al-Badar al-Musamma Jaliyyat al-Kadar fi Fadhail Ahl al-Badar karya al-Imam as-Sayyid Ja’far al-Barzanji. Dan sebelum menulis syair shalawat Badar Kiai Ali bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih bersorban hijau.

Pada suatu malam, Kiai Ali tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena memikirkan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU. Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani membunuh kiai-kiai di pedesaan. Karena memang kiailah pesaing utama PKI di tempat itu.

Sambil terus merenung, Kiai Ali terus memainkan penanya di atas kertas, menulis syair-syair dalam Bahasa Arab. Dia memang dikenal mahir membuat syair sejak masih belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri. Kegelisahaan Kiai Ali berbaur dengan rasa heran, karena malam sebelumnya dia bermimpi didatangi para habib berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena pada saat yang sama istrinya mimpi bertemu Rasulullah Saw.

Keesokan harinya mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi menjawab, “Ya Akhiy, itu Ahli Badar!” Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair, yang kemudian dikenal dengan Shalawat Badar.

Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang ke rumahnya sambil membawa beras, daging dan lain sebagainya, layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu. Mereka bercerita, bahwa pada pagi-pagi buta pintu rumah mereka didatangi orang berjubah putih yang memberitahukan di rumah Kiai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membatu. Maka mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya.

“Siapa orang yang berjubah putih itu?” pertanyaan itu terus mengiang dalam benak Kiai Ali tanpa jawab. Namun malam itu banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa.

Pagi-pagi sekali menjelang matahari terbit, serombongan habaib berjubah putih-hijau dipimpin Habib Ali bin Abdurrrahman al-Habysi dari Kwitang, Jakarta, datang ke rumah Kiai Ali Mansur. “Alhamdulillah…” ucap Kiai Ali ketika melihat rombongan yang datang adalah para habib yang sangat dihormati keluarganya.

Setelah berbincang basa-basi sebagai pengantar, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menguntungkan, Habib Ali menanyakan topik lain yang tidak diduga Kiai Ali, “Ya Akhiy, mana syair yang Ente buat kemarin? Tolong Ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!”

Tentu saja Kiai Ali terkejut, sebab Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam. Namun ia memaklumi, mungkin itulah karomah yang diberikan Allah kepadanya. Sebab dalam dunia kewalian, pemandangan seperti itu bukanlah perkara yang aneh dan perlu dicurigai.

Segera saja Kiai Ali mengambil kertas yang berisi shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya di hadapan mereka. Kiai Ali juga memiliki suara yang bagus. Di tengah alunan suara shalawat Badar itu para habib mendengarkannya dengan khusyuk. Tak lama kemudian mereka meneteskan air mata karena haru.

Di dalam kunjungan tersebut tercatat dalam buku kecilnya Kiai Ali, kejadian tersebut pada hari Rabu pagi tanggal 26 September tahun 1962 jam 8 pagi. Pada kesempatan itu dibacakan Maulid al-‘Azab dan ceramah agama. Diantara yang memberikan ceramahnya adalah Habib Ali al-Habsyi Kwitang, Habib Muhammad bin Ali al-Habsyi Kwitang dan Habib Salim Bin Jindan.

Di dalam rombongon tersebut ikut diantaranya Habib Ali bin Husein Alattas Bungur, Habib Ahmad bin Ghalib al-Hamid Surabaya, Habib Umar Assegaf Semarang dan banyak lagi yang lainnya para pembesar ulama pada waktu itu.

Selesai mendengarkan shalawat Badar yang dikumandangkan Kiai Ali Mansur, Habib Ali segera bangkit. “Ya Akhi! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan shalawat Badar!” serunya bernada mantap. Setelah Habib Ali memimpin doa, lalu rombongan itu memohon diri. Sejak saat itu terkenallah shalawat Badar sebagai bacaan warga NU untuk membangkitkan semangat melawan orang-orang PKI.

Untuk lebih mempopulerkannya, Habib Ali mengundang para habib dan ulama termasuk Kiai Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi, paman Kiai Ali Mansur, ke Jl. Kwitang, Jakarta. Di waktu itu pula Habib Ali meminta Kiai Ali untuk kembali membacakan sholawat Badar di hadapan jamah yang hadir. Sehingga membuat shalawat Badar menjadi masyhur tersebar luas di mana-mana, apalagi shalawat tersebut setelahnya selalu dibaca di awal majelisnya Habib Ali al-Habsyi Kwitang.

Setelah itu Habib Ali al-Habsyi meminta kepada para muridnya untuk mencetak teks shalawat tersebut dan dibagi-bagikan kepada para jamaahnya. Dicetak pertama kali di Percetakan Alaydrus Jakarta. Dan hingga saat ini sholawat Badar berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat Jakarta, Jawa, dan seluruh Nusantara bahkan penjuru Dunia.

Teks Shalawat Badar

صَـلَاةُ اللهِ سَـلَامُ الله # عَـلَى طَـهَ رَسُـوْلِ الله

صَـلَاةُ اللهِ سَـلَامُ الله # عَـلَى يـس حَبِيْـبِ الله

تَوَسَّـلْنَا بِـبِـسْـمِ الله # وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ الله

وَكُــلِّ مُجَـاهِـدٍ لله # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلأُمـَّة # مِـنَ اْلأَفـَاتِ وَالنِّـقْـمَة

وَمِنْ هَـمٍّ وَمِنْ غُـمَّـة # بِاَ هْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ # جَـمِيْعَ اَذِيـَّةٍ وَاصْرِفْ

مَـكَائِـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ # بِاَ هْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا # مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا

وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا # بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ # وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ

وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ # بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

وَكَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَا الْعُـمْرِ # وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَا الْفَـقْـرِ

وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ # جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ

فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ # بِأَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

أَتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ # وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ

فَوَسِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ

فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ # بَلِ اجْعَلْـنَا عَلَى الطَّيْبـَةْ

اَيـَا ذَا الْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ # بِاَهْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَلله

وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ # بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَاتِى

Wallahu A’lam Bishawab.

sumber : suarapesantren.net

Monday, 19 March 2018

Santri Trensains Ikut Dampingi Presiden Jokowi ke Australia

Santri Trensains Ikut Dampingi Presiden Jokowi ke Australia - Santri SMA Trensains Tebuireng berkesempatan mengikuti program Outstanding Youth for the World (OYTW) ke-7 yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu RI). OYTW 2018 ini melibatkan 18 pelajar SMA dari berbagai sekolah di Indonesia guna promosi dan peningkatan citra Indonesia di luar negeri serta perumusan kebijakan luar negeri. Kegiatan  OYTW ini berlangsung sejak tanggal 12-19 Maret 2018.
Santri Trensains Ikut Dampingi Jokowi ke Australia

“Alhamdulillah 2 santri Trensains Tebuireng berkesempatan mengikuti program yang diselenggarakan Kemlu RI, Outstanding Youth for the World ke-7 yang diikuti 18 pelajar dari berbagai sekolah di Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap promosi dan peningkatan citra Indonesia di Australia pada 12-19 Maret 2018,” ungkap Kepala SMA Trensains Tebuireng, Ustadz Ainur Rofiq.
Program OYTW 2018 telah dibuka pada 12 Maret 2018 di gedung Kemlu RI, selama 2 hari (12-13/03/18) dilakukan pembekalan dari Kemlu RI mengenai apa saja yang harus di lakukan di Australia.
“Senang banget karena saya memang belum pernah pergi ke Jakarta, Jakarta itu indah, banyak gedungnya apalagi kalau malam bagus banget, tapi sayangnya sering macet. Apalagi kesempatan emas yang tidak disangka-sangka telah diberikan kepada saya untuk berangkat ke Australia dan tidak lupa untuk terus bersyukur kepada Allah,” ungkap Dedi salah satu peserta OYTW dari Trensains Tebuireng saat dihubungi via whatsApp.
Diagendakan peserta OYTW 2018 bersama Menlu (Menteri Luar Negeri) di Sydney, Australia, akan berdialog interaktif dengan Duta Besar Indonesia untuk Australia serta bertemu komunitas Islam Australia, komunitas Islam Indonesia yang menetap di Australia, dan komunitas beragama di Australia.
Kepala SMA Trensains Tebuireng sangat berharap Dedi dan Icha yang berkesempatan mengikuti OYTW 2018 memberikan kesan yang baik pada Kemlu RI. Diagendakan mereka akan tiba di Jombang pada 20 Maret 2018 dan akan mempresentesikan pengalaman selama di Australia di depan para santri dan civitas Trensains Tebuireng. via Tebuireng.Online

Friday, 16 March 2018

Apakah Shalat Jumat bagi Wanita Menggantikan Shalat Dhuhur ?

Apakah Shalat Jumat bagi Wanita Menggantikan Shalat Dhuhur - Umumnya shalat Jumat di sebagian besar masjid diikuti hanya oleh jamaah laki-laki. Tapi kita dapati pula di beberapa masjid di Tanah Air shalat Jumat diikuti juga jamaah perempuan. Kaum hawa mengambil tempat khusus di dalam masjid, mendengarkan khutbah, lalu mengikuti seluruh rangkaian prosesi sembahyang berjamaah dua rakaat hingga selesai.

Apakah Shalat Jumat bagi Wanita Menggantikan Shalat Dhuhur - Umumnya shalat Jumat di sebagian besar masjid diikuti hanya oleh jamaah laki-laki. Tapi kita dapati pula di beberapa masjid di Tanah Air shalat Jumat diikuti juga jamaah perempuan


Kita tahu, shalat Jumat fardhu ‘ain dilaksanakan secara berjamaah bagi setiap laki-laki muslim mukallaf yang bukan musafir atau sedang ada halangan lain. Sementara bagi perempuan tidak. Pertanyaannya, bila kaum perempuan yang mengikuti shalat Jumat, apakah hal itu menggugurkan kewajiban shalat dhuhur mereka? Dengan bahasa lain, apakah shalat Jumat bagi wanita cukup menggantikan shalat dhuhur (tak perlu shalat dhuhur lagi)? Lalu, manakah yang lebih utama bagi mereka: shalat dhuhur berjamaah bersama wanita lain atau shalat Jumat?

Pertanyaan yang sama juga pernah terlontar di forum Muktamar ke-3 Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur, pada 28 September 1928. Para muktamirin saat itu menjawab, “shalat Jumat bagi kaum wanita itu cukup sebagai pengganti shalat dhuhur, dan bagi kaum wanita tidak cantik, tidak banyak aksi, dan tidak bersolek itu sebaiknya ikut menghadiri shalat Jumat.”


Jawaban tersebut mengacu pada keterangan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin yang menyatakan: 

 مَسْأَلَةٌ: يَجُوْزُ لِمَنْ لاَ تَلْزَمُهُ الْجُمُعَةُ كَعَبْدٍ وَمُسَافِرٍ وَامْرَأَةٍ أَنْ يُصَلِّيَ الْجُمُعَةَ بَدَلاً عَنِ الظُّهْرِ وَتُجْزِئُهُ بَلْ هِيَ أَفْضَلُ  لِأَنَّهَا فَرْضُ أَهْلِ الْكَمَالِ وَلاَ تَجُوْزُ إِعَادَتُهَا ظُهْرًا بَعْدُ حَيْثُ كَمُلَتْ شُرُوْطُهَا.


“Diperkenankan bagi mereka yang tidak berkewajiban Jum’at seperti budak, musafir, dan wanita untuk melaksanakan shalat Jum’at sebagai pengganti Zhuhur, bahkan shalat Jum’at lebih baik, karena merupakan kewajiban bagi mereka yang sudah sempurna memenuhi syarat dan tidak boleh diulangi dengan shalat Zhuhur sesudahnya, sebab semua syarat-syaratnya sudah terpenuhi secara sempurna.” (Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, [Mesir: Musthafa al-Halabi, 1371 H/1952 M], h. 78-79).

Dengan demikian , kaum perempuan yang sudah melaksanakan shalat Jumat tak perlu lagi menunaikan shalat dhuhur. Bahkan, perempuan lebih utama mengikuti jamaah shalat Jumat daripada shalat dhuhur meskipun berjamaah bersama perempuan lain, dengan syarat mereka bukan orang-orang yang sangat potensial mengundang syahwat bagi kaum laki-laki, baik karena penampilannya maupun tingkahnya. Wallâhu a‘lam. (Mahbib via NU Online)

Tertidur saat Khutbah Jumat, Bolehkah Langsung Shalat tanpa Wudhu Lagi?

Tertidur saat Khutbah Jumat, Bolehkah Langsung Shalat tanpa Wudhu Lagi? - Rasa kantuk bisa datang kapan saja, tidak mengenal waktu. Terlebih saat kondisi capek di siang hari, termasuk saat pelaksanaan shalat Jumat atau di tengah-tengah mendengarkan  khutbah Jumat. Batalkah wudlunya jamaah yang tertidur tersebut dan sahkah shalat Jumatnya?

Tertidur saat Khutbah Jumat, Bolehkah Langsung Shalat tanpa Wudhu Lagi? - Rasa kantuk bisa datang kapan saja, tidak mengenal waktu. Terlebih saat kondisi capek di siang hari, termasuk saat pelaksanaan shalat Jumat atau di tengah-tengah mendengarkan  khutbah Jumat. Batalkah wudlunya jamaah yang tertidur tersebut dan sahkah shalat Jumatnya?


Dalam fiqih mazhab Syafi’i, tidur yang tidak sampai membatalkan wudlu’ adalah tidur dengan posisi duduk disertai merekatkan pantat di lantai atau alas duduknya. Sehingga bila tidur tidak dilakukan dalam posisi tersebut, semisal duduk tengkurap, berdiri, tidur telentang, tidur miring atau posisi lainnya, maka dapat menyebabkan batalnya wudlu’. 

Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi mengatakan:

وَالثَّانِيْ النَّوْمُ عَلَى غَيْرِ هَيْئَةِ الْمُتَمَكِّنِ وَفِيْ بَعْضِ نُسَخِ الْمَتْنِ زِيَادَةُ مِنَ الْأَرْضِ بِمَقْعَدِهِ وَالْأَرْضُ لَيْسَتْ بِقَيِّدٍ وَخَرَجَ بِالْمُتَمَكِّنِ مَا لَوْ نَامَ قَاعِدًا غَيْرَ مُتَمَكِّنٍ أَوْ نَامَ قَائِمًا أَوْ عَلَى قَفَاهُ وَلَوْ مُتَمَكِّنًا


“Yang kedua (dari hal yang membatalkan wudlu’) adalah tidur selain tidurnya orang yang duduk merekatkan pantatnya. Dalam sebagian naskah terdapat tambahan redaksi dari lantai yang menjadi alas duduknya. Lantai dalam konteks ini tidak menjadi acuan. Mengecualikan dari ketentuan merekatkan pantat yaitu tidur dalam posisi duduk namun tidak merekatkan pantat atau tidur berdiri atau menyandarkan tengkuk meskipun disertai merekatkan pantat”. (Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi, Fathul Qarib al-Mujib, hal.6, Semarang-Toha Putera).

Baca juga: Apakah Shalat Jumat bagi Wanita Menggantikan Shalat Dhuhur?
Setidaknya kesimpulan ini berlandaskan dua dalil hadits Nabi. Yang pertama hadits riwayat Abu Dawud sebagai berikut:

اَلْعَيْنَانِ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ


“Dua mata adalah penjaga lubang dubur, maka barangsiapa tidur berwudlulah.” (HR. Abu Dawud)

Berkaitan dengan hadits tersebut, Syekh al-Khatib al-Syarbini menjelaskan:

وَالْمَعْنَى فِيهِ أَنَّ الْيَقِظَةَ هِيَ الْحَافِظَةُ لِمَا يَخْرُجُ ، وَالنَّائِمُ قَدْ يَخْرُجُ مِنْهُ الشَّيْءُ ، وَلَا يَشْعُرُ بِهِ وَغَيْرُ النَّوْمِ مِمَّا ذُكِرَ أَبْلَغُ مِنْهُ فِي الذُّهُولِ الَّذِي هُوَ مَظِنَّةٌ لِخُرُوجِ شَيْءٍ مِنْ الدُّبُرِ كَمَا أَشْعَرَ بِهِ الْخَبَرُ 


Makna hadits tersebut adalah bahwa kondisi terjaga (dari tidur) dapat menjaga perkara yang keluar dari pantat. Orang yang tidur terkadang keluar dari dirinya sesuatu yang membatalkan wudlu’ saat ia tidak sadarkan diri. Selain tidur dari kondisi yang telah disebutkan (ayan, gila dan lain sebagainya) lebih parah dari tidur dalam hal kacaunya pikiran yang merupakan potensi untuk keluarnya sesuatu dari dubur sebagaimana dijelaskan oleh hadits.” (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Beirut, Dar al-Fikr, 1987, juz 1, halaman 34)

Hadits di atas diarahkan kepada kondisi tidur yang tidak disertai merekatkan pantat di lantai.

Hadits yang kedua adalah riwayat Imam Muslim sebagai berikut:

قَالَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ


“Sahabat Anas berkata, para sahabat Nabi tertidur kemudian melaksanakan shalat dan mereka tidak berwudlu’. (HR.Muslim).

Hadits riwayat Imam Muslim ini diarahkan pada kondisi tidur seseorang yang duduk merekatkan pantatnya di alas tidurnya, sebagai salah satu pengamalan kaidah ushul fiqih yaitu “mengompromikan di antara dua dalil” saat ada dua dalil yang terkesan bertentangan.

Syekh Khatib al-Syarbini mengatakan:

وَحُمِلَ عَلَى نَوْمِ الْمُمَكِّنِ جَمْعًا بَيْنَ الْحَدِيثَيْنِ


“Hadits sahabat Anas ini diarahkan kepada kondisi tidurnya seseorang yang merekatkan pantatnya di lantai, untuk mengompromikan dua hadits.” (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Beirut, Dar al-Fikr, 1987, juz 1, halaman 34)

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bila seseorang tidur dalam posisi yang membatalkan, akan berakibat pada ketidakabsahannya shalat Jumat yang ia kerjakan. Sebab salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadats. Agar tetap sah solusinya adalah mengambil wudlu’ terlebih dahulu sebelum melanjutkan shalat Jumatnya.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat.

 (M. Mubasysyarum Bih via nu Online)

Thursday, 15 March 2018

Biografi Khofifah Indar Parawansa

Biografi Khofifah Indar Parawansa - Sosok yang satu ini akhir-akhir banyak dibacarakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Timur.  Ia sosok Khofifah Indar Parawansa. Mengapa banyak orang membicarakan beliau ? 

Alasan banyak orang membicarakan beliau adalah karena beliau merupakan Calon Gubernur Jawa Timur saat ini (2018). Beliau saat ini berpasangan dengan Kang Emil Dardak yang mana merupakan bupati Trenggalek. 

Siapa sebenarnya sosok Khofifah Indar Parawansa ini ? Seperti apa biografinya, Simak di artikel ini.


Biografi Khofifah Indar Parawansa 

Biografi Khofifah Indar Parawansa

Terlahir di kota Surabaya tepatnya pada 19 Mei 1965. Sebelum mencalonkan menjadi Gubernur beliau ini merupakan Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja. Beliau merupakan lulisan Ilmu Politik UNAIR (Universitas Airlangga) Surabaya yang lulus pada tahun 1990. 

Pendikan kebanyakan beliau tempuh di Surabaya. Yakni SD Taquam SD Taquma (1972-1978) kemudian melanjutkan ke SMP Khodijah – Surabaya pada tahun 1978-1981. Setelah itu beliau melanjutkan ke SMA Khodijah – Surabaya (1981-1984) dan setelah lulus beliau kulyah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, Surabaya (1984-1991) serta kulyah juga di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah, Surabaya (1984-1989) dan untuk S2 beliau melanjutkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta (1993-1997).

Karit politk beliau sudah tidak diragukan lagi. Di bawah ini kami kutip dari wikipedia tentang karir politiknya :

  • Pimpinan Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPR RI (1992–1997)
  • Pimpinan Komisi VIII DPR RI (1995–1997)
  • Anggota Komisi II DPR RI (1997–1998)
  • Wakil Ketua DPR RI (1999)
  • Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa MPR RI (1999)
  • Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (1999–2001)
  • Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (1999–2001)
  • Ketua Komisi VII DPR RI (2004–2006)
  • Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa MPR RI (2004–2006)
  • Anggota Komisi VII DPR RI (2006)
  • Menteri Sosial Kabinet Kerja (2014–2018)

Wednesday, 14 March 2018

Larangan Bercadar Di Lingkungan Kampus ???

Larangan Bercadar Di Lingkungan Kampus ??? Kini orang-orang gaduh membicarakan cadar, siang maupun malam. Di warung kopi sampai forum seminar. 

Pasalnya sebuah kampus Islam melarang mahasiswinya bercadar. Pro dan kontra terjadi. Ormas yang mengatasnamakan Islam berunjuk rasa ke kampus itu. 

Rupanya informasi semacam itu sampai juga ke kaki gunung Bongkok, di sebuah perkampungan terpencil. Itu berkat media sosial. 

Di kampung itu, ada seorang ajengan muda, Rijaludin namanya. Akrab disapa Ajengan Jalu. Ia pandai bergaul dan energik. Karena pernah tinggal di kota, meski tinggal di kampung, ia terbilang pengguna media sosial aktif.

Larangan Bercadar Di Lingkungan Kampus


Suatu hari, seorang anak muda, tetangganya, yang bersekolah di kota kabupaten bertanya tentang pro dan kontra cadar itu kepada Ajengan Jalu.    

“Ajengan, seandainya anakmu kuliah di kampus yang melarang bercadar, bagaimana sikapmu?” 

“Saya akan melarang anak saya bercadar. Bahkan kerudung pun pasti saya larang!".

“Wah, kenapa demikian? Bukankah itu syari'at Islam?" tanya anak muda itu, kaget bukan main.

“Meskipun syariat Islam, tetap saya akan melarangnya.”

“Kenapa?” 

“Karena Islam tidak menyuruh begitu,” jawab Ajengan Jalu. “Kan anak saya laki-laki semua. Saya haramkan memakai kerudung, apalagi bercadar,” jelasnya. 

(Abdullah Alawi) via NU Online

Monday, 5 March 2018

Ayo ngeblog daripada Update di Sosial Media

Ayo ngeblog daripada Update di Sosial Media - Sosial media sebagai magnet internet sering saya ungkapkan. Memang perkembangan dunia internet saat ini tidak lepas yang namanya sosial media.
Ayo ngeblog daripada Update di Sosial Media

Ada banyak sekali sosial media yang bisa kita gunakan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Di sosial media memang kita bisa melakukan banyak hal. Misalnya saja menulis tentang suatu ilmu atau trik tertentu.
Memang bagus tapi kurang efektif karena ada kelemahan yakni kadang terbatas pertemanan saja yang mengtahuinya. Atau juga seiring berjalannya waktu maka status sosial media tersebut akan tenggelam karena adanya status baru.
Jika memiliki bakat menulis ilmu, tutorial, itu mengeluarkan gagasan dan sebagainya sebaiknya tulis saja di blog.
Di blog kita bisa banyak menulis tanpa ada batasan. Pembaca tidak hanya teman di sosial media tapi juga orang banyak. Karena cakupannya lebih luas dan mudah ditemukan oleh mesin pencari.
Ada banyak sekali manfaatnya kita ngeblog. Dengan ngeblog kita tidak hanya belajar menulis tapi juga belajar bagaimana cara menggunakan internet, blogging, SEO, dan lainnya

Yuks ngeblog 😉

Monday, 26 February 2018

Puisi Cinta Jalaluddin Rumi - Kerana Cinta


Kerana Cinta

Puisi Cinta Jalaluddin Rumi



Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
Jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan

Wednesday, 3 January 2018

Profil Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri

Profil Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri - Pada 1 Januari 1925, KH. A. Djazuli Usman mendirikan sebuah madrasah dan pondok pesantren. Ia memanfaatkan serambi Masjid untuk kegiatan belajar mengajar para santri. Tanpa terasa santri yang belajar dengan KH. A.Djazuli membengkak menjadi 100 orang.

Masyarakat sekitar pondok pesantren Al-Falah Ploso pada awalnya tergolong masyarakat abangan (jauh dari agama). Ketika awal berdiri, banyak masyarakatnya mencemooh pondok pesantren Al-Falah. Apalagi para pejabat dan bandar judi, yang setatus quonya mulai terganggu. Mereka sering menyebarkan isu-isu sesat terhadap pondok pesantren ini.

Profil Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri


Fenomena semacam itu memang menjadi tantangan berat bagi pesantren yang menjadi pusat kegiatan simakan Al-Qur’an Mantab ini. Namun para pengurusnya tidak merasa gentar. Justru tantangan itu membulatkan tekad mereka untuk mengubah masyarakat abangan, menjadi masyarakat yang islami. Hasilnya seperti sekarang ini. Pesantren terus berkembang, dan kehidupan islami tercipta dengan sendirinya di sekitar pondok pesantren.

Pondok pesantren yang letaknya ditepi sungai Berantas ini banyak mengambil keuntungan dari letak geografis tersebut. Sungai yang terkenal deras airnya dan terus mengalir sepanjang musim banyak memberikan kehidupan para santri serta para masyarakat sekitarnya. Dipinggir sungai inilah terletak desa Ploso, 15 km arah selatan dari Kediri. Potensi wilayah seperti ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Umumnya mereka memanfaatkan tanah yang subur ditepi sungai berantas untuk bercocok tanam.

Pondok pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagaimana kebanyakan pesantren di kota Kediri merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran model salafiyah.
Program Pendidikan.

Program pendidikan dan pengajaran di ponpes Al-Falah, terdiri dari: Madrasah Ibtidaiyah (3 tahun), Madrasah Tsanawiyah (4 tahun) , dan Majelis Musyawarah Riyadlotut Tholabah (5 tahun).

Pada tingkat Ibtidaiyah materi yang banyak ditekankan adalah masalah akidah dan akhlak, sedangkan untuk tingkat Tsanawiyah ditekankan pada materi ilmu nahwu / sharaf dan ditambah ilmu fiqih, faroidl serta balaghah. Adapun Majelis Musyawarah merupakan kegiatan kajian kitab fiqih, yakni Fathul Qorib, selama satu tahun, Kitab Fathul Mu’in selama 1 tahun dan Fathul Wahab selama 3 tahun.

MISRIU

Jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri dimulai dari Madrasah Islamiyah Salafiyah Riyadlotul ‘Uqul (MISRIU) dengan dua tingkatan; Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
Pada tingkatan Ibtidaiyah ditempuh selama 3 tahun yang materi pendidikannya memprioritaskan pembinaan akhlaq santri (Moralitas dan Mentalitas), pengembangan wawasan santri, menulis huruf arab, tajwid, pemantapan tauhid dan pengenalan dasar-dasar gramatika arab (ilmu nahwu shorof) sebagai persiapan memasuki tingkat Tsanawiyah.

Selanjutnya di tingkat Tsanawiyah, ditempuh selama 4 tahun. Pada kelas 1, 2 dan 3 Tsanawiyah, materi yang ditekankan adalah pendalaman ilmu nahwu, shorof (dengan kajian utama ; kelas 1 kitab Jurumiyah, kelas 2 kitab ‘Imrithy dan kelas 3 kitab Alfiyah Ibni Malik serta dilengkapi pula kajian tauhid, fiqh dan risalatul mahidl sebagai penyempurna. Sedangkan di kelas 4 Tsanawiyah lebih dititik beratkan pada penguasaan ilmu balaghoh (kesusastraan), mantiq (logika), qowa’idul fiqhiyah dan faroidl (waris).

Kegiatan madrasah dilaksanakan pada pukul 07.30 s/d pukul 10.30, mulai hari Sabtu s/d hari Kamis. Dan setiap ba’da Isya’ dilaksanakan musyawarah (diskusi bersama) sampai pukul 22.30.
Masih dalam naungan MISRIU, dibuka pula madrasah siang (Nahariyah) dan madrasah malam (Lailiyah).

MADRASAH NAHARIYAH

Memberi kesempatan untuk siswa diluar pondok (desa) yang tidak dapat mengikuti sekolah pagi dengan biaya lebih ringan. Kegiatan sekolah dimulai pada pukul 13.30 s/d 15.00

MADRASAH LAILIYAH

Sekolah malam yang dimulai pada pukul 19.00 s/d 20.30 untuk siswa pondok yang juga mengikuti sekolah umum. Sebagai pendalaman materi pelajaran dilaksanakan musyawarah setelah ashar sampai pukul 16.15 WIB. Ditambah privat untuk pelajaran umum pukul 21.30 – 22.30

RIYADLATUT THALIBAT

Setelah siswa menamatkan sekolah di MISRIU (Madrasah Islamiyah Salafiyah Riyadlotul ‘Uqul), berikutnya siswa akan ditempa di jenjang musyawarah Riyadlotut Tholibat. Sistem yang diterapkan pada jenjang ini adalah kemandirian berfikir santri, keberanian mengambil keputusan yang bertanggung jawab dengan benar, terutama masalah-masalah fiqhiyah sesuai dengan perkembangan sosial yang terjadi di masyarakat.

Pada tingkat ini terdiri dari 2 fraksi. Fraksi I dengan mengambil kajian pokok kitab Fathul Qorib yang ditempuh dalam waktu satu tahun. Fraksi II dengan kajian pokok kitab Fathul Mu’in juga ditempuh dalam waktu satu tahun.

Selain mengikuti kajian-kajian diatas, para santri juga diterjunkan dakwah di tengah-tengah masyarakat guna memberi pencerahan sekaligus sebagai sarana praktikum para santri. Dengan demikian, diharapkan setelah menamatkan jenjang ini, santri benar-benar menjadi generasi tangguh yang sanggup menghadapi tantangan zaman.

TAHAFUDZUL QUR'AN

Bagi santri yang telah atau akan menghafal Al Qur’an disediakan asrama khusus dengan fasilitas yang memadai. Tetap dapat mengikuti kegiatan pondok dan madrasah atau musyawarah.

Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri

Jl. Raya Mojo, Ploso, KOTA KEDIRI, Jawa Timur (0354) 479036-479033


sumber : ayomondok.net

Saturday, 30 December 2017

Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Petuk Semen Kediri (PPHT Petuk)

Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Petuk Semen Kediri (PPHT Petuk) - Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Pendiri pertamanya adalah Sunan Ampel pada abad 14 sebelum Indonesia dijajah Belanda. Ketika negara dijajah Belanda pondok pesantren tetap eksis tidak bisa takluk karena kegigihan para Kyai Pengasuh Pondok Pesantren. Mereka mendoktrin santri – santrinya anti penjajah, seperti mengharamkan bersekutu dengan penjajah dan meniru prilakunya, juga mengharamkan memakai pakaian yang dipakai Belanda, seperti memakai dasi sehingga para santri sangat benci dengan penjajah, maka penjajah tidak bisa mempengaruhi dan tidak bisa menjajah pesantren.
Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Petuk Semen Kediri (PPHT Petuk)


Oleh karena itu, pondok pesantren ikut andil dan memberi kontribusi yang besar dalam pembentukan NKRI dan mempertahankan NKRI menghadang siapapun yang merong-rong NKRI, seperti ikut melawan agresi Belanda, menumpas PKI, menerima Pancasila sebagai asas ormas dsb. Pesantren mempunyai peran besar dalam mencerdaskan masyarakat dan meningkatkan moral bangsa. Pesantren adalah lembaga pendidikan agama tetapi amat peduli dengan bangsa dan negara. Pengasuh – pengasuh pesantren berperan sebagai pewaris perjuangan Nabi, yakni sebagai Rahmat kepada alam semesta.

BERDIRINYA PON. PES. SPESIALIS FIQH HIDAYATUT THULLAB

Pada tahun 1993 M, KH. A. Yasin mendirikan pondok pesantren di Dusun Petuk Desa Puhrubuh Kecamatan Semen Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur yang diberi nama “HIDAYATUT THULLAB.”
  • Sesuai peran pesantren seperti di atas, beliau mendirikan pesantren dengan tujuan:
  • Untuk mencetak kader ulama yang mewarisi ajaran Nabi dan meneruskan perjuangannya.Untuk membentuk seorang muslim yang shalih dan muslimah yang shalihah yang bertaqwa, berbudi luhur dan menjadi suri tauladan.

PROGRAM KURIKULUM


Demi tercapainya tujuan, pondok pesantren membagi program – programnya mejadi dua bagian. Yang pertama kurikuler dan yang kedua ekstrakurikuler. Yang pertama berupa madrasah yang diberi nama: Madrasah Hidayatut Thullab (MHT) kurikulumnya berbeda dengan kurikulum – kurikulum di pesantren pada umumnya, yakni lebih singkat dan padat dan di tingkat Aliyah kejuruan fiqih atau spesialis fiqih.

Di MHT ada lima jenjang, yaitu:

    Ibtidaiyah, 6 tahun dan SD PLUS 6 tahun
    Tsanawiyah, 3 tahun
    Aliyah, 3 tahun
    Itmamiyyah, 2 tahun

SP bagi siswa yang belum bisa membaca dan menulis. Kelas IV Ibtidaiyah untuk mengenalkan dasar – dasar akidah, fiqih, akhlak, dan tajwid. Kelas V Ibtidaiyah mulai untuk diperkenalkan ilmu sharaf, nahwu, dan untuk meningkatkan pengetahuan tentang akidah, fiqih, akhlak, dll. Kelas VI Ibtidaiyah mempelajari ilmu sharaf, dari 3 aspek, yaitu: 1) Alqawa’idus Sharfiyyah 2) Al-Amtsilatut Tashrifiyyah 3) Al-I’lal. Di kelas VI seperti ilmu nahwu, fiqih, dsb. juga diajarkan. Kelas I dan II Tsanawiyah untuk memperdalam ilmu nahwu juga dari tiga aspek, yaitu : 1) Qawaidun Nahwi 2) I’rab 3) Ilmu nahwu ditambah ilmu arudl, ushul fiqh, tashawwuf, dsb. Kelas III Tsanawiyah diajarkan ilmu balaghah, mantiq, fiqh, tashawwuf, tauhid, tafsir, dan hadits. Kelas I, II, dan III Aliyah spesialis fiqih. Ada 9 (sembilan) disiplin ilmu fiqih yang diajarkan di tingkat aliyah, yaitu:
  • Tafsir Ayatil Ahkam
  • Ahaditsul Ahkam
  • Ilmu fiqh
  • Qaidah fiqh
  • Ushul fiqh
  • Sejarah fiqh
  • Hikmah fiqh
  • Fiqh mawarits
  • Ilmu falak

dan 3 (tiga) materi pelajaran; 1) Alquran, 2) Tashawuf, 3) Bahasa Arab.

Di itmamiyah ada 4 materi yang diajarkan, yaitu:
  • lmu hikmah
  • Memperdalam tashawuf
  • Dakwah
  • Metodologi aplikasi hukum fiqih.

Pengasuh : KH. Ahmad Yasin Asymuni

Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Petuk Semen Kediri PPHT Petuk

Jl. Bagruk RT1 / RW4, Dusun Petuk, Desa Puhrubuh, Kec. Semen, Kec. Kota 64161, KOTA KEDIRI Jawa Timur