Thursday, 22 June 2017

Hukum Bersiwak (Gosok Gigi) Ketika Berpuasa

Hukum Bersiwak (Gosok Gigi) Ketika Berpuasa - Bersiwak atau menggosok gigi berhukum sunnah, sebagaimana hadis Rasulullah Saw. “Dari Abu Hurairah ra. Bahwasannya Rasulullah Saw. berkata:”Seandainya aku tidak memberatkan umatku atau manusia, maka sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak di setiap akan shalat.” (HR. Al-Bukhari). Dalam hadis tersebut Rasulullah saw. sangat menekankan bagi umatnya untuk memperhatikan kebersihan mulutnya dengan cara bersiwak atau menggosok gigi. Lalu bagaimana hukumnya bersiwak atau menggosok gigi bagi orang yang berpuasa?

Hukum Bersiwak (Gosok Gigi) Ketika Berpuasa


Di kalangan ulama’ terdapat dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa bersiwak atau menggososk gigi itu berhukum sunnah setiap waktu dan dalam keadaan apapun. Dasar mereka adalah keumuman hadis riwayat Abu Hurairah di atas, yakni Rasulullah saw. menekankan bersiwak atau menggosok gigi untuk semua umatnya baik ketika berpuasa ataupun tidak. Dalil lainnya adalah hadis fi’li Rasulullah Saw.  yang disampaikan oleh Amir bin Rabi’ah ia berkata: “Aku pernah melihat Nabi saw. bersiwak sedangkan ia dalam keadaan puasa hingga aku tidak bisa menghitung jumlahnya.” (HR. al-Tirmidzi). Selain itu mereka juga mendasarkan pada riwayat Aisyah ra.: “Dari Nabi saw.: Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah.

Pendapat pertama ini merupakan pendapat mayoritas ulama’ diantaranya adalah imam al-Bukhari di dalam kitab Shahihnya. Hal ini ditunjukkan ketika beliau memberikan judul bab “Menggunakan siwak kering dan siwak basah bagi orang yang berpuasa.” Lalu beliau mencantumkan hadis di atas riwayat Amir, Aisyah serta riwayat Jabir dan Zaid bin Khalid: “Bahwasannya Nabi Saw. tidak mengkhususkan orang yang berpuasa dari selain nya (yakni boleh bagi orang yang berpuasa menggunakan siwak basah atau siwak kering). Menurut imam ibn Hajar di dalam kitab Fathul Bari judul imam al-Bukhari ini mengisyaratkan penolakannya terhadap pendapat yang mengatakan bahwa makruh bersiwak basah seperti malikiyyah dan as sya’bi. Pendapat pertama ini juga didukung oleh Ibn sirrin yang mengatakan bahwa siwak basah itu sama halnya dengan berkumur (yang tidak akan membahayakan puasa asalkan tidak sampai masuk ke tenggorokan).

Pendapat kedua adalah ulama’ yang mengatakan bahwa bersiwak itu berhukum makruh bagi orang yang berpuasa ketika setelah tergelincirnya matahari atau waktu siang hari. Adapun dasar mereka adalah hadis Nabi Saw. “…., Demi dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, sungguh bau aroma mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah Swt. daripada aroma parfum kasturi (HR.al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadis tersebut ulama’ dari golongan ini berpendapat bahwa waktu siang itu saat dimana bau mulut berubah, dan di saat ini Allah Swt. sangat memuliakan orang yang berpuasa, bahkan aroma mulutnya lebih wangi daripada parfum kasturi.

Maka keutamaan aroma mulut orang yang berpuasa tersebut lebih afdhal dari pada bersiwak. Seperti halnya orang yang mati syahid, mandi bagi mereka tidak lagi wajib baginya, bahkan tidak boleh karena menjaga tetapnya darah ditubuh mayyit itu sebagai saksi dihadapan Allah Swt.

Padahal menurut Ulama pendapat pertama bahwa aroma wangi mulut orang yang berpuasa dalam hadis tersebut adalah saat di akhirat kelak, maka mereka membolehkan bersiwak pada siang hari bagi orang yang sedang berpuasa.

Demikian hukum bersiwak atau menggosok gigi bagi orang yang berpuasa. Terjadi perbedaan pendapat di antara ulama’ dengan dasar masing-masing yang mereka pegang. Namun pada intinya dari kedua pendapat tersebut, tidak ada yang mengharamkan bersiwak atau menggosok gigi bagi orang yang berpuasa, yakni hanya pada titik kemakruhan saja. Wa Allahu A’lam.

Sumber : Islami Co

Wednesday, 21 June 2017

Hukum Puasa Bagi Perempuan yang Berhalangan

Hukum Puasa Bagi Perempuan yang Berhalangan - Sebagai ibadah yang diwajibkan bagi umat muslim, puasa Ramadhan tentu memiliki ketentuan-ketentuan. Salah satu yang mendapat ketentuan itu adalah perempuan. Selain harus mencukupi syarat dan rukun puasa, perempuan juga harus memperhatikan hal-hal yang bisa membatalkan puasa (udzur). Terutama bagi yang melahirkan, menyusui dan haid.

Hukum Puasa Bagi Perempuan yang Berhalangan


Bagi perempuan yang melahirkan dan darah nifasnya masih mengalir, maka tak boleh baginya berpuasa Ramadhan. Sebab, salah satu syarat sah puasa adalah bersih dari darah nifas. Namun, jika darah nifas berhenti dan masih di bulan Ramadhan, maka dia wajib untuk kembali berpuasa. Hal ini juga berlaku apabila berhentinya darah nifas sebelum waktu subuh, lalu dia baru mandi setelah masuknya waktu Subuh, maka puasanya sah.

Perempuan yang tidak puasa karena nifas, wajib baginya mengganti dengan meng-qadha` bukan dengan membayar fidyah. Hukum ini juga berlaku bagi perempuan yang sedang haid. Hal ini selaras dengan hadis yang diriwayatkan ‘Aisyah r.a. ”Dahulu kami mengalaminya [haid], maka kami diperintah untuk mengqadha` puasa tapi tak diperintah untuk meng-qadha` shalat.” (HR Muslim).

Adapun bagi perempuan yang sedang hamil dan menyusui, bila mereka khawatir akan itu, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa. Namun, apabila baginya tidak ada kekhawatiran, maka dia harus berpuasa. Anas bin Malik r.a. mengungkap bahwa Nabi Saw. memberi rukhsah kepada perempuan hamil yang khawatir akan dirinya dan perempuan menyusui yang khawatir akan anaknya untuk tak berpuasa. (HR Ibnu Majah, Mahmud Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam)

Disarikan dari buku “Panduan Lengkap Ibadah Menurut Al-Qur’an, Al- Sunnah dan Pendapat Para Ulama” karya Muhmmad Bagir via situs islami co

Tuesday, 20 June 2017

Meme Comic Gaj Ahmada - Gajah Mada Beragama Islam, Benarkah ?

Meme Comic Gaj Ahmada - Gajah Mada Beragama Islam, Benarkah ? Beberapa waktu belakangan ini Indonesia dihebohkan dengan adanya pendapat bahwa pati Gajah Mada merupakan orang sudah memeluk agama Islam. Dasarnya adalah ditemukannnya koin yang bertuliskan lafad arab atau kalimat tauhid di sekitar bekas kerajaan Majapahit. Dasar pendapat ini juga dikarena nama Gajah Mada "Mirip" dengan GAJ AHMADA. Wau... benarkah demikian ?


Entahlah pendapat itu benar atau tidak, namun banyak sekali pendapat yang mambatah. Karena pendapat yang menyatakan bahwa Gajah Mada sebagai orang Islam terlalu dipaksakan. Atau bahkan seakan mengada-ada.

Pengguna sosial media pun malah membuat guyonan atau plesetan tentang Gajah Mada yang bergama Islam ini. Di bawah ini beberapa plesetan / Guyonan tentang nama mirip arab tersebut.

Pendiri Facebook adalah Mark Zuck yang mana masih orang muslim yakni Marzuki AL Buruj

Penemu Teori Relativitas bernama Albert Einstein yang nama aslinya adalah Al Bari Anis Tahsin

Hayam Wuruk juga ternyata seoran Muslim, Nama aslinya adalah H. Ayam Wuruk


 

Meme Comic Gaj Ahmada - Gajah Mada Beragama Islam, Benarkah ?

 Gaj Ahmada ?



Meme Comic Gaj Ahmada - Gajah Mada Beragama Islam, Benarkah ?

Meme Comic Gaj Ahmada - Gajah Mada Beragama Islam, Benarkah ?

Meme Comic Gaj Ahmada - Gajah Mada Beragama Islam, Benarkah ?

Sunday, 18 June 2017

Fikih Ciblon - Hukum Buang Hajat Dalam Air

Fikih Ciblon - Hukum Buang Hajat Dalam Air - Syari’at adalah panduan untuk menetapi tingkah yang paling patut dalam setiap situasi atau aktifitas. Kepatutan itu ditimbang terkait hubungan antara manusia dengan tuhannya dan dengan sesamanya. Dalam sudut pandang ini, syari’at lebih merupakan “alat bantu” ketimbang “palu vonis”. Yakni membantu manusia untuk mencapai kebaikan, bukannya menghakimi.
Fikih Ciblon - Hukum Buang Hajat Dalam Air


Larangan menghadap atau membelakangi kiblat saat buang hajat ditempat terbuka, misalnya, mengandung pertimbangan kepatutan terkait kemuliaan kiblat. Tapi tidak berarti kepentingan pragmatis selamanya diabaikan.

Seseorang bertanya kepada As Sya’bi (Abu ‘Amr ‘Amir bin Syarahil bin ‘Abdi Dzi Kubar Al Humairi –seorang faqih dari kalangan tabi’in),

“Kalau aku mandi di sungai kemudian sekalian buang hajat didalamnya, bolehkah menghadap atau membelakangi kiblat?”

Jawaban Asy Sya’bi:
“Menghadaplah kearah pakaianmu kau letakkan, supaya tidak dicolong orang!”


Sumber : http://teronggosong.com

Saturday, 17 June 2017

Toilet Sebagai Jalan Keluar Gus Mus

Toilet Sebagai Jalan Keluar Gus Mus - Gus Mus diundang mengisi ceramah pengajian yang istimewa. Judul acaranya: “Nada dan Dakwah bersama Gus Mus dan–sebut saja:–Sri”. Sri, bukan nama sebenarnya, adalah seorang penyanyi ndangndut perempuan yang sedang naik daun waktu itu.

Toilet Sebagai Jalan Keluar Gus Mus


Banyak tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan ikut hadir. Mereka ditempatkan di deretan tempat duduk terdepan, tepat di depan panggung, sebelah-menyebelah dengan Gus Mus sendiri.

Usai ceramah pengajian, Gus Mus kembali ke kursinya dan acara dilanjutkan dengan hiburan lagu-lagu Islami oleh Si Sri.

“Saya sangat bangga dan berdebar-debar mendapatkan kesempatan menyanyi di sini”, Sri membuka penampilan dengan sepatah-dua patah kata, “Apalagi di hadapan seorang ulama yang sangat saya kagumi dan menjadi idola saya… Guus Muuus! Mana tepuk tangannyaaa? Tepuk tangan buat Guuus Muuuusss…!”

Dan musik pun mulai mengedut.

Namanya ndangndut, walaupun Islami tetap saja menyondol-nyondol pinggang untuk bergoyang. Buat Sri sendiri, itu sudah naluri. Ditahan-tahan juga percuma. Ketika sudah masyuk dalam irama, ia pun melangkah turun panggung. Mendekati seorang pejabat di deretan depan, menggamit lengannya, dan membuat pejabat itu tak punya pilihan–atau tak ingin memilih–selain gabung berjoget bersama Sri.

Sementara itu, Gus Mus berkutat menahan gelisah. Entah seperti apa raut mukanya selama memaksa-maksakan diri untuk tersenyum-senyum waktu itu. Belakangan jelas sekali ia tampak lega ketika seorang panitia mendekat menyuguhkan minuman.

Gus Mus menggamit si panitia,

“Dik, toilet dimana?”

“Oh, mari saya antarkan, Pak Kyai”.

“Nggak usah. Tunjukkan saja tempatnya, biar saya ke sana sendiri”.

Panitia menunjuk pintu keluar gedung,

“Dari situ terus kearah kiri, Pak Kyai”.

Sambil mengangguk kanan-kiri, Gus Mus bergegas ke arah pintu itu. Dari situ ia langsung menuju tempat parkir mencari mobilnya, lalu menyuruh sopir cepat membawanya kabur.

Sopirnya pun heran,

“Kok tergesa-gesa, ‘Yai?”

“Aku takut diajak njoget”.



Sumber : http://teronggosong.com

Banci Dalam Tinjauan Syariat

Banci Dalam Tinjauan Syariat - Salah satu kebanggaan kita sebagai kaum Muslimin ialah syariat Islam itu sendiri. Kita bangga karena memiliki syariat paling lengkap di dunia. Syariat yang mengatur segalanya, dari perkara yang paling besar hingga yang paling sepele. Semua yang menyangkut kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat tak lepas dari tinjauan syariat. Laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil, penguasa, rakyat jelata; semuanya diatur secara adil dan bij aksana. Bahkan kaum banci pun tak lepas dari pembahasan.
Banci Dalam Tinjauan Syariat


Benar, kaum banci yang sering menjadi ledekan dan bahan tertawaan, ternyata tidak diabaikan oleh syariat begitu saja, sebab ia juga manusia mukallaf sebagaimana lelaki dan wanita normal. Karenanya, dalam fiqih Islam, kita mengenal istilah mukhannats (banci/bencong), mutarajjilah (wanita yang kelelakian), dan khuntsa (interseks/berkelamin ganda).

Masing-masing dari istilah ini memiliki definisi dan konsekuensi berbeda. Akan tetapi, dua istilah yang pertama biasanya berkonotasi negatif, baik di mata masyarakat maupun syariat. Sedangkan yang ketiga belum tentu demikian.


Untuk lebih jelasnya, perlu diperhatikan definisi para ulama tentang banci dan waria, berangkat dari hadits shahîh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhâri berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: «أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ قَالَ: فَأَخْرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فُلاَنًا، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا


َDari Ibnu Abbas, katanya, “Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki mukhannats dan para wanita mutarajjilah. Kata beliau, ‘Keluarkan mereka dari rumah kalian’, maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengusir Si Fulan, sedangkan Umar mengusir Si Fulan”[1]

Dalam riwayat lain disebutkan:

،لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بالنِّسَاءِ والمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بالرِّجَالِ


Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melaknat para lelaki yang menyerupai wanita, dan para wanita yang menyerupai laki-laki [2]

Riwayat yang kedua ini menafsirkan tentang yang dimaksud dengan mukhannats dan mutarajjilah dalam hadits yang pertama. Sehingga menjadi jelas bahwa yang dimaksud mukhannats adalah laki-laki yang menyerupai perempuan, baik dari cara berjalan, cara berpakaian, gaya bicara, maupun sifat-sifat feminin lainnya. Sedangkan mutarajjilah adalah wanita yang menyerupai laki-laki dalam hal-hal tersebut.[3]

Secara bahasa, kata mukhannats berasal dari kata dasar khanitsa-yakhnatsu. Artinya, berlaku lembut. Dari istilah umum tersebut, maka istilah banci, bencong, waria cocok untuk mengartikan mukhannats. Sedangkan untuk istilah, mutarajjilah, mungkin terjemahan yang paling mendekati adalah “wanita tomboy”.

Dalam Syarahnya, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullâh mengatakan, bahwa laknat dan celaan Rasûlullâh Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tadi khusus ditujukan kepada orang yang sengaja meniru lawan jenisnya. Adapun bila hal tersebut bersifat pembawaan (karakter asli), maka ia cukup diperintah agar berusaha meninggalkannya semaksimal mungkin secara bertahap. Bila ia tidak mau berusaha meninggalkannya, dan membiarkan dirinya seperti itu, barulah ia berdosa, lebih-lebih bila ia menunjukkan sikap ridha dengan perangainya tadi.

Adapun sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa mukhannats alami tidak dianggap tercela ataupun berdosa. Maksudnya ialah seseorang yang tidak bisa meninggalkan cara berbicara yang lembut dan gerakan gemulai setelah ia berusaha meninggalkannya. Sedangkan bila ia masih dapat meninggalkannya walaupun secara bertahap, maka ia dianggap berdosa bila melakukannya tanpa udzur.[4]

Dari keterangan tadi, dapat disimpulkan bahwa banci terbagi menjadi dua.
Pertama: Banci alami. Yaitu seseorang yang ucapannya lembut dan tubuhnya gemulai secara alami, dan ia tidak dikenal sebagai orang yang suka berbuat keji. Maka orang seperti ini tidak dianggap fasik. Dia bukan orang yang dimaksud oleh hadits-hadits di atas sebagai objek celaan dan laknat.

Kedua: Banci karena sengaja meniru-niru kaum wanita, dengan melembutkan suara ketika berbicara, atau menggerakan anggota badan dengan lemah gemulai. Perbuatan ini adalah kebiasaan tercela dan maksiat yang menjadikan pelakunya tergolong fasik.[5]

Pembagian ini juga berlaku bagi wanita yang menyerupai laki-laki (waria). Sebab pada dasarnya kaum wanita juga terkena perintah dan larangan dalam agama sebagaimana laki-laki, selama tidak ada dalil yang mengecualikannya.

Jadi, tindakan menyerupai lawan jenis yang disengaja bukanlah hal sepele. Tindakan itu tergolong dosa besar dan merupakan perbuatan tercela. Nantinya tidak hanya berpengaruh secara lahiriyah, namun juga merusak kejiwaan. Seorang banci memiliki fisik seperti laki-laki, namun jiwanya menyerupai wanita. Demikian pula waria yang fisiknya wanita, namun jiwanya laki-laki. Mereka sengaja mengubah fisik dan kejiwaan aslinya, sehingga hati mereka pun turut berubah dan rusak karenanya. Oleh sebab itu, kaum banci dan waria jarang sekali mendapat hidayah dan bertaubat dari dosa besar tersebut. Ini merupakan peringatan dari Allâh Ta’âla agar kita mengambil pelajaran darinya, dan bersyukur kepada-Nya yang telah menjadikan kita memiliki jiwa dan raga yang sehat wal afiat.

PROFESI BANCI

Mungkin yang terlintas dalam benak kita ketika membayangkan profesi banci, bencong, waria, ialah seperti penata rias (salon), pengamen, pelawak, penjaja cinta (PSK) atau desainer busana. Akan tetapi, bila kita merujuk ke penjelasan para Salaf, ternyata ada juga yang mereka anggap sebagai profesi banci, dan kini banyak dilakoni oleh lelaki normal, bahkan terkesan sebagai profesi keren, seperti menjadi penyanyi.

Al-Marwazi rahimahullâh meriwayatkan dari Imam Ahmad rahimahullâh, bahwasanya beliau mengatakan: “Penghasilan orang banci adalah kotor, sebab ia mendapatkan uang lewat menyanyi, dan orang banci tidaklah menyanyikan sya’ir-sya’ir yang mengajak untuk zuhud; namun ia bernyanyi seputar cinta, asmara, atau meratapi kematian”. Dari sini, jelaslah bahwa Imam Ahmad rahimahullâh menganggap penghasilan seorang banci sebagai sesuatu yang makruh.[6]

Bila dicermati, yang dimaksud ‘makruh’ oleh Imam Ahmad ialah karâhah tahrîm, alias makruh yang berarti haram. Sebab beliau mengaitkannya dengan hal-hal yang sifatnya haram, seperti bernyanyi seputar cinta, asmara, dan meratapi orang mati.

Jadi, seorang penyanyi yang nampak gagah di mata banyak orang hari ini, menurut para Salaf adalah orang banci, dan penghasilan mereka sifatnya haram, karena diperoleh melalui cara yang haram. Apalagi jika ia sengaja bertingkah laku seperti wanita (pura-pura banci), maka lebih haram lagi, sebagaimana yang sering dilakukan para pelawak.

Demikian pula banci yang bekerja di salon dan melayani wanita yang bukan mahramnya, ini juga makruh hukumnya bila ia seorang banci alami, sebab profesi ini justru melestarikan sifat bancinya, padahal ia diperintahkan untuk meninggalkan sifat tersebut. Namun bila ia sekedar pura-pura banci, maka pekerjaan ini jelas haram hukumnya.

Apalagi yang berprofesi sebagai bencong penjaja cinta dan akrab dengan tindak-tindak asusila, maka jauh lebih diharamkan lagi, karena mereka melakukan perbuatan kaum Luth yang sangat tercela dan berat sanksinya dalam agama. Bahkan saking bejatnya perbuatan ini, pelakunya tidak pantas dibiarkan hidup.

BEBERAPA KEBIASAAN BANCI

1. Memacari (Mewarnai) Tangan dan Kaki.
Imam Nawawi rahimahullâh mengatakan, “Mewarnai kedua tangan dan kaki dengan pacar (hena) dianjurkan bagi wanita yang bersuami. Hal ini berdasarkan sejumlah hadits yang masyhur dalam bab ini. Akan tetapi ia haram bagi kaum lelaki, kecuali bila digunakan sebagai obat dan semisalnya. Salah satu dalil yang menunjukkan keharamannya ialah sabda Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahîh, bahwa Allâh melaknat kaum lelaki yang menyerupai perempuan dan kaum perempuan yang menyerupai lelaki. Demikian pula dalam hadits shahîh dari Anas, bahwa Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melarang orang laki-laki menggunakan za’faran. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Larangan ini berkenaan dengan warnanya, bukan dengan aromanya; sebab menggunakan sesuatu yang harum hukumnya sunnah bagi lelaki. Hena (pacar), dalam hal ini juga sama dengan za’faran (saffron).[7]

Imam asy-Syaukani rahimahullâh mengatakan, “Telah dijelaskan bahwa mewarnai tangan dan kaki dengan pacar adalah perbuatan kaum wanita. Dan sebagaimana diketahui, hal ini dilakukan oleh lelaki yang ingin menyerupai wanita”.[8][

2. Menabuh Gendang.
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh mengatakan, “Karena menyanyi, menabuh rebana, dan bertepuk tangan adalah perbuatan wanita; maka para salaf menamakan kaum lelaki yang melakukannya sebagai ‘banci’ (mukhannats). Mereka menamakan para penyanyi sebagai kaum banci, dan ini sangat populer dalam ucapan mereka.”[9]

3. Menyanyi.
Syaikhul-Islam rahimahullâh juga mengatakan, “Salah satu perbuatan muhdats (baru; bid’ah) yang diadakan oleh mereka (kaum sufi) ialah mendengarkan nyanyian para banci yang terkenal sebagai biduan orang-orang fasik dan pezina. Atau terkadang mereka mendengarkan nyanyian bocah-bocah kecil berwajah tampan, atau kaum wanita jelita; sebagaimana kebiasaan pengunjung tempat-tempat hiburan…”.[10]

4. Berjoget.
Menurut madzhab Hanafi, orang yang menghalalkan berjoget adalah kafir. Yang dimaksud joget di sini, artinya melakukan gerakan miring kesana kemari yang disertai membungkukkan dan mengangkat badan dengan cara tertentu, sebagaimana tarian tarekat sufi.[11]

Adapun menurut ulama Syafi’iyyah, berjoget tidak diharamkan kecuali bila gerakannya lemah gemulai seperti orang banci. [12]

Sedangkan menurut ulama Malikiyah dan Hanabilah, berjoget hukumnya makruh.[13]

Ash-Shan’ani rahimahullâh mengatakan: “Berjoget dan bertepuk tangan adalah kebiasaan orang fasik dan bejat; bukan kebiasaan orang yang mencintai Allâh dan takut kepada-Nya…”.[14]

5. Memangkas Jenggot Dan Mencukurnya.
Maksudnya, ialah jenggot yang panjangnya kurang dari satu genggam. Ibnu Abidin mengatakan, “Adapun memangkas jenggot yang panjangnya kurang dari satu genggam, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang Maghrib dan lelaki banci, maka tidak ada seorang alim pun yang membolehkannya.”[15]

BEBERAPA ATURAN TERKAIT ORANG BANCI

1. MENJADI IMAM SHALAT

Jika yang bersangkutan banci alami, maka ia sah menjadi imam shalat. Dan ia tetap diperintahkan untuk berusaha meninggalkan sikap bancinya secara kontinyu dan bertahap. Bila ternyata belum bisa juga, maka tidak ada celaan baginya.

Adapun jika ia pura-pura banci, maka ia dianggap fasik. Dan orang fasik hukumnya makruh menjadi imam, demikian menurut ulama Hanafiyah, Syafi’iyah, Zhahiriyah, dan salah satu riwayat dalam madzhab Maliki.[16]

Adapun menurut ulama Hanabilah dan Malikiyah dalam riwayat lainnya, orang fasik tidak sah menjadi imam shalat.[17]] Hal ini didasarkan kepada pendapat Imam az-Zuhri rahimahullâh yang mengatakan, “Menurut kami, tidak boleh shalat bermakmum di belakang laki-laki banci, kecuali dalam kondisi darurat yang tidak bisa dihindari lagi,” sebagaimana yang dinukil oleh Imam al-Bukhâri[18]


2. BOLEHKAH SEORANG BANCI MEMANDANG WANITA ?

Masalah ini tidak lepas dari dua kondisi:
Pertama : Jika orang banci tersebut memiliki kecenderungan terhadap wanita, maka tidak ada khilaf dalam hal ini bahwa ia diharamkan dan termasuk perbuatan fasik.[19]

Kedua : Ia seorang banci alami yang tidak memiliki kecenderungan terhadap wanita, maka dalam hal ini terdapat dua pendapat:

1. Ulama Malikiyah, Hanabilah dan sebagian Hanafiyah memberi rukhsah (keringanan) baginya untuk berada di tengah kaum wanita dan memandang mereka. Dalilnya ialah firman Allâh ketika menjelaskan siapa saja yang boleh melihat wanita, dan siapa saja yang kaum wanita boleh berhias di hadapannya, yaitu: أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الِإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ yang terjemahannya: “atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak bersyahwat (terhadap wanita)..”.[20]

2. Ulama Syafi’iyah dan mayoritas Hanafiyah, berpendapat bahwa lelaki banci meskipun tidak bersyahwat terhadap wanita, tetap tidak boleh memandang kepada wanita. Dalam hal ini ia tetap dihukumi sebagai lelaki normal.[21]

Dalilnya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ عِنْدَهَا وَفِي الْبَيْتِ مُخَنَّثٌ، فَقَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ أَخِي أُمِّ سَلَمَةَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ، إِنْ فَتَحَ اللَّهُ لَكُمْ غَدًا الطَّائِفَ، فَإِنِّي أَدُلُّكَ عَلَى بِنْتِ غَيْلَانَ؛ فَإِنَّهَا تُقْبِلُ بِأَرْبَعٍ وَتُدْبِرُ بِثَمَانٍ! فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : لَا يَدْخُلَنَّ هَؤُلَاءِ عَلَيْكُنَّ

Sesungguhnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersamanya dan saat itu di rumahnya terdapat seorang banci, maka Si banci tadi berkata kepada Abdullâh saudara Ummu Salamah, “Hai Abdullâh, jika besok Allâh menaklukkan kota Thaif bagi kalian; maka akan kutunjukkan kepadamu puteri Ghailan yang dari depan menampakkan empat lipatan sedangkan dari belakang terlihat delapan,” maka Rasûlullâh bersabda, “Jangan sekali-kali mereka (orang-orang banci itu) masuk ke tempat kalian (kaum wanita)”.[22]

Hadits ini menunjukkan bahwa banci yang dilarang untuk masuk ke tempat wanita ialah banci yang memiliki kecenderungan (bersyahwat) terhadap wanita, sebab ia bisa menceritakan keindahan tubuh wanita yang pernah dilihatnya kepada lelaki. Sehingga dikhawatirkan ia akan membongkar aurat wanita muslimah bila dibiarkan keluar masuk ke tempat mereka. Adapun banci alami yang sama sekali tidak bersyahwat terhadap wanita, tidak akan melakukan hal tersebut.

Kesimpulannya : Pendapat yang râjih adalah pendapat pertama yang sesuai dengan zhahir al-Qur’ân.

3. KESAKSIAN ORANG BANCI

Menurut ulama Hanafiyyah, orang banci yang tertolak kesaksiannya ialah yang sengaja berbicara lemah-lembut dan kemayu (manja) seperti wanita. Adapun bila ia memiliki nada suara yang lembut dan fisiknya lembek secara alami, dan tidak dikenal sebagai orang bejat; maka kesaksiannya masih diterima.[23]

Adapun ulama Syafi’iyah dan Hanabilah menganggap bahwa menyerupai wanita adalah perbuatan haram yang menjadikan kesaksian seseorang tertolak. Tentunya, yang dimaksud bila sengaja menyerupai wanita, bukan karena pembawaannya.[24]

Sedangkan menurut ulama Malikiyah, diantara yang tertolak kesaksiannya ialah seseorang yang tidak mempunyai rasa malu, dan termasuk sikap ini ialah bertingkah banci.[25]

Kesimpulannya : Madzhab yang empat sepakat bahwa status kesaksian orang banci perinciannya seperti yang dijelaskan oleh ulama Hanafiyah.

4. SANKSI BAGI ORANG BANCI

Lelaki yang sengaja bertingkah seperti wanita (pura-pura banci) tidak lepas dari dua keadaan:

Pertama : Laki-laki yang sengaja bertingkah sebagai banci tanpa terjerumus dalam perbuatan keji, ini tergolong maksiat yang tidak ada had maupun kaffaratnya. Sanksi yang pantas diterimanya bersifat ta’zir (ditentukan berdasarkan pertimbangan hakim), sesuai dengan keadaan si pelaku dan kelakuannya. Dalam hadits disebutkan, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjatuhkan sanksi kepada orang banci dengan mengasingkannya atau mengusirnya dari rumah. Demikian pula yang dilakukan oleh para Sahabat sepeninggal beliau.

Adapun ta’zir yang diberlakukan meliputi:
1. Ta’zir berupa penjara. Menurut madzhab Hanafi, lelaki yang kerjaannya menyanyi, banci, dan meratapi kematian pantas dihukum dengan penjara sampai mereka bertaubat[26]

2. Ta’zir berupa pengasingan. Menurut madzhab Syafi’i dan Hambali, seorang banci hendaklah diasingkan walaupun perbuatannya tidak tergolong maksiat (alias ia memang banci asli). Akan tetapi pengasingan tadi dilakukan untuk mencari kemaslahatan.[27]

Ibnul-Qayyim rahimahullâh mengatakan, “Termasuk siasat syar’i yang dinyatakan oleh Imam Ahmad, ialah hendaklah seorang banci itu diasingkan; sebab orang banci hanya menimbulkan kerusakan dan pelecehan atas dirinya. Penguasa berhak mengasingkannya ke negeri lain yang di sana ia terbebas dari gangguan orang-orang. Bahkan jika dikhawatirkan keselamatannya, orang banci tadi boleh dipenjara”.[28]

Kedua : Orang banci yang membiarkan dirinya dicabuli dan disodomi.
Orang banci seperti ini sanksinya diperselisihkan oleh para ulama. Banyak fuqaha’ yang berpendapat, ia pantas mendapat hukuman seperti pezina. Sedangkan Imam Abu Hanifah rahimahullâh berpendapat, hukumannya adalah ta’zir yang bisa sampai ke tingkat eksekusi, (seperti:) dibakar, atau dijungkalkan dari tempat yang tinggi. Sebab para sahabat juga berbeda pendapat tentang cara menghukumnya.[[29]

NASIHAT BAGI LELAKI BANCI

Sebagai penutup, kami nasihatkan kepada siapa saja yang tergolong banci, agar segera bertaubat kepada Allâh Ta’âla. Tekunlah belajar ilmu syar’i yang dapat mendorong untuk taat kepada Allâh Ta’âla dan menghindari maksiat. Bertemanlah dengan orang-orang yang baik agar mereka mendorong dan menolong dalam kebaikan.

Hendaklah disadari, bahwa orang yang paling merugi ialah mereka yang merugi di dunia dan akhirat. Ia harus banyak berdoa, sebab dengan doa, Allâh Ta’âla akan mewujudkan harapan dan menerima taubatnya.
Wallâhu Ta’ala a’lam.[30]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR al-Bukhâri dalam Shahîhnya, no. 5886. Menurut al-Hâfizh Ibnu Hajar, dalam riwayat versi Abu Dzar al-Harawi –salah seorang perawi kitab Shahîh al-Bukhâri yang menjadi acuan Ibnu Hajar dalam menyusun Fathul-Bâri-, akhir hadits ini menyebutkan bahwa Umar mengusir Si Fulanah (wanita). Adapun dalam riwayat-riwayat lainnya disebutkan Si Fulan (pria).
[2]. HR al-Bukhâri dalam Shahîhnya, no. 5885, dari jalur ‘Ikrimah pula.
[3]. Lihat Mu’jam Lughatil-Fuqaha’, 1/417.
[4]. Fathul-Bâri, 10/332.
[5]. Pembagian ini juga difahami dari penjelasan sejumlah ulama dalam kitab-kitab mereka, seperti Ibnu Abdil-Barr dalam at-Tamhîd, 22/273; Ibnu Qudamah dalam al-Mughni, 7/462; dan asy-Syirbini dalam Mughnil-Muhtâj, 4/430.
[6]. Talbis Iblis, 1/281; Majalah al-Fiqh al-Islamy, 4/1923.
[7]. Lihat al-Majmu’, 1/294.
[8]. Lihat as-Sailul-Jarrar, 4/126.
[9]. Majmu’ Fatawa, 11/565-566. Lihat pula I’anatut Thalibin, 6/121; Mughnil-Muhtaaj, 4/430; al-Mughni, 12/40.
[10]. Al-Istiqamah, 1/306; Majmu’ Fatawa, 11/565-566.
[11]. Lihat Hâsyiyah Ibnu Abidin, 4/259.
[12]. Lihat al-Minhâj, 1/497, oleh an-Nawawi.
[13]. Lihat Hâsyiyah ash-Shawi, 5/217; al-Inshaf, 6/89.
[14]. Subulus-Salâm, 5/1.
[15]. Hâsyiyah Ibnu Abidin, 2/418.
[16]. Lihat al-Mabsuth, 1/111; al-Umm, 1/166; al-Majmu’, 4/287; asy- Syarh al-Kabîr, 1/326 dan al-Muhalla, 4/212.
[17]. Lihat al-Inshaf, 2/252; Syarah Muntahal Iradat, 1/272; at-Tâj wal-Iklîl, 2/93.
[18]. Shahîh al-Bukhâri, 1/141, secara mu’allaq.
[19]. Lihat Fathul-Qadîr, 2/222; at-Tamhîd, 22/273; Mughnil-Muhtâj, 3/128 dan al-Mughni, 7/462.
[20]. Penggalan dari ayat 31 Surat an-Nûr. Lihat at-Tamhîd, 22/273 dan al-Mughni, 7/462.
[21]. Lihat Mughnil-Muhtâj, 3/128 dan al-Mabsuth, 12/382.
[22]. HR al-Bukhâri dalam Shahîhnya, no. 5887. Yang dimaksud lipatan di sini adalah lipatan perut yang berjumlah empat bila dilihat dari depan, sedangkan dari belakang ujung-ujungnya di kedua sisi berjumlah delapan.
[23]. Fathul-Qadîr, 17/130.
[24]. Al-Muhadzdzab, 2/325 dan al-Mughni, 12/40.
[25]. Hâsyiyah ad-Dasuqi, 4/166.
[26]. Al-Mabsuth, 27/205.
[27]. Mughnil Muhtâj, 4/192; al-Fatawa al-Kubra, 5/529.
[28]. Bada’i al Fawa-id, 3/694.
[29]. Lihat al-Mabsuth, 11/78; al-Fawakih ad-Dawani, 2/209; Raudhatut-Thalibin, 10/90, dan , 10/155.
[30]. Sebagian besar pembahasan dalam tulisan ini diangkat dari artikel berjudul ( الأحكام الشرعية في المخنث ) oleh Ra’fat al- Hamid al- ‘Adani, dari situs: www.ahlalhdeeth.com

Oleh
Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan, MA


Sumber: https://almanhaj.or.id/4263-banci-dalam-tinjauan-syariat.html

Wednesday, 14 June 2017

Hukum Sholat Tarawih dan Berapakah Jumlah Rokaatnya

Hukum Sholat Tarawih dan Berapakah Jumlah Rokaatnya

Hukum Sholat Tarawih dan Berpakah Jumlah Rokaatnya



Pertanyaan
 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hukum shalat Tarawih, dan berapakah jumlah rakaatnya? 

Jawaban 

Shalat tarawih adalah sunnah sebagaimana diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kitab Shahihain dari Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu malam shalat di masjid. Orang-orangpun ikut shalat bersama beliau. Malam berikutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga shalat dan orang-orang yang mengikuti semakin banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ke tiga atau ke empat tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar mengimami mereka. Ketika memasuki pagi hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :  “Aku telah melihat apa yang telah kalian kerjakan. Dan tidak ada yang menghalangiku dari keluar mengimami  kalian kecuali karena aku takut hal ini diwajibkan atas kalian”. Persitiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan.

Sedangkan jumlahnya adalah sebelas rakaat.

كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ، فَقَالَتْ مَاكَانَ يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً


Berdasar riwayat dalam shahihain dari Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwasanya beliau ditanya tentang shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bulan Ramadhan? Aisyah Radhiyallahu anhuma menjawab : Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak melebihi dari sebelas rakaat baik dalam bulan ramadhan ataupun selainnya.[1]

Jika melakukan shalat tiga belas rakaat, juga tidak masalah, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma. “Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tiga belas raka’at” yaitu  shalat malam riwayat Bukhari.[2]

Jumlah sebelas rakaat, jelas bersumber dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma sebagaimana terdapat dalam kitab Al-Muwaththa’ dengan sanad yang paling shahih.[3] 

Jika lebih daripada itu maka tidak mengapa, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya tentang shalat malam, beliau bersabda : “dua rakaat dua rakaat”. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasinya.

Riwayat dari para salaf tentang  jumlah rakat bermacam-macam. Tapi yang lebih utama adalah mencukupkan dengan yang dikerjakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu sebelas ataupun tiga belas rakaat.

Dan tidak ada riwayat shahih yang menyebutkan baha Nabi dan para Khulafaur Rasyidin melakukan shalat 23 rakaat. Bahkan jelas riwayat dari Umar Radhiyallahu anhu adalah 11 rakaat. Dimana beliau Radhiyallahu anhu memerintahkan Ubai bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari Radhiyallahu anhuma untuk mengimami manusia dengan 11 rakaat.[4] 

Inilah riwayat yang tepat, bahwa apa yang Umar Radhiyallahu anhu kerjakan adalah apa yang juga dikerjakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan  kami tidak mengetahui ada sahabat yang melakukannya melebihi 23 rakaat. Bahkan yang nampak tidaklah demikian. Telah disebutkan di muka perkataan Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menambah lebihdari sebelas rakaat baik pada bulan Ramadhan ataupun bulan lainnya.

Adapun ijma’ para sahabat Radhiyallahu anhum maka tidak diragukan lagi sebagai hujjah (dalil). Karena diantara mereka ada Khulafaur Rasyidin yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikuti mereka, karena memang merekalah sebaik-baik generasi dari ummat ini.

Ketahuilah bahwa perbedaaan pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih dan yang lainnya yang memang terbuka padanya pintu ijtihad maka tidak seyogyanya menjadi pintu untuk berpecah belah antar ummat, terlebih memang salaf pun berbeda pendapat tentang hal itu. Dan hal ini memang tidak menutup kemungkinan pintu ijtihad. Dan alangkah bagusnya perkataan salah seorang ahli ilmu saat ada orang yang menyelisihi pendapatnya pada masalah yang terbuka pintu ijtihad padanya : “Sesungguhnya dengan anda menyelisihi pendapatku maka engkau telah sependapat denganku. Maka setiap kita melihat, wajib mengikuti yang benar menurut pendapatnya untuk masalah yang diperbolehkan berijtihad”.

Kita memohon kepada Allah Azza wa Jalla untuk semuanya saja agar memberi petunjuk kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, Edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah Furqon Syuhada, Qosdi Ridwanullah, Penerbita Pustaka Arafah]
_______
Footnote

[1] HR Bukhari “Kitab Tahajjud” bab Shalat Malam Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (1147) dan Muslim Kitab Shalatul Musafirin, bab Shalat Malam (125)

[2] Dalam kitab Tahajjud bab : Bagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat (1137) dan Muslim dalam Shalat Musafir, bab Doa dalam shalat malam (764)

[3] Dalam “Shalat” bab Tentang Shalat malam bulan Ramadhan 1/110 (280)

[4] HR Malik dalam “Shalat” Bab Riwayat tentang shalat bulan Ramadhan (280)



Oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin




Sumber: https://almanhaj.or.id/6887-hukum-shalat-tarawih-dan-berapakah-jumlah-rakaatnya.html

Tuesday, 13 June 2017

Khotbah Nikah yang Berbelok

Khotbah Nikah yang Berbelok - Abul Aswad Ad-Duali–peletak dasar ilmu nahwu (gramatika Arab)–suatu hari berkata kepada anaknya, “Nak, saudara sepupumu ingin menikah. Ia menginginkanmu baca khotbah nikah. Untuk mesti Kauhapal itu khotbah nikah.”


Khotbah Nikah yang Berbelok

Selama dua hari-dua malam suntuk anak itu mempelajari khotbah nikah.

“Sudah siap?” kata Abul Aswad kepada anaknya di hari ketiga.

“Sudah dong pak, aku sudah mengapalnya.”

“Coba baca, aku mau dengar,” kata bapaknya.

“Baik, simak dan perhatian dengan seksama Pak.”

Lalu anaknya mulai membaca khotbah. “Alhamdulillâhi nahmaduhû, wa nast’înuhû, wa natawakkalu alaih. Wa nasyhadu an lâ ilâha illallâh, wa anna muhammadar rasûlullâh. Hayya alas shalâh, hayya alal falâh….


“Stop, jangan iqamah dulu. Aku belum bersuci,” kata Abul Aswad dengan jengkel. (Alhafiz K)


*) Dikutip dari Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin (Hikayat Orang Dungu dan Lalai) karya Ibnul via NU or id

Saturday, 10 June 2017

Eksploitasi Kemiskinan Dalam Bisnis Pertelevisian

Eksploitasi Kemiskinan Dalam Bisnis Pertelevisian - Bisnis pertelevisian memang menggiurkan. Banyak stasiun televisi menghadirkan berbagai tayang banyak memikat. Semakin banyak yang menonton televisi tersebut tentunya semakin tinggi ratingnya dan semakin besar pula penghasilan stasiun televisi tersebut. 

Eksploitasi Kemiskinan Dalam Bisnis Pertelevisian


Kreatifitas menjadi salah satu modal agar stasiun televisi semakin berkembang. Namun sekarang yang terjadi kreatifitas yang kurang pas. Misalnya saja menampilkan acara audisi yang tak berujung atau acara lawak yang garing. Ya, acara lawak garing, penonton bayaran diperintah untuk tertawa. Seaakan lucu padahal tidak sama sekali. 

Namun sekarang yang paling tidak cocok untuk ditampilkan adalah acara mengundang orang yang hidupnya kurang mampu di suruh bernyanyi untuk merebutkan hadiah. Bisa juga acara yang menampilkan orang miskin yang latar kehidupannya menyedihkan, atau bisa juga dibuat seakan-akan menyedihkan.

Kesedihan yang seakan-akan orang tersebut paling susah di dunia dijadikan lahan bisnis orang yang bermain di balik layar. Betapa tidak. Jika acara tersebut sukses dan banyak yang menonton tentu pembuat acara tersebut semakin sukses meraup uang. 

Apakah yang miskin yang ditampilkan mendapat penghasilan seperti orang dibalik layar. Tentunya tidak. Mereka dimanfaatkan saja untuk menambah kekayaan.

Ada yang berpendapat bahwa acara yang "Menyedihkan" tersebut bertujuan membantu orang miskin tersebut ? Yakin seperti itu ? kalau seperti itu kenapa harus menggunakan acara lomba menyanyi ?

Atau pendapat lain, agar penonton bersyukur karena ada yang kurang beruntung atau lebih susah daripada kita. Benarkah ? Jika memang tujuannya seperti bagus juga namun sayangnya itu seakan-akan hanya ilusi. Tujuan agar penonton bersyukur mungkin beberapa persen saja. Yang besar tujuannya adalah menjadikan kesedihan orang lain menjadi lahan bisnis. 

Ajarilah cara memancing dan cara menggunakan alat pancing jangan cuma memberi ikan saja. Mungkin itu yang lebih tepat.

Friday, 9 June 2017

Hukum Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang

Hukum Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang - Ada khilafiyah di kalangan fuqaha dalam masalah penunaian zakat fitrah dengan uang. Pertama, pendapat yang membolehkan. Ini adalah pendapat sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Tsauri, Imam Bukhari, dan Imam Ibnu Taimiyah. (As-Sarakhsi, al-Mabsuth, III/107; Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, XXV/83).

Hukum Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang


Dalil mereka antara lain firman Allah SWT ,”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka.” (QS at-Taubah [9] : 103). Menurut mereka, ayat ini menunjukkan zakat asalnya diambil dari harta (mal), yaitu apa yang dimiliki berupa emas dan perak (termasuk uang). Jadi ayat ini membolehkan membayar zakat fitrah dalam bentuk uang. (Rabi’ Ahmad Sayyid, Tadzkir al-Anam bi Wujub Ikhraj Zakat al-Fithr Tha’am, hal. 4).

Mereka juga berhujjah dengan sabda Nabi SAW,”Cukupilah mereka (kaum fakir dan miskin) dari meminta-minta pada hari seperti ini (Idul Fitri).” (HR Daruquthni dan Baihaqi). Menurut mereka, memberi kecukupan (ighna`) kepada fakir dan miskin dalam zakat fitrah dapat terwujud dengan memberikan uang. (Abdullah Al-Ghafili, Hukm Ikhraj al-Qimah fi Zakat al-Fithr, hal. 3).

Kedua, pendapat yang tidak membolehkan dan mewajibkan zakat fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok (ghalib quut al-balad). Ini adalah pendapat jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. (Al-Mudawwanah al-Kubra, I/392; Al-Majmu’, VI/112; Al-Mughni, IV/295)

Karena ada dua pendapat yang berbeda, maka kita harus bijak dalam menyikapinya. Ulama sekaliber Imam Syafi’i, mujtahid yang sangat andal saja berkomentar tentang pendapatnya dengan mengatakan, ”Bisa jadi pendapatku benar, tapi bukan tak mungkin di dalamnya mengandung kekeliruan. Bisa jadi pendapat orang lain salah, tapi bukan tak mungkin di dalamnya juga mengandung kebenaran.”

Dalam masalah ini, sebagai orang awam (kebanyakan), kita boleh bertaqlid (mengikuti salah satu mazhab yang menjadi panutan dan diterima oleh umat). Allah tidak membebani kita di luar batas kemampuan yang kita miliki. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”  (Al-Baqarah [2]: 286).

Sesungguhnya masalah membayar zakat fitrah dengan uang sudah menjadi perbincangan para ulama salaf, bukan hanya terjadi akhir-akhir ini saja. Imam Abu Hanifah, Hasan Al-Bisri, Sufyan Ats-Tsauri, bahkan Umar bin Abdul Aziz sudah membincangkannya, mereka termasuk orang-orang yang menyetujuinya. Ulama Hadits seperti Bukhari ikut pula menyetujuinya, dengan dalil dan argumentasi yang logis serta dapat diterima.

Menurut kami, membayar zakat fitrah dengan uang itu boleh, bahkan dalam keadaan tertentu lebih utama. Bisa jadi pada saat Idul Fitri jumlah makanan (beras) yang dimiliki para fakir miskin jumlahnya berlebihan. Karena itu, mereka menjualnya untuk kepentingan yang lain. Dengan membayarkan menggunakan uang, mereka tidak perlu repot-repot menjualnya kembali yang justru nilainya menjadi lebih rendah. Dan dengan uang itu pula, mereka dapat membelanjakannya sebagian untuk makanan, selebihnya untuk pakaian dan keperluan lainnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

(Sumber: Konsultasi Zakat LAZIZNU dalam Nucare yang diasuh oleh KH. Syaifuddin Amsir / Red. Ulil H) 
Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/46326/menunaikan-zakat-fitrah-menggunakan-uang

Thursday, 8 June 2017

Makna Janur Kuning Dalam Acara Pernikahan

Makna Janur Kuning Dalam Acara Pernikahan - Dalam acara pernikahan di pulau jawa tentunya sudah tidak asing lagi dengan janur kuning. Mengapa harus ada janur kuning dalam acara pernikahan ? Mengapa demikian ? Dan juga mengapa ada pisang, tarub, dan lain sebagainya. Adakah makna di dalam setiap benda tersebut ?
Makna Janur Kuning Dalam Acara Pernikahan - Makna setiap elemen dalam acara pernikah mulai dari tarub, janur kuning, pohon pisang, cengkir gading, tebu dan lainnya


Ternyata dalam adat jawa setiap benda dalam acara pernikahan itu bermakna. Termasuk dalam acara pernikahan di jawa. Berikut jawabannya. 

Janur Kuning

Janur bisa bermakan Ja'a Nur yang mana merupakan bahasa arab yang apabila dimaknai menjadi Datangnya Cahaya. Dengan harapan acara pernikahnya tersebut di ridhoi Allah SWT. Dan juga makna warna kuning merupakan makna dari cahaya hati yang bersih. Secara keseluruhan bisa bermakna bahwa acara tersebut sukses dan mendapat ridho Allah dengan hati yang bersih dan tulus.

Janur kuning juga biasanya dipasang pada hiasan pintu masuk. Dipakai untuk membuat Kembar mayang dan sebagai bahan dalam membuat pajangan Mayang Sari yang dipasang di sisi kanan dan kiri sasana sewaka (pelaminan).

Tarub

Tarub merupakan tenda besar yang digunakan untuk acara pernikahan. Inipun memiliki makna tersendiri yakni tarub berasal dari kata ditata karep ben murup (ditata agar lebih hidup), kegiatan ini berupa penataan ruang dan pemasangan tenda di sekitar rumah yang punya hajat untuk dijadikan sebagai tambahan ruang bagi para tamu maupun para rewang yang membantu jalannya acara pernikahan.

Pohon Pisang

Kenapa ada pisang beserta pohonnya dalam acara pernikahan ? Kenapa tidak buahnya saja ya ? Dan juga kenapa harus pisang Raja ? Ternyata ini juga memiliki makna loh. Pohon pisang ini bermakna rasa cinta sejati. Maknanya demikian karena buah pisang seumur hidup hanya berbuah sekali. Ini merupakan harapan bahwa manusia dalam membangun keluarga cukup sekali saja sebagai pasangan yang setia sehidup-semati.

Namun ada pendapat lain yang bermakna lain yakni adanya pisang raja diharapkan kedua mempelai kelak bisa menajadi Raja dan Ratu yang mampu memimpin sekaligus menjadi suri tauladan bagi anak-cucunya.

Pisang yang di pasang di acara pernikahan pun biasanya suluhan atau matang secara alami. Mengapa demikian ? Pemilihan pisang raja yang matang secara alami (suluhan) biasa diartikan kedua mempelai adalah pribadi yang benar-benar sudah dewasa, bukan produk karbitan.

Ada pula elemen pendukung sandang, pangan dan papan biasanya disimbolkan dengan berbagai dedaunan yang dirangkai disekitar pohon pisang raja. Dahan, daun dan buah kapas melambangkan sandang, padi seuntai melambangkan pangan, dan dahan beringin melambangkan papan yang juga bisa dimaknai sebagai pengayom.

Cengkir Gading

Cengkir kuning/gading (kelapa gading muda). Cengkir dari kata kencengging pikir (teguh pemikirannya/kemauan yang keras), Gading atau warna kuning dari kata kalbu kang wening (hati yang bening/bersih). Dari cengkir gading inilah ada sebuah pesan bahwa kedua mempelai diharapkan dapat memiliki kemauan yang keras dari hati yang suci untuk dapat mencapai tujuan bersama.

Tebu Wulung - Tebu Warna Hitam

Tebu Wulung (tebu warna hitam) biasanya juga melengkapi hiasan pada pisang raja. Secara filosofi Tebu berarti anteb ing kalbu (yakin dalam hati), dan Wulung yang berarti ulung, unggulan, sejati dan murni. Maknanya, dari mempelai diharapkan dalam membangun rumah tangga memiliki keyakinan yang teguh dalam hati, sehingga mampu menciptakan keluarga yang bahagia, sejahtera.

Ternyata makna dari setiap elemen dalam acara pernikahan adalah hal yang baik. Nah sudah tahu kan maknanya elemen-elemen dalam acara pernikahan itu seperti apa ? Semoga bermanfaat dan jangan lupa share.