Wednesday, 22 February 2017

Abu Nawas dan Sholat Jenazah

Abu Nawas dan Sholat Jenazah - Suatu ketika Abu Nawas mengikuti sholat jenazah di sebuah masjid. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba di pertengahan pelaksanaan sholat berlangsung seluruh jamaah dikejutkan oleh ulah Abu Nawas yang tiba-tiba saja bersujud, entah sengaja atau karena lupa. Karena seperti yang kita tahu bahwa sholat jenazah tidak ada sujud maupun rukuk.

Abu Nawas dan Sholat Jenazah


Tiba-tiba jamaah disekeliling Abu Nawas terkejut.

Setelah sholat selesai maka bertanyalah seseorang diantara jamah kepada Abu Nawas

"Wahai Abu Nawas, kenapa kamuu tadi kok sholat jenazah pakai sujud..??"

Dengan enteng, Abu Nawas menjawab,

"Mayat ini banyak banget dosa-nya jadi tidak cukup kalau sholatnya hanya diberi takbir aja, mesti ada sujud."


Tuesday, 21 February 2017

Profil Pondok Pesantren Al-Rosyid Dander Bojonegoro

Profil Pondok Pesantren Al-Rosyid Dander Bojonegoro

 
Pondok Pesantren Al-Rosyid adalah sebuah pondok pesantren di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur terletak di Jln. K.H.R Moh Rosyid Desa Ngumpakdalem Dander Bojonegoro yang merupakan salah satu pondok Alumni Gontor Ponorogo. Pondok ini mengkombinasikan pesantren dan metode pengajaran klasik berkurikulum seperti sekolah.

Sejarah Pondok Pesantren Al-Rosyid Dander Bojonegoro


Pondok Pesantren Al-Rosyid didirikan pada tahun 1959 oleh KH. Masyhur sebegai realisasi atas cita-cita dia untuk meneruskan dan menghidupkan kembali aktifitas Pondok Pesantren Kendal yang dirintis oleh KH. Muhammad Rosyid sejak tahun 1902, di mana setelah wafatnya dia pada tahun 1909 terjadi kevakuman yang cukup panjang.

Sebagai suatu lembaga pendidikan yang independent, yang tidak berafiliasi kepada salah satu golongan dengan berazazkan Islam, Pondok Pesantren Al-Rosyid berusaha semaksimal mungkin dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa demi terciptanya insan-insan kamil yang berilmu, beramal sholeh, bertakwa kepada Allah SWT, untuk mencapai kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Dengan membuat pola kegiatan dan pengajaran yang sedemikian rupa disertai upaya pengembangan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan sempurna, Pondok Pesantren Al-Rosyid berupaya untuk tetap eksis dengan semua tujuan yang ingin dicapainya.

Sepeninggal KH. Masyhur pada tanggal 1 Agustus 1974, perjuangan dan estafet kepemimpinan diteruskan oleh KH. Muhammad Sajjidun Murtadlo, BA (Alm), KH Alamul Huda Masyhur, KH. Muhammad Shofiyullah Masyhur dan dibantu oleh Dewan Asatidz lainnya.

Organisasi Kelembagaan
Pondok Pesantren Al-Rosyid Dander Bojonegoro

pada awal kepengurusan, Pondok Pesantren Al-Rosyid menganut pola menajemen “tradisional” di mana Kyai merupakan figur sentral dan semua kebijakan ada ditangan Kyai. Namun, setelah pondok pesantren ini berkembang menjadi besar dan untuk memudahkan penanganan dan pelaksanaan berbagai program kegiatannya, maka di bentuklahYayasan Pendidikan Pondok Pesantren Al-Rosyid (YPPPA).
Pendidikan Kepesantrenan

Pendidikan kepesantrenan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Rosyid seperti lazimnya di pesantren-pesantren lainnya, yaitu berupa kajian kitab. adapun kitab-kitab yang dikaji antara lain: Kitab Awamil, Al-Ajurumiyah, Imriti, Qowa’idul I’rab, Hidayatus Shibyan, Tuhfatul Athfal, Sulam Taufiq, Taqrib, Ta’limul Muta’allim dan kitab-kitab lainnya.
Keadaan Santri

Para santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al-Rosyid sampai saat ini (2014) sebanyak 1300 santri, mereka tersebar dalam berbagai jenjang pendidikan yakni: RA, MI, MTs dan MA.

Santri tersebut berasal dari berbagai Kabupaten di Jawa Timur, Seperti: Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Kediri, Jember, Blitar. Selain dari Jawa Timur, juga datang dari Propinsi lain, yaitu: Jawa Tengah (Cepu, Blora, Pati, Semarang, Jepara, Kudus dan Magelang) DIY, Jawa Barat, Sumatra Barat dan Kalimantan Selatan.

Jenjang Pendidikan di
Pondok Pesantren Al-Rosyid Dander Bojonegoro

  • RA (Roudlotul Athfal)
  • MI (Madrasah Ibtidaiyah)
  • MTs (Madrasah Tsanawiyah)
  • MA (Madrasah Aliyah)

Kurikulum yang digunakan di Pondok Pesantren Al-Rosyid adalah Kurikulum Kementrian Agama, Kurikulum yang diadopsi dari Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogodan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Dewan Asatidz di
Pondok Pesantren Al-Rosyid Dander Bojonegoro

Dalam menimba ilmu, para santri tersebut dibimbing oleh Bapak Kyai dan Ibu Nyai, serta dibantu oleh 71 Murabbi (pembimbing), 10 Tenaga Administrasi dan 4 orang pustakawan. Dewan Guru Pondok Pesantren Al-Rosyid berasal dari beberapa lembaga pendidikan, diantaranya berasal dari:
  • Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo
  • Pondok Pesantren Lirboyo Kediri
  • Pondok Pesantren Tanggir Tuban
  • Pondok Pesantren Al-Rosyid
  • Universitas Air Langga Surabaya
  • Universitas Negeri Malang
  • Universitas Darul Ulum Jombang
  • IKIP PGRI Bojonegoro
  • UIN Sunan Ampel Surabaya
  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Cendekia Bojonegoro
  • Sekolah Tinggi Agama Islam Bojonegoro
  • Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab Jakarta (LIPIA

sumber : http://alrosyid.com/

Monday, 20 February 2017

Nama Anak Islami

Nama Anak Islami - Pagi hari biasanya para ibu belanja untuk kebutuhan memasak. Kebetulan ada 2 orang ibu yang sedang belanja bareng di sebuah toko. 2 ibu tersebut sedang membahas nama anak mereka. Mereka berdua saling pamer makna anak mereka.

Nama Anak Islami



Ibu 1 : Nama anak saya islami sekali lohh bu, nurul jannah artinya cahaya surga

Ibu 2 : Anak aku juga islami kok..

Ibu 1 : TONI..??? itu mahh kebarat-baratan atuhh ibu…

Ibu 2 : Ehh, jangan salah, toni itu hanya panggilan saja, nama lengkapnya adalah A’uzubillahiminassayiTONIrojimm..

Saturday, 18 February 2017

Ketika Gus Mus Mensholati Mayit Non Muslim

Ketika Gus Mus Mensholati Mayit Non Muslim - Suatu hari, seorang warga Tionghoa beragama non muslim sowan ke kediaman KH Musthofa Bisri (Gus Mus), kiai kharismatik asal Rembang Jawa Tengah. Warga Tionghoa non muslim tadi masih tetangga sekaligus sahabat dekatnya Gus Mus.



Cina: Pak Kiai, ayah kami sore ini telah meninggal, nah tadi kami sekeluarga telah sepakat untuk meminta tolong pada pak kiai untuk menshalati jenazah ayah kami.

Gus Mus: (tanpa pikir panjang langsung menjawab) Ooo...Yooh, menko tak mrono....! (Ooo....ya, nanti saya datang!)

Lantas Gus Mus memanggil santri santrinya agar segera mendatangi rumah duka dan mendekati jenazah.

Gus Mus: Ayo segera kita sholat!

Santri: Shalat apa, Kiai?  Bukankah menyalati orang non muslim itu haram kiai?

Gus Mus: Shalat Ngasar to yooo! (Shalat Ashar to ya)

Santri: He he... lha itu mayitnya bagaimana?

Gus Mus: Hallah, junjung pindahno ning mburi kono kan berresss! (Hallah, angkat pindahkan ke belakang sana kan juga bisa)

Santri: Ooo njih kiai!

Selesai Sholat, tuan rumah komplain ke Gus Mus.

Cina: Pak Kiai, biasanya orang menshalati jenazah itu jenazahnya ditaruh di depan. Lha ini kok ditaruh dibelakang?

Gus Mus: Yang ditaruh di depan itu yang sudah ngerti jalan! Lha karena ayahmu belum apal jalan, maka ditaruh belakang!

Cina: He he...Oo gitu tooo..nggeh nggeh kiai. Maturnuwun.

Kisah Gus Mus menyalati mayit Cina non muslim ini diceritakan oleh KH Shorofuddin, santrinya Gus Mus. Jadi, teladan ini adalah cara ala kiai menjaga perasaan tetangga. Walau non muslim, mereka tetap manusia yang harus dihormati.

sumber : duta islam com

Thursday, 16 February 2017

Biografi Habiburrahman El Shirazy, Novelis Motivator Indonesia

Biografi Habiburrahman El Shirazy, Novelis Motivator Indonesia - Novelis satu ini memang hebat sekali. Banyak karya tulis beliau yang menginspirasi para pembacanya. Siapa lagi kalau bukan Habiburrahman El Shirazy. Beliau biasa di panggil Kang Abik ini merupakan alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir. 
Biografi Habiburrahman El Shirazy, Novelis Motivator Indonesia


Ayat-ayat Cinta merupakan Novel yang membuat para pembacanya ingin membaca berulang kali. Termasuk saya, sudah selesai kemudian ingin membaca lagi. Karya novel beliau memang banyak disisipkan motivasi-motivasi yang membuat para pembacanya menjadi bersemangat.

H. Habiburrahman El Shirazy, Lc. Pg.D., lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976. Karya-karyan Habiburrahman El Shirazy ini banyak diminati tak hanya di Indonesia, tetapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan, Australia, dan Komunitas Muslim di Amerika Serikat.

Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta, (2010) dan The Romance.

Semasa sekolah di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen beliau juga belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh Imam Al-Baiquri.

Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil adik-adiknya, semasa di SLTA pernah menulis teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menyutradarai pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Pernah meraih Juara II lomba menulis artikel se-MAN I Surakarta (1994). Pernah menjadi pemenang I dalam lomba baca puisi relijius tingkat SLTA se-Jateng (diadakan oleh panitia Book Fair’94 dan ICMI Orwil Jateng di Semarang, 1994). Pemenang I lomba pidato tingkat remaja se-eks Keresidenan Surakarta (diadakan oleh Jamaah Masjid Nurul Huda, UNS Surakarta, 1994).

Beliau juga pemenang pertama lomba pidato bahasa Arab se-Jateng dan DIY yang diadakan oleh UMS Surakarta (1994). Meraih Juara I lomba baca puisi Arab tingkat Nasional yang diadakan oleh IMABA UGM Jogjakarta (1994). Pernah mengudara di radio JPI Surakarta selama satu tahun (1994-1995) mengisi acara Syharil Quran Setiap Jumat pagi. Pernah menjadi pemenang terbaik ke-5 dalam lomba KIR tingkat SLTA se-Jateng yang diadakan oleh Kanwil P dan K Jateng (1995) dengan judul tulisan, Analisis Dampak Film Laga Terhadap Kepribadian Remaja. Beberapa penghargaan bergengsi lain berhasil diraihnya antara lain, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005 dan IBF Award 2006.

Dari novelnya yang berjudul "Ayat-ayat Cinta" dia sudah memperoleh royalti lebih dari 1,5 Milyar, sedangkan dari buku-bukunya yang lain tidak kurang ratusan juta sudah dia kantongi.

Wednesday, 15 February 2017

Kebiasaan Makan Yang Salah Yang Memasyarakat

Kebiasaan Makan Yang Salah Yang Memasyarakat - Indonesia sebagai negara yang sangat luas tentunya banyak makanan khas yang patut untuk kia cicipi. Setiap daerah memiliki makanan spesial yang mana di daerah lain belum tentu ada. Keaneragaman makanan ini merupakan anugerah dari Allah SWT yang patut kita syukuri.

Baca juga : Sego Boranan, Makanan Khas Lamongan    

Berbicara masalah makanan. Terkadang masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan yang salah dalam hal adab makan. Kebiasaan yang salah ini seharusnya dari demi hari harus dihilangkan agar anak turun kita tidak mengikuti kebiasaan yang salah tersebut. Apa saja kebiasaan yang salah dalam hal makan ini ?


Ambil Banyak Tak Dihabiskan

Kebiasaan Makan Yang Salah Yang Memasyarakat

Karena terlalu lapar akhirnya piring makan dipenuhi, namun akhirnya tidak dihabiskan. Itu merupakan contoh adab makan yang salah. Cobalah ukur kekuatan perut kita. Kalau hanya muat sedikit sebaiknya ambil sedikit saja, atau kalau kurang bisa nambah lagi. Mubadzir loh kalau ambil makanan kemudian tidak dihabiskan. Kalau dalam pengajian kitab kuning dalam Bab Adab makan ini dijelaskan secara detail bahwa banyak malaikat yang menjaga makanan kita. Kalau membuang makanan begitu saja malaikat tidak suka hal itu. Dan hal itu bisa menghambat rezeki.

Kalau pun terpaksa tidak bisa menghabiskan maka dalam hati perbanyak istigfar karena telah melakukan kesalahan yakni tidak bisa menghabiskan makanan. Berusahalah menghabiskan makanan tersebut.

 

Makan Makanan Panas dan Ditiup

Kebiasaan Makan Yang Salah Yang Memasyarakat

 

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Dari Abu Qatadah ra., Rasulullaah SAW bersabda, Apabila kalian minum janganlah bernafas di dalam gelas, dan ketika buang hajat, janganlah menyentuh kemaluan dengan tangan kanan.” (HR. Bukhari 153). Dalam hasil sebuah penelitian membuktikan bahwa ketika air (H2O) bertemu dengan CO2 yang dihembuskan dari mulut, maka akan menghasilkan persenyawaan H2CO3, asam karbonat.

Dan jika asam karbonat itu masuk dalam tubuh maka bisa mengakibatkan penyakit jantung. Selain itu, mulut manusia yang penuh kuman atau mikroorganisme juga dapat mencemari makanan atau minuman dan ikut masuk ke dalam tubuh untuk dicerna.

 

Menjilati Jari Setalah Makan adalah Hal yang Jorok

Kebiasaan Makan Yang Salah Yang Memasyarakat

Menjilati makanan yang masih di jari bukanlah hal yang jorok. Bukan pula karena rakus atau kelaparan. Orang melakukannya karena meniru sunnah Nabi Muhammad SAW. Mungkin dari kita belum mengetahui bahwa menjilati makanan adalah sunah Nabi. Jangan hanya tahu menghitamkan jidat karena banyak bersujud saja ya.

Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah bersabda, Jika salah seorang diantaramu makan, maka hendaklah ia menjilati jari-jemarinya, sebab ia tidak tahu dari jemari mana munculnya keberkahan.” (HR. Muslim).

Tuesday, 14 February 2017

Jalan Raya Rusak, Salah Siapa ?

Jalan Raya Rusak, Salah Siapa ? - Beberapa waktu yang lalu banyak teman di sosial media share tentang foto jalanan yang rusak. Alasan mereka memfoto dan share di sosial media adalah karena agar pemerintah segera memperbaiki jalan raya yang rusak tersebut.

Boleh saja mengaspirasikan suara rakyat ke pemerintah menggunakan sosial media. Namun hal yang paling dasar kepada pemerintah mana kita mengaspirasikan suara rakyat. Begitu juga terkait masalah jalan raya yang rusak, siapa penanggung jawabnya, apakah pemerintah kota/kabupaten, apakah pemerintah provinsi atau malah pemerintah pusat. Sekarang mari kita bahas jenis jalan dan penanggung jawabnya. 

Jalan Raya Rusak, Salah Siapa ?

Pengelompokan Jalan Berdasar Fungsi


Jalan Arteri

Jalan arteri adalah jalan umum yang fungsinya lebih pada pelayanan kendaraan dengan jarak tempuh perjalanan jauh, oleh karenanya biasa berkecepatan tinggi.

Jalan Kolektor

Jalan Kolektor merupakan yaitu jalan raya yang berfungsi melayani kendaraan dengan perjalanan jarak sedang, kecepatan melaju tentu juga sedang.

Jalan Lokal

Jalan lokal merupakan jalan raya yang digunakan demi melayani kendaraan lokal di suatu tempat, ciri perjalanannya pun adalah jarak dekat, sementara kecepatannya juga rendah.

Jalan Lingkungan

Jalan Lingkungan adalah jalan raya yang digunakan untuk melayani angkutan lingkungan yang perjalanannya berjarak dekat, dan kecepatannya rendah.

Freeway dan Highway

Jenis jalan ini merupakan dua jenis jalan yang posisinya diatas jalan arteri

Klasifikasi Jalan Raya Berdasarkan Administrasi Pemerintah


Di Indonesia pengelompokan jalan diatur di UU No. 22 Tahun 2009. Pengelompokan jalan dimaksudkan untuk mewujudkan kepastian hukum penyelenggaraan jalan sesuai dengan kewenangan Pemerintah dan pemerintah daerah. Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.

Jalan Nasional

Jenis jalan ini merupakan jenis jalan yang merupakan menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol. Jadi penanggung jawab jenis jalan ini adalah pemerintah pusat.

Jalan Provinsi 

Jalan Provisi merupakan jenis jalan yan menghubungkan antara kota/kabupaten dalam suatu provinsi. Penanggung jawabnya adalah pemerintah tingkat provisi.

Jalan Kabupaten 

Untuk jenis jalan kabupaten ini merupakan jalan yang menghubungkan antar kecematan atau daerah dalam sautu kabupaten. Jenis jalan ini penanggung jawabnya adalah pemerintah daerah kabupaten setempat.

Jalan Kota

dikutip dari wikipedia jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota. Penanggung jawab jenis jalan ini adalah pemerintah kota tersebut.

Jalan Desa 

Jenis jalan ini merupakan jenis jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan. Penanggung jawabnya adalahh pemerintah desa setempat. 

---

Sekarang sudah tahu bukan siapa penanggung jawab jalan. Jadi intinya setiap tingkat pemerintahan memiliki kewenangan untuk memperbaiki, memelihara infrastruktur jalan raya. Kalau pemerintah daerah kabupaten memperbaiki jalan nasional sepertinya itu melanggar aturan. Walaupun itu baik, ya boleh saja, namun harus ada prosedur dan juga izin. 

Dan juga dana untuk memperbaiki tersebut cukup. Karena untuk memperbaiki jalan rusak tersebut butuh dana yang tidak sedikit loh. Apalagi kalau berlubang, kontraktor tidak akan mau melakukan pengaspalan langsung. Biasanya akan diratakan atau menutup lubang terlebih dahulu baru di aspal total. Karena kontraktor menggarap jalan berdasarkan ketebalan, panjang dan juga lebar. Sekian dulu tentang Jalan Raya Rusak, Salah Siapa ? Jangan lupa share ya.

Saturday, 11 February 2017

Perjalanan Hidup Anton Medan

Perjalanan Hidup Anton Medan - Pernah mendengar nama Anton Medan ? Mungkin jika sering melihat berita pernah mendengar nama tersebut. Siapa sebenarnya sih Anton Medan ini ? Yuks kita bahas disini siapa Anton medan ini.
 
Perjalanan Hidup Anton Medan


Terlahir dari keluarga Tionghoa kurang mampu itulah Anton Medan. Terlahir di Sumatera Utara 1 Oktober 1957. Nama asliny adalah Tan Hok Liang. Sejak kecil Anton Medan di kenal sebagai anak yang pemberani. Pada usia 8 tahun ia harus berhenti sekolah karena kondisi keluarga yang kurang mampu untuk membiayai sekolah.

Friday, 10 February 2017

Cerita Motivasi : Kisah Singa dan Kambing

Cerita Motivasi : Kisah Singa dan Kambing - Alkisah, di sebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya. Bayi singa yang lemah itu hidup tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian serombongan kambing datang melintasi tempat itu. Bayi singa itu menggerak-gerakkan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya. Ia merasa iba melihat anak singa yang lemah dan hidupsebatang kara. Dan terbitlah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.


Cerita Motivasi : Kisah Singa dan Kambing


Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu dan membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu, sibayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti ke mana saja induk kambing pergi. Jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing itu.

Hari berganti hari, dan anak singa tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing. Ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak-anak kambing lainnya.

Tingkah lakunya juga layaknya kambing. Bahkan anak singa yang mulai berani dan besar itu pun mengeluarkan suara layaknya kambing yaitu mengembik bukan mengaum! la merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambingkambing lainnya. Ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinyaadalah seekor singa.

Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa. Seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa. Kambing-kambing berlarian panik. Semua ketakutan. Induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.

”Kamu singa, cepat hadapi serigala itu! Cukup keluarkan aumanmu yang keras dan serigala itu pasti lari ketakutan!” Kata induk kambing
pada anak singa yang sudah tampak besar dan kekar.

Tapi anak singa yang sejak kecil hidup di tengah-tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing. Ia berteriak sekeras-kerasnya dan yang keluardari mulutnya adalah suara embikan. Sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bisa berbuat apa-apa ketika salahsatu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusuannyaditerkam dan dibawa lari serigala.

Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala. Ia menatap anak singa dengan perasaan nanar dan marah, ”Seharusnya kamu bisa membela kami! Seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu! Seharusnya bisa mengusir serigala yang jahat itu!”

Anak singa itu hanya bisa menunduk. Ia tidak paham dengan maksud perkataan induk kambing. Ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing-kambing lain. Anak singa itu merasa sangatsedih karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Hari berikutnya serigala ganas itu datang lagi. Kembali memburu kambing-kambing untuk disantap. Kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada yang berani menolong. Anak singa itu tidak kuasa melihat induk kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya dicengkeram serigala. Dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu. Serigala kaget bukan kepalang melihat ada seekor singa di hadapannya. Ia melepaskan cengkeramannya.

Serigala itu gemetar ketakutan! Nyalinya habis! Ia pasrah, ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya! Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, ”Emmbiiik!” Lalu ia mundur ke belakang. Mengambil ancang ancang untuk
menyeruduk lagi.

Melihat tingkah anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing. Seketika itu juga ketakutannya hilang. Ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu! Atau singa bermental kambing itu!

Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukkan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda-kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya. Anak singa itu terjerembab dan mengaduh, seperti kambing mengaduh.

Sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luar biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala. Bukankah singa adalah raja hutan?

Tanpa memberi ampun sedikitpun serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu. Serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu. Di saat yang kritis itu, induk kambing yang tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting. Anak singa bangun.

Dan pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat! Semua kambing ketakutan dan merapat! Anak singa itu juga ikut takut dan ikut merapat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit-birit. Saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu, ia terkejut di tengah-tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa.

Beberapa ekor kambing lari, yang lain langsung lari. Anak singa itu langsung ikut lari. Singa itu masih tertegun. Ia heran kenapa anak singa itu ikut lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata,

”Hai kamu jangan lari! Kamu anak singa, bukan kambing! Aku tak akan memangsa anak singa!” Namun anak singa itu terus lari dan lari. Singa dewasa itu terus mengejar. Ia tidak jadi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan,

”Jangan bunuh aku, ammpuun!”
”Kau anak singa, bukan anak kambing. Aku tidak membunuh anak singa!”

Dengan meronta-ronta anak singa itu berkata, ”Tidak aku anak kambing! Tolong lepaskan aku!”

Anak singa itu meronta dan berteriak keras. Suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing.

Sang singa dewasa heran bukan main. Bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukkan siapa sebenarnya anak singa itu. Begitu sampai di danau yang jernih airnya, ia meminta anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa.

Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, ”Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan!”

”Ya, karena kamu sebenarnya anak singa. Bukan anak kambing!” Tegas singa dewasa.

”Jadi aku bukan kambing? Aku adalah seekor singa!”

”Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa danditakuti oleh seluruh isi hutan! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!” Kata sang singa dewasa.

Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum dengan keras. Anak singa itu lalu menirukan, dan mengaum dengan keras. Ya mengaum, menggetarkan seantero hutan.

Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu.

Anak singa itu kembali berteriak penuh kemenangan, ”Aku adalah seekor singa! Raja hutan yang gagah perkasa!”

Singa dewasa tersenyum bahagia mendengarnya.



Saya tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan jangan kondisi kita, dan sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilikinya.

Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa-biasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya.

Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang dilaluinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk menaklukkannya.

Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa dia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya, ”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis,

”Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”

Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi ’mengalir bagaikan air’. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka?

Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah ’seekor singa’ tapi tidak tahu kalau dirinya ’seekor singa . Mereka menganggap dirinya adalah ’seekor kambing sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.

Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe, gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian besar masyarakat dunia Islam saat ini.

Ketika saya pulang kampung, setelah sembilan tahun meninggalkan kampung halaman untuk belajar di Cairo, saya menemukan tidak ada perubahan berarti di kampung halaman saya. Cara berpikir masyarakatnya masih sama. Cara hidupnya masih sama saja. Pak Anu yang ketika saya masih di SD dulu kerjanya menggali sumur,sampai saya pulang dari Mesir, bahkan sampai saat saya berdiri di mimbar ini juga berprofesi menggali sumur. Bu Anu yang dulu kerjanya menjual air memakai gerobak sampai sekarang juga tidak berubah. Mbak Anu yang dulu jualan krupuk sambal di dekat SD
sampai sekarang juga masih di sana dan berjualan dagangan yang sama.

Bahkan teman-teman yang dulu ketika di bangku sekolah dasar terlihat begitu rajin dan cerdas, yang dulu pernah bercita-cita mau jadi ini dan itu dan saya berharap ia telah meraih cita-citanya sekian tahun berpisah ternyata jauh panggang dari api. Orang-orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah.

Kenapa tidak berubah? Jawabnya karena mereka tidak mau berubah.

Kenapa tidak mau berubah?

Jawabnya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka tahu mereka harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah. Hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah. Dan cara hidup seperti itu yang terus diwariskan turun-temurun.

Ada seorang sastrawan terkemuka, yang demi melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdayanya sampai dia mengatakan,

”Aku malu jadi orang Indonesia!”

Di mana-mana, kita lebih banyak menemukan orang orang bermental lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang-orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh Allah kepadanya. Orang-orang yang rela ditindas dan dijajah oleh kesengsaraan dan kehinaan. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera.

Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambing. Meskipun sebenarnya mereka adalah singa! Banyak yang minder dengan bangsa lain. Seperti mindernya anak singa bermental kambing pada serigala dalam kisah di atas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar!

Bangsa ini sebenarnya adalah singa dewasa yang sebenarnya memiliki kekuatan dahsyat. Bukan bangsa sekawanan kambing. Sekali rasa berdaya itu muncul dalam jiwa anak bangsa ini, maka ia akan menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah singa yang tidak boleh diremehkan sedikitpun.

Bangsa ini sebenarnya adalah Sriwijaya yang perkasa menguasai nusantara. Juga sebenarnya adalah Majapahit yang digjaya dan adikuasa. Lebih dari itu bangsa ini, sebenarnya, dan ini tidak mungkin disangkal, adalah ummat Islam terbesar di dunia. Ada dua ratus juta ummat Islam di negeri tercinta Indonesia ini.

Banyak yang tidak menyadari apa makna dari dua ratus juta jumlah ummat Islam Indonesia. Banyak yang tidak sadar. Dianggap biasa saja. Sama sekali tidak menyadari jati diri sesungguhnya.

Dua ratus juta ummat Islam di Indonesia, maknanya adalah dua ratus juta singa. Penguasa belantara dunia. Itulah yang sebenarnya. Sayangnya, dua ratus juta yang sebenarnya adalah singa justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa. Lebih memperihatinkan lagi, ada yang sudah menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena telah terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa! Malu untuk maju dan berprestasi!

Yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Mereka ingin tetap jadi kambing sebab merasa tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Yang menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa. Bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh!

Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah telah memberi predikat kepada kita sebagai ummat terbaik di muka bumi ini. Marilah kita bermental menjadi ummat terbaik. Jangan bermental ummat yang terbelakang. Allah berfirman, ”Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.!”


Cerita ini diambil dari Novel Ketika Cinta Bertasbih 2

Equil, Air Mineral Merek Lokal yang Mengglobal

Equil, Air Mineral Merek Lokal yang Mengglobal -Mungkin para pembaca pernah mendengar istilah air minum EQUIL. Air minum jenis ini memang istimewah. Air Minum kelas atas namun banyak orang mengirah bahwa air minum ini adalah minuman keras. Memang dari bentuknya terlihat menggunakkan botol kaca, namun isinya tetap air mineral.

Berikut ini kami sajikan ulasan mengenai Equil, Air Mineral Merek Lokal yang Mengglobal yang dikutip dari intisari Online com


Sempat bingung dengan postingan teman yang membahas soal ada orang yang tidak bisa membedakan botol air mineral dan botol minuman keras, akhirnya menemukan jawaban di lini masa Twitter. Netizen sedang ramai membahas botol air mineral lokal bermerek Equil di media sosial. Berwarna hijau dan berbahan kaca, botol tersebut disangka botol minuman keras.

Dalam memenuhi tugas di Jurusan Administrasi Niaga Politeknik Negeri Malang, Ratri Mei Rahayu menuliskan sejarah Equil ini. 

Equil mungkin masih asing di telinga kebanyakan masyarakat Indonesia. Namun merk air mineral murni ini sudah cukup dikenal kalangan menengah atas dan ekspatriat. Equil kerap hadir di meja restoran fine dining, hotel bintang lima, hingga meja Istana Negara saat rapat kabinet.

Jika melihat penampilan kemasannnya yang elegan, banyak orang akan mengira Equil adalah minuman impor. Namun Equil merupakan air mineral murni asli Indonesia produksi PT. Equilindo Lestari milik Morgen Sutanto.

Morgen memulai usahanya pada tahun 1997. Ia melihat potensi pasar air mineral murni masih terbuka lebar. Para produsen lokal saat itu hanya bermain dalam produk air minum dalam kemasan (AMDK), sementara air mineral premium masih dikuasai produk impor.

Indonesia yang kaya akan mata air, akan sangat ironis kalau air pun harus mengimpor, pikirnya saat itu. Morgen mengutarakan, masyarakat kebanyakan masih menyebut air minum dalam kemasan dengan “air mineral”.  Padahal dua istilah air minum itu memiliki pengertian dan kriteria yang berbeda.

Terdapat sejumlah standar ketat yang harus dipenuhi untuk bisa memperoleh izin merek air mineral alami (natural mineral water). Di antaranya yaitu berasal dari sumber mata air, tidak dilakukan treatment apa pun, serta dibotolkan langsung di lokasi sumber mata air. 

“Pada air mineral murni, tidak boleh dilakukan treatment apa pun. Karena bisa merubah sifat fisika, kimia, mikrobiologi dan radiologi air,” jelas Morgen.

Standar tersebut mengacu pada Codex  Alimentarius, sebuah badan yang dibentuk Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization (WHO) untuk standardisasi air layak minum.

Ia juga menceritakan bagaimana perjuangannya meyakinkan BPOM untuk bisa memperoleh izin produksi air mineral alami. 

Untuk menjamin kelayakan konsumsi, air diperiksa setiap satu jam sekali, mulai dari sumber sampai masuk dalam botol kemasan.

“Setelah dikemas, air dikarantina, dikultur selama 5 hari untuk  mendeteksi bakteri,” lanjutnya. Inilah yang membedakan dengan AMDK yang bisanya melalui proses penyaringan atau pemurnian dengan distilasi atau oksidasi.

Equil dikemas dalam botol kaca hijau dengan lekuk elegan. Ia memiliki dua varian produk yaitu natural (tawar) dan sparkling (bersoda). 

Harganya pun relatif lebih mahal, 1 botol Equil 380 ml setara dengan 20 kali harga air minum kemasan biasa. Karena kemurnian dan kandungan mineral anorganik yang dimiliki, produk Equil juga digunakan untuk berbagai terapi kesehatan. Varian Equil Hydra Tera ini yang biasa dikonsumsi untuk terapi.

Hingga saat ini, Equil adalah produsen lokal satu-satunya yang memegang merk air mineral alami. Produk yang berasal dari mata air Gunung Salak ini mantap bersaing dengan merk air mineral impor asal Prancis, seperti Evian dan Perrier.

Thursday, 9 February 2017

Tumbuhkan Sisi Kewanitaan Sampean

Antara Ajaran Islam dan Budaya Arab - Sedang merapikan di laptop namun tidak sengaja menemukan file yang berjudul "TUMBUHKAN SISI KEWANITAAN SAMPEAN" dalam bentuk file MS Word. Saya buka dan baca isinya. Dan isinya menarik untuk di share di blog ini. Entah dari mana artikel ini, saya pun lupa dari mana. Karena tidak terdapat sumber atau referensi namun isinya bagus dan tidak mengada-ada. Apa saja isinya ? Silakan di baca dan di share ya.

Tumbuhkan Sisi Kewanitaan Sampean
 Gambar Hanya Pemanis Buatan


TUMBUHKAN SISI KEWANITAAN SAMPEAN


"Tumbuhkanlah sisi kewanitaan sampean. Sebagaimana Gusti Kanjeng Nabi dengan segala kelembutannya. Di tengah budaya keras dan kakunya masyarakat Timur Tengah, beliau hadir dengan sebaliknya. Mungkin karakter Gusti Kanjeng Umar bin Khattab bisa dijadikan patokan karakter Timur Tengah kebanyakan. Ada masalah, selesaikan dengan pedang, kalau memang sudah tidak bisa dibicarakan. Satu tetua saja mengatakan tumpahkan darah dalam rapat suku, maka seluruh suku pun akan menjunjung pedang. Lantas Gusti Kanjeng Nabi mengenalkan metode baru, musyawarah mufakat. Sebagaimana tertera dalam Pancasila kita, salah satu asas Bhinneka Tunggal Ika yang tertera dalam hukum tertulis Kerajaan Majapahit.

Bukankah dalam sekian puluh tahun saja kultur budaya masyarakat Arab berubah? Terutama setelah beliau memenangkan Mekkah dari tangan para petinggi Quraisy dengan cara yang sangat lembut. Ingat kan peristiwa Fathu Makkah itu? Dengan prajurit yang berkali lipat dari jumlah tentara Mekkah, Gusti Kanjeng Nabi sama sekali tidak ingin meluluhlantakkan penduduk negeri yang telah menindasnya, telah berusaha membunuh beliau berkali-kali. Malahan, beliau mengutus paman beliau yang baru masuk Islam, Abu Sufyan, untuk menjadi negoisator kepada penduduk Makkah. Akhirnya, dicapailah beberapa poin itu, bahwa yang masuk ke dalam rumah mereka masing-masing, atau rumah Abu Sufyan, akan dimaafkan masa lalunya yang menyakiti Gusti Kanjeng Nabi. Sedang bagi mereka yang mengacungkan pedang akan diselesaikan sesuai aturan pedang.

Nyatanya, penaklukan negeri Mekkah itu tidak menjadi hari banjir darah. Hanya beberapa tentara Mekkah yang melawan dan kalah oleh tentara dari Madinah. Inilah penaklukkan terhalus dalam sejarah peradaban, terutama setelah tunduknya Ratu Bilqis terhadap Gusti Kanjeng Nabi Sulaiman. Bandingkan dengan penaklukan ala Kerajaan Romawi, Kerajaan Persia, Bangsa Mongol, atau Bangsa Viking. Jauh, sangat jauh perbedaannya. Bahkan dibandingkan dengan Kerajaan Romawi yang membawa bendera agama dalam memperluas kekuasannya.

Pun ketika Mekkah sudah menjadi negeri tanpa berhala patung, Gusti Kanjeng Nabi lantas mengirim surat ajakan berdamai kepada para Raja-Raja di seantero dunia. Bahkan Heraclius pun terpukau karena baru sekali itu ada Raja baru yang dengan beraninya mengiriminya surat dan mengajak damai. Karena tersinggung, Kerajaan Romawi pun mengirim ratusan ribu prajuritnya ke Yerussalem, salah satu benteng terdepannya. Konon, surat ini pun sampai di Kerajaan Sriwijaya, jangan tanya bukti, percaya tidak percaya, begitu adanya.

Bukankah Gusti Kanjeng Nabi tidak pernah memaksa orang masuk Islam? Bahkan kepada Raja Ethiopia yang beragama Nasrani, beliau menawarkan perdamaian dan bukannya ajakan pemurtadan terhadap agamanya. Bahkan Raja Ethiopia pun mengijinkan pengungsi Mekkah pada awal-awal kenabian. Saat tidak ada siapapun yang mau menerima pengungsi ini. Para tetua Mekkah pun kebakaran jenggot, yang lantas mengutus diplomat terbaiknya, Kanjeng Amru bin Ash, untuk melobi Raja Ethiopia agar menolak para pengungsi itu.

Untuk memuluskan lobi tersebut, cara yang digunakan persis seperti Ratu Bilqis, mengirim barang-barang berharga dengan harapan meluluhkan hati Raja yang terkenal bijak itu. Tapi hasilnya nihil, meski Kanjeng Amru bin Ash ini adalah sahabat dekat Raja Ethiopia itu. Alasan raja tersebut? Karena kedatangan Gusti Kanjeng Nabi sudah diprediksi hadirnya di dalam Injil yang dianut sang raja, dan sang raja pun melihat kesamaan antara kisah Gusti Kanjeng Nabi Isa dan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad. Oleh karenanya, Kanjeng Amru bin Ash pun pulang dengan tangan kosong, yang lantas disambut senyum sinis para tetua Mekkah.

Tidak ada kekakuan, kekerasan, dalam ajaran Gusti Kanjeng Nabi. Bahkan ditegaskan dalam Quran, la iqraha fiddin, tidak ada paksaan dalam beragama. Perang sebelum Penaklukan Mekkah adalah perang melawan penindasan. Itu pun bukan Gusti Kanjeng Nabi yang memulai. Tapi para tetua Mekkah dengan aliansi suku seantero Arab yang ingin membunuh Gusti Kanjeng Nabi dan ajaran lembutnya. Bukankah saat gigi beliau tanggal dan berdarah saat dilempari batu oleh anak-anak kecil di Thaif, yang beliau doakan adalah hidayah bagi para penerus Thaif itu? Padahal Malaikat Jibril menawari pilihan untuk menimpa Thaif dengan gunung-gunung di sekitarnya. Pun dengan penuh welas kasihnya, Gusti Kanjeng Nabi tidak pernah marah pada paman-pamannya yang ingin membunuhnya. Mereka semua dimaafkan begitu saja, tanpa penjara, tanpa siksaan, tanpa balasan apapun. Betul-betul dilepaskan begitu saja. Beberapa puluh tahun lalu, Mbah Nelson Mandela pun mencontoh perilaku ini, memaafkan mereka yang telah memenjarakannya berpuluh tahun itu. Tanpa hukuman sedikit pun. Di negeri ini? Ya sampean sudah tahu sejarahnya, kan? Wong teman seperjuangan saja diasingkan, dijebloskan ke penjara, dibunuh, bahkan dihapus kebaikan dan jasanya pada negara di garis sejarah negara.

Lantas, kenapa sampean ingin berdakwah dengan jalan keras? Dengan pentungan, pedang, senapan, bahkan pemboman? Mau mencontoh cara di tanah suci Palestina? Lha mereka itu membela diri, alasan mereka berperang ya melindungi negerinya, keluarganya. Persis seperti yang dilakukan Gusti Kanjeng Nabi saat sudah hijrah ke Madinah. Melindungi tanah airnya.

Lha sampean berbuat keras di negeri ini untuk apa? Wong negerinya damai begini, tenang begini, malah sampean yang kemungkinan besar mengompori bentrok-bentrok yang ada. Lha tujuan sampean beragama itu apa? Untuk mencapai kedamaian, seperti yang Gusti Kanjeng Nabi ajarkan di Madinah, atau malah ingin berperang terus sebagaimana para tetua Mekkah?

Coba bercermin, sampean itu di pihak mana niatnya. Jangan-jangan sampean pakai celana cingkrang, ke mana-mana pakai jubah lebar, melarang cukur jenggot, mewajibkan cukur kumis, malah mendekati ke para tetua Mekkah waktu itu, Abu Jahal dan Abu Lahab Cs. Mementingkan penampilan dari tujuan. Tidak bisa membedakan mana budaya, mana ajaran agama. Jangan-jangan sampean menghindari memakai baju kebesaran, dan memotong kain demi menghindari kesombongan, justru terjebak dalam kebesaran dan kesombongan itu sendiri.

Gusti Kanjeng Umar pun pernah menegur seorang ahli ibadah yang berpakaian lusuh dan buruk, 'sampean itu sombong dengan kesederhanaan, dan Gusti Kanjeng Nabiku tidak pernah mengajarkan memamerkan kesederhanaan. Rawatlah diri sampean, aku tidak ingin melihat seorang bangga dengan kezuhudannya.'

Coba tanya dengan jujur ke hati sampean, tujuanmu memakai baju agama itu apa? Untuk kepentingan siapa? Untuk meniru perilaku santun, lembut dan penuh kasih Gusti Kanjeng Nabi atau demi kesombongan sampean sendiri? Cobalah sekali-kali resapi arti rukukmu, sujudmu, dan wudlumu itu. Sudahkah sampean seperti yang agama sampean ajarkan?" Jawab Mbah Surip pada tanya seorang pemuda yang sedang rajin berjamaah di langgarnya.

Artikel Menarik