Thursday, 29 September 2016

Sandiaga Uno, Salah Satu Orang Terkaya Di Indonesia

Sandiaga Uno, Salah Satu Orang Terkaya Di Indonesia

Sandiaga Uno, Salah Satu Orang Terkaya Di Indonesia - Sandiaga Uno merupakan salah satu pengusaha muda Indonesia yang terbilang sukses. Bahkan ada yang mengatakan harta sekitar $795 juta. 795 Dollar Amerika bukan ratusan juta rupiah loh.

Siapa Sebenarnya Sandiaga Uno ?

Terlahir di pulau Sumatra tepatnya Rumbai, Pekanbaru pada 28 Juni 1969. Sandiaga Uno merupakan putra dari Sandiaga Kosastra. Dia merupakan lulusan Cum Laude dari Wichita State University dan kemudian melanjutkan ke Washington University.

Bakat bisnis memang sudah melekat pada sosok Sandiaga Uno ini. Bersama temannya Edwin Soeryadjaya ia berhasil dan sukses mengembangkan perusahaan PT Saratoga Investama.

Tidak hanya satu perusahaan yang ia dirikan. Ada beberapa perusahaan di bawah kepemimpinannnya misalnya saja PT Adaro yang bergerak di bidang tambang batu bara, perusahaan ini merupakan salah perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia. Dalam bidang pengelolaan aset Sandiaga Uno mendirikan Recapital Advisors. Sukses memimpin berbagai perusahaan maka tidak salah kalau ia pernah di tunjuk sebagai ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Selama 3 tahun ia mengepalai 30.00 pengusaha di seluruh Indonesia.

Di KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) Sandiaga Uno sempat menjadi wakil ketua umum khusus bidang Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi. Kesuksesan seorang Sandiaga Uno yang hobi bermain basket ini juga dibuktikan dengan terpilihnya ia sebagai Indonesia Entrepreneur of The Year. Juga pernah masuk dalam daftar Globe Asia yang menempati posisi ke 63.

Wednesday, 28 September 2016

Sirajut Thalibin, Cahaya Keagungan Tasawuf dari Indonesia

Sirajut Thalibin, Cahaya Keagungan Tasawuf dari Indonesia - Indonesia memiliki tidak sedikit talenta besar dalam sejarah yang mewarnai daftar ulama Islam dunia. Sejak agama Islam menyebar luas di Nusantara abad 9 Hijriyah, tahun 1300an masehi atau sezaman dengan masa hidup Imam as-Suyuthi, beberapa nama dari penjuru Nusantara dikenal memiliki keluasan ilmu sebagai ulama dunia. Di antaranya dikenal dengan nama Syekh Nawawi dari Banten, Syekh Yasin dari Padang bergelar Musnidud Dunya dan Syekh Ihsan dari Kediri, Jawa Timur. Nama terakhir adalah pengarang kitab tasawuf yang akan menjadi ulasan kali ini. Sebuah kitab yang menjadi syarh atau elaborasi bagi kitab tasawuf karya Hujjatul Islam Imam al-Ghozali dengan nama “Sirojut Tolibin ‘ala Minhajil Abidin ila Jihati Robbil Alamin”.

Sirajut Thalibin, Cahaya Keagungan Tasawuf dari Indonesia



Lahir pada tahun 1901 M. Masa remaja Syekh Ihsan dikenal sebagai pemuda yang agak nakal. Gemar terhadap wayang, pentas lakon semacam “film” ala jaman dulu dengan dalang sebagai sutradara dan berbagai karakter tokohnya. Selain itu, Ihsan yang memiliki nama kecil Bakri ini juga bermain judi. Konon agar bandar dan pemainnya kalah, bangkrut, kapok dan berhenti main judi. Ihsan sendiri sebenarnya adalah putra pendiri pesantren Jampes, KH. Dahlan bin Soleh. Kenakalan remaja Ihsan membuat risau keluarganya. Hingga suatu hari Ihsan diajak sowan ke makam K. Yahuda, kakeknya. Sepulang dari sana Ihsan bermimpi dihantam batu oleh kakeknya tersebut karena menolak berhenti nakal. Semenjak itulah Ihsan mau belajar di beberapa pesantren pada ulama seperti KH. Soleh Semarang, KH. Hasyim Asy’ari Jombang dan kepada Guru Para Ulama, KH. Kholil Bangkalan Madura.

Dikenal sebagai sosok cerdas, Ihsan diketahui tidak pernah menetap lama dalam belajar dari gurunya. Hebatnya, pada usia 31 tahun Ihsan sudah mulai menulis karyanya, Sirajut Thalibin yang merupakan syarh dari Minhajul Abidin. Kitab tasawuf karya terakhir al-Ghazali sebelum menutup usia.

Sirajut Thalibin, Seuntai Mutiara Ulama Indonesia

Pada dasarnya, kitab matan Minhajul Abidin sudah merupakan karya istimewa. Dalam kitab ini, Imam Ghazali mengulas jalan, suluk, minhaj, metode, yang harus ditempuh seorang hamba untuk menuju Khaliqnya dengan sebaik-baiknya. Jalan sulit yang dilalui dalam beribadah agar sampai menuju tujuannya yaitu kedekatan kepada Allah I.

Dikarang menjelang akhir hayat Imam Ghazali, Minhajul Abidin merupakan versi penyederhanaan dan penyempurnaan kitab tasawuf al-Ghazali sebelumnya. Seperti Ihya’ Ulumiddin, Mi’rajus Salikin, Misykatul Anwar dan lain-lain. Kitab-kitab tersebut oleh sebagian kalangan dianggap masih berat untuk dipahami dan diterapkan masyarakat awam. Apalagi sebagian di antara kitab tersebut, seperti dalam Ihya’, memuat kisah tingkah “nyleneh” para ahli sufi dan kekasih Allah sehingga dianggap menyimpang menurut pemahaman beberapa kalangan. Kisah nyleneh para sufi mendapat kritik dan kurang diterima sebagian golongan. Al-Ghazali mengatakan, beberapa ilmu sulit dipahami jangkauan akal beberapa orang sebagaimana Al-Qur’an dikatakan oleh mereka yang tidak mengerti sebagai kumpulan dongeng kuno. Tentu saja bagaimana mereka mampu menangkap keistimewaan Al-Qur’an jika tidak memahami kefasihan dan makna serta segala mu’jizat yang terkandung dalam Al-Qur’an. Begitu pula sikap sebagian kalangan yang kurang menjangkau jalan para sufi lalu mengkritik buta bahasa serta perilaku mereka.

Atas dasar inilah, Imam Ghazali mengarang kitab Minhajul Abidin sebagai versi yang lebih simpel dan sempurna untuk dipahami, dipelajari dan diamalkan segala kalangan. Mengurangi sisi tasawuf yang sulit dipahami lalu mengupasnya dengan bahasa dan metode lebih mudah dan sempurna dengan harapan bermanfaat lebih merata.

Sesuai makna nama kitabnya yang berarti “jalan para hamba Allah”, Minhajul Abidin menjelaskan metode beribadah dari titik awal bagaimana memulai perjalanan ibadah yang benar. Bagaimana bentuk pengabdian seorang hamba kepada tuannya yang mengantarkan pada kedekatan menuju Allah serta bagaimana menikmati tiap perasaan yang hadir untuk Allah. Ibadah yang bukan sekedar gerak raga dan rapalan lisan. Dalam kitab ini diketahui Tasawuf adalah penghambaan penuh segala kisi hidup menuju Allah. Pencipta, Pusat dari segala.

Kenapa harus membaca Sirajut Thalibin sebagai syarh Minhajul Abidin? Minhajul Abidin banyak menggunakan majaz atau metafora yang biasa digunakan dalam terminologi tasawuf. Setiap kata kiasan yang dipilih oleh al-Ghozali memiliki kedalaman makna yang sangat tinggi. Tiap kata umum, tiap detail, kalimat asing, khususnya istilah dan kata kunci didedah dan dikupas dengan segala sangkut pautnya dalam berbagai cabang ilmu. Sirajut Thalibin begitu cantik menangkap dan menggali tiap kata.

Secara tidak langsung, Minhajul Abidin menjadi pembimbing atau mursyid bagi mereka yang ingin menghamba dan menikmati jalan ibadahnya. Dalam pada itu, syarh Sirajut Thalibin benar-benar menerangi para santri yang hendak mengaji kitab matan Minhajul Abidin dengan penjelasan yang luas, menjelaskan, memperkaya khazanah pengetahuan pembacanya, membimbing, menunjukkan, layaknya mursyid thariqah bagi para pencari jalan.

Perumpamaan sebuah karya, seperti kata Syekh Ihsan pada pengantar kitab, adalah bagaikan “menyuguhkan ilmu penulisnya dalam satu nampan”. Silahkan dikritik dan diberi saran jika didapati kesalahan. Begitu pula Sirojut Tholibin. Penjelasan yang begitu luas dalam syarh Sirojut Tholibin oleh ulama disebut-sebut sepadan untuk menjadi kitab tersendiri, karena begitu berharga dan begitu mendalamnya tiap penjelasan yang diberikan untuk tiap poin kalimat. Maksudnya, bukan sekedar syarh penjelas singkat belaka. Bahkan tersebab luasnya perbendaharaan ilmu yang dimiliki pengarang, dalam beberapa momen beliau sempat menahan diri agar penjelasan yang diberikan tidak meluber dan melebar dari ruang lingkup yang harus dijelaskan.

Di antara yang diberikan Sirajut Thalibin adalah memilah dan menjelaskan uraian secara bahasa. Menjelaskan beberapa versi arti secara terminologi bahasa kemudian menerangkan maknanya secara dalam menurut penjelasan ulama. Menyisipkan penjelas dari hadis beserta riwayatnya. Tak ketinggalan syair dari banyak ulama Seperti Sayyidina Ali, syahid dari Alfiyyah, Burdah, Jauharah dan banyak referensi lain. Diperkaya lagi dengan bermacam opini tambahan yang masih berkaitan dengan satu kalimat tersebut.

Dalam kitab ini pembaca akan menemui keterangan berharga dari banyak istilah umum namun jarang diketahui penjelesannya. Seperti “taufiq”, “hidayah”, “nafs”, “isyq”, “hubb”, “ibadah”, “syukur” dan banyak penjelasan berharga yang begitu menolong dan memandu pembaca Minhajul Abidin. Keikhlasan beliau terlihat ketika beliau berusaha menyempatkan untuk mencantumkan rujukan setiap kali mengutip kalam ulama dari berbagai kitab. Cukup membantu bagi pembaca yang ingin memperdalam kajian.

Menilik kerja keras, kesungguhan, keikhlasan, kontribusi dan kedalaman serta keluasan ilmu Syekh Ihsan, tidak mengherankan jika kitab ini mendapat sambutan dan pengakuan begitu luas dari dunia Islam. Pertanda ilmu yang bermanfaat. Pertanda terkabulnya doa dan harapan pengarang sebagaimana disampaikan di pengantar kitab. Sirajut Thalibin digunakan di berbagai universitas dunia sebagai materi dalam jurusan Tasawwuf. Dicetak dan disebarkan oleh banyak penerbit besar kitab dunia.

Syarh Sirajut Thalibin menyimpan banyak mutiara. Perjalanan kisah hidup sang pengarang, Syekh Ihsan Jampes juga tak kalah luar biasa. Berawal dari remaja nakal pecandu wayang, beralih menjadi santri cerdas haus ilmu. Mengalami kegetiran hidup yaitu ditakdirkan berpisah dari istrinya. Musibah yang menjadi sebab tidak langsung Syekh Ihsan mengarang kitab Sirajut Thalibin. Bahwa musibah tidak menjadi penghalang menuju kebaikan. Bahwa seorang mu’min menjadikan musibah pemacu menuju hikmah. Selayaknya setiap pembaca yang menikmati kitab ini berharap bisa kembali ke masa 100 tahun yang lalu demi bertemu dengan Syekh Ihsan di Jampes, Kediri. Semoga dari ribuan santri yang terus belajar, Allah memperbanyak “Syekh Ihsan” lainnya di bumi Indonesia. Wallahu A’lam.
amiruddin fahmi

hxxp://www,albashiroh,net

Siapa sebenarnya si BOY itu ?

Siapa sebenarnya si BOY itu ? Terlahir dari keluarga kaya raya, memiliki bentuk tubuh sempurna, ganteng atau cantik, hidup mewah dan serba kecukupan, tidak mengenal namanya kata sedih, hidupnya selalu bahagia, siapa yang tidak ingin seperti itu ? Namun itu semuanya adalah cerita fiktif belaka, ya hanya cerita fiktif karena hidup di dunia bukan seperti itu. Surga kebahagian seperti itu berada di akhirat kelak, bukan sekarang.

Siapa sebenarnya si BOY itu


Jika kita sering menonton televisi mungkin kita akan menemukan tokoh dalam sinetron yang hidupnya demikian. Terlahir dari keluarga kaya, ganteng atau tampan, intinya sempurna. Biasanya tokoh ini bernama BOY. Kenapa "biasanya" ? Karena tidak hanya dalam satu film seorang yang bernama BOY ini seperti itu. Ada beberapa sinetron dan film dengan nama BOY yang kehidupannya seperti itu : terlahir kaya raya, ganteng serba kecukupan, perfect lah hidupnya.

Entah kenapa semua diberi nama BOY, bukankah ada banyak nama di dunia ini. Mungkin bisa diberi nama Ahmad, Wibowo, Paejo dan lain-lain. Ada salah satu stasiun televisi nasional yang mencerita sosok BOY yang hidupnya bersama Genk motornya. Mungkin anda lebih paham stasiun televisi mana yang dimaksut. Dan sekarang muncul pula tokoh BOY yang lain yang ikut muncul namun di stasiun televisi lain yang pernah saya review, televisi nasional baru. Kalau saya amati tokoh BOY yang baru muncul ini kisahnya lebih masuk akal dari pada cerita si BOY yang sudah muncul dengan genk motor. Tidak penting membahas hal itu.

Zaman sekarang banyak masyarakat oleh tontonan televisi yang hanya mengejar uang dari pada tontonan berkaulitas yang benar-benar mendidik. Masyarakat yang dibodohi oleh tontonan. Pada saat sebuah sinetron populer dan banyak ditonton saat itulah orang yang membuat sinetron tersebut mendapatkan banyak uang dari iklan sinetron tersebut. Apalagi pada saat jam 18.00-22.00, pada jam inilah iklan televisi lebih mahal daripada jam lain.

Semoga masyarakat lebih paham mana tontonan yang mendidik dan tidak. Dan semoga pula tidak berkhayal dan meniru kehidupan di sinetron. Kalau meniru kehidupan seperti di sinetron maka hidup akan serba kurang, bagaimana tidak, di sinetron hidupnya serba mewah, serba cukup mau apapun tinggal minta. Berbeda dengan kehidupan nyata. Mungkin anda lebih paham seperti apa hidup itu.

Tuesday, 27 September 2016

Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya

Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya - Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh, pada masa perintisannya banyak mengalami hambatan dan rintangan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari masyarakat sekitar. Juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan.

Sejarah Pondok Pesantren Suryalaya


Namun Alhamdullilah, dengan izin Allah SWT dan juga atas restu dari guru beliau, Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon semua itu dapat dilalui dengan selamat. Hingga pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.


Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin

Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat, sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan.

Dukungan dan pengakuan dari ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah semakin menguat. Hingga keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya dengan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah-nya mulai diakui dan dibutuhkan. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dibantu oleh sembilan orang wakil talqin, dan beliau meninggalkan wasiat untuk dijadikan pegangan dan jalinan kesatuan dan persatuan para murid atau ikhwan, yaitu TANBIH.

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII. Pada masa itu Pondok Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI, untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara.

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju, membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII membuat masyarakat yang ingin belajar Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah semakin banyak dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Juga dengan penyebaran yang dilakukan oleh para wakil talqin dan para mubaligh, usaha ini berfungsi juga untuk melestarikan ajaran yang tertuang dalam asas tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan Tanbih. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setelah itu Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke Negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Thailand, menyusul Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah pun semakin luas perkembangannya, untuk itu Abah Anom dibantu oleh para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan juga wakil talqin yang berada di luar negeri seperti yang disebutkan di atas.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia.

Sri Mulyani, Perempun Ahli Ekonomi Dari Indonesia

Sri Mulyani, Perempun Ahli Ekonomi Dari Indonesia
 
Sri Mulyani, Perempun Ahli Ekonomi Dari Indonesia - Sosok yang satu ini rasanya sudah tidak asing lagi. Beliau sering ada dalam berita ekonomi, beliau adalah Sri Mulyani Indrawati S.E., M.Sc., Ph.D atau lebih dikenal dengan Sri Mulyani. Beliau merupakan sosok wanita Indonesia yang sudah di kenal dunia internasional sebagai pakar ekonomi.

Berasal dari keluarga yang berpendidikan, kedua orang tua beliau adalah seorang Profesor yakni Prof Dr Satmoko (Ayah), Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko (Ibu). Ibu Sri Mulyani merupakan anak ke 7 dari 10 bersaudara. Terlahir pada tanggal 26 Agustus 1962 di Lampung. Kedua orang tuanya adalah seorang Guru Besar Universitas Negeri Semarang.

Pendidikan sekolah dasar seorang Sri Mulyani masing simpang siur atau belum jelas. Untuk pendidikan menengah dan tinggat atas beliau bersekolah di SMP Negeri 2 Bandar Lampung tahun 1975 sampai 1978 kemudian ke SMA Negeri 3 Semarang dan lulus sebagai juara sekolah. Di sekolah beliau dikenal sebagai seorang anak yang cerdas dan banyak mengikuti kegiatan organisasi sekolah.

Kuliah Ekonomi Universitas Indonesia

Setelah lulus SMA beliau melanjutkan pendidikannya ke Jurusan Ekonomi Program Studi Pembangaunan (ESP) UI walau kedua orang tuanya menekankan untuk memilih masuk ke jurusan kedokteran atau teknik namun beliau malah memilih Ekonomi tersebut. Setelah menyelesaikan studi di UI (Universitas Indonesia) pada tahun 1986 sebagai lulusan terbaik beliau bekerja sebagai asisten peneliti di Fakultas Ekonomi UI dan juga peneliti di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)

Master dan Doktor di Luar Negeri

Setelah bekerja betambahlah pengalaman beliau. Beberapa tahun kemudian Fakultas Ekonomi UI menawarkan beasiswa S2 ke luar negeri. Kemudian mencoba mendaftar di University Of Birmingham Inggris dan diterima namun malah tidak dimasukin. Ia mendapatkan tawaran sekolah dari University Of Illinois Urbana-Champaign di Amerika Serikat dan juga ditawari program S3 atau Ph.D.

Lulus master pada tahun 1990 dengan konsentrasi bidang Public Finance dan Urban Economy. Sedangkan suaminya Tonny Sumartono mengambil master dalam bidang Manajemen Keuangan (Finance). Setelah seorang Sri Mulyani melanjutkan program S3 di University of Illinois Urbana-Champaign. Sambil menyelam minum air, itu pepatah yang dilakukan oleh Sri Mulyani, sambil mengambil S3 beliau bekerja sebagai asisten dosen statistik di kampusnya tersebut. Program doktornya berhasil diselesaikan pada tahun 1992 dan total pendidikan S2 dan S3 hanya di tempuh dalam waktu 4 tahun saja.

Kembali Ke Indonesia dan Berkarir di Dunia Internasional

Setelah berhasil menyelesaikan studinya beliau kembali ke Indonesia dengan bekerja sebagai Wakil Direktur Pendidikan dan Latihan Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) di UI pada tahun 1995 dan menjadiWakil Kepala Bidang Penelitian LPEM higga tahun 1998.

Pada awal tahun 2000 beliau kembali ke Amerika Serikat dan bekerja menjadi konsulyas US-AID dan menjadi dosen pembimbing serta pendamping mahasiswa yang tinggal dan belajar di Amerika di negara bagian Atlanta.

Pada tahun 2002 beliau pindah ke Washington DC dan bekerja sebagai Direktur Eksekutif di IMF. Setelah bekerja beberapa tahun di IMF beliau mendapat panggilan dari Bangsa Indonesia untuk menjadi Menteri Negera Perencanaan Pembangunan Nasional pada era Presiden Susilo Bambanga Yudhoyono sampai tahun 2005. Kemudian pindah menjadi Menteri keuangan dan merangkap Menteri Kordinator Bidang Perekonomian. Pada tahun 2009 beliau mengundurkan diri kepada Presiden SBY.

Pada tahun 2010 ditunjuk sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia menggantikan Juan Jose Daboub dan bekerja sampaii tahun 2016 karena pada ada panggilan dari Indonesia untuk menjadi Menteri Keuangan.

Nama beliau sudah tidak asing lagi di dunia internasional, pernah terpilih menjadi menteri keuangan terbaik se-Asia pada tahun 2006 dan pada tahun 2008 majalah forbes memilihnya sebagai wanita paling berpengaruh di dunia pada urutan ke 23 dan juga wanita berpengaruh di Indonesia ke 2 oleh majalah Globe Asia pada tahun 2007.