Senin, 29 Agustus 2016

Syair Istighfar Al-I’tiraaf ~ Sebuah Pengakuan Karya Abu Nawas

Al-I’tiraaf ~ Sebuah Pengakuan Karya Abu Nawas - Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). Oleh masyarakat luas Abu Nawas dikenal terutama karena kecerdasan dan kecerdikan dalam melontarkan kata-kata, sehingga banyak lahir anekdot jenaka yang sarat dengan hikmah.

Al-I’tiraaf ~ Sebuah Pengakuan Karya Abu Nawas

 
Lukisan Abu Nawas Berikut ini salah satu karya besarnya sebagai seorang penyair: 

Al-I’tiraaf – Sebuah pengakuan


ِإِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi

Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim


فهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذنوبِي # فَإنّكَ غَافِرُ الذنْبِ العَظِيْم

Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

ذنوبِي مِثلُ أَعْدَادٍ الرّمَالِ # فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالجَلاَل

Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali

Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan


وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ # وَذنْبِي زَائِدٌ كَيفَ احْتِمَالِي

Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali

Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

َإلهي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذنوبِ وَقَدْ دَعَاك


Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka

Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu


َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذاك أَهْلٌ # فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك

Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Minggu, 28 Agustus 2016

Biografi Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri Jawa Timur

Biografi Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri Jawa Timur - Salah satu ulama yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah nusantara pada abad ke-19 (awal abad ke-20) adalah Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi. Namun, namanya lebih dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Jampes (kini Al Ihsan Jampes) di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namanya makin terkenal setelah kitab karangannya Siraj Al-Thalibin menjadi bidang ilmu yang dipelajari hingga perguruan tinggi, seperti Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dan, dari karyanya ini pula, ia dikenal sebagai seorang ulama sufi yang sangat hebat.
Biografi Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi Kediri Jawa Timur


Semasa hidupnya, Kiai dari Dusun Jampes ini tidak hanya dikenal sebagai ulama sufi. Tetapi, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu falak, fikih, hadis, dan beberapa bidang ilmu agama lainnya. Karena itu, karya-karya tulisannya tak sebatas pada bidang ilmu tasawuf dan akhlak semata, tetapi hingga pada persoalan fikih.

Dilahirkan sekitar tahun 1901, Syekh Ihsan al-Jampesi adalah putra dari seorang ulama yang sejak kecil tinggal di lingkungan pesantren. Ayahnya KH Dahlan bin Saleh dan ibunya Istianah adalah pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Jampes. Kakeknya adalah Kiai Saleh, seorang ulama asal Bogor, Jawa Barat, yang masa muda hingga akhir hayatnya dihabiskan untuk menimba ilmu dan memimpin pesantren di Jatim.

Kiai Saleh sendiri, dalam catatan sejarahnya, masih keturunan dari seorang sultan di daerah Kuningan (Jabar) yang berjalur keturunan dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon, salah seorang dari sembilan wali penyebar agama Islam di Tanah Air.

Sedangkan, ibunya adalah anak dari seorang kiai Mesir, tokoh ulama di Pacitan yang masih keturunan Panembahan Senapati yang berjuluk Sultan Agung, pendiri Kerajaan Mataram pada akhir abad ke-16.

Keturunan Syekh Ihsan al-Jampesi mengenal sosok ulama yang suka menggeluti dunia tasawuf itu sebagai orang pendiam. Meski memiliki karya kitab yang berbobot, namun ia tak suka publikasi. Hal tersebut diungkap KH Abdul Latief, pengasuh Ponpes Jampes sekaligus cucu dari Syekh Ihsan al-Jampesi.

Membaca dan menulis

Semenjak muda, Syekh Ihsan al-Jampesi terkenal suka membaca. Ia memiliki motto (semboyan hidup), 'Tiada Hari tanpa Membaca'. Buku-buku yang dibaca beraneka ragam, mulai dari ilmu agama hingga yang lainnya, dari yang berbahasa Arab hingga bahasa Indonesia.

Seiring kesukaannya menyantap aneka bacaan, tumbuh pula hobi menulis dalam dirinya. Di waktu senggang, jika tidak dimanfaatkan untuk membaca, diisi dengan menulis atau mengarang. Naskah yang ia tulis adalah naskah-naskah yang berisi ilmu-ilmu agama atau yang bersangkutan dengan kedudukannya sebagai pengasuh pondok pesantren.

Pada tahun 1930, Syekh Ihsan al-Jampesi menulis sebuah kitab di bidang ilmu falak (astronomi) yang berjudul  Tashrih Al-Ibarat , penjabaran dari kitab  Natijat Al-Miqat karangan KH Ahmad Dahlan, Semarang. Selanjutnya, pada 1932, ulama yang di kala masih remaja menyukai pula ilmu pedalangan ini juga berhasil mengarang sebuah kitab tasawuf berjudul  Siraj Al-Thalibin . Kitab  Siraj Al-Thalibin ini di kemudian hari mengharumkan nama Ponpes Jampes dan juga bangsa Indonesia.

Tahun 1944, beliau mengarang sebuah kitab yang diberi judul  Manahij Al-Amdad , penjabaran dari kitab  Irsyad Al-Ibad Ilaa Sabili al-Rasyad karya Syekh Zainuddin Al-Malibari (982 H), ulama asal Malabar, India. Kitab setebal 1036 halaman itu sayangnya hingga sekarang belum sempat diterbitkan secara resmi.

Selain  Manahij Al-Amdad, masih ada lagi karya-karya pengasuh Ponpes Jampes ini. Di antaranya adalah kitab  Irsyad Al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa Al-Dukhan, sebuah kitab yang khusus membicarakan minum kopi dan merokok dari segi hukum Islam.

Kitab yang berjudul  Irsyad al-Ikhwan fi Syurbati al-Qahwati wa al-Dukhan (kitab yang membahas kopi dan rokok) ini tampaknya ada kaitannya dengan pengalaman hidupnya saat masih remaja.

Di kisahkan, sewaktu muda, Syekh Ihsan terkenal bandel. Orang memanggilnya 'Bakri'. Kegemarannya waktu itu adalah menonton wayang sambil ditemani segelas kopi dan rokok. Kebiasannya ini membuat khawatir pihak keluarga karena Bakri akan terlibat permainan judi. Kekhawatiran ini ternyata terbukti. Bakri sangat gemar bermain judi, bahkan terkenal sangat hebat. Sudah dinasihati berkali-kali, Bakri tak juga mau menghentikan kebiasan buruknya itu.

Hingga suatu hari, ayahnya mengajak dia berziarah ke makam seorang ulama bernama KH Yahuda yang juga masih ada hubungan kerabat dengan ayahnya. Di makam tersebut, ayahnya berdoa dan memohon kepada Allah agar putranya diberikan hidayah dan insaf. Jika dirinya masih saja melakukan perbuatan judi tersebut, lebih baik ia diberi umur pendek agar tidak membawa mudharat bagi umat dan masyarakat.

Selepas berziarah itu, suatu malam Syekh Ihsan (Bakri) bermimpi didatangi seseorang yang berwujud seperti kakeknya sedang membawa sebuah batu besar dan siap dilemparkan ke kepalanya.''Hai cucuku, kalau engkau tidak menghentikan kebiasaan burukmu yang suka berjudi, aku akan lemparkan batu besar ini ke kepalamu," kata kakek tersebut.

Ia bertanya dalam hati, ''Apa hubungannya kakek denganku? Mau berhenti atau terus, itu bukan urusan kakek,'' timpal Syekh Ihsan.Tiba tiba, sang kakek tersebut melempar batu besar tersebut ke kepala Syekh Ihsan hingga kepalanya pecah. Ia langsung terbangun dan mengucapkan istighfar. ''Ya Allah, apa yang sedang terjadi. Ya Allah, ampunilah dosaku.''

Sejak saat itu, Syekh Ihsan menghentikan kebiasaannya bermain judi dan mulai gemar menimba ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya di Pulau Jawa. Mengambil berkah dan restu dari para ulama di Jawa, seperti KH Saleh Darat (Semarang), KH Hasyim Asyari (Jombang), dan KH Muhammad Kholil (Bangkalan, Madura).

Tawaran Raja Mesir

Di antara kitab-kitab karyanya, yang paling populer dan mampu mengangkat nama hingga ke mancanegara adalah  Siraj Al-Thalibin . Bahkan, Raja Faruk yang sedang berkuasa di Mesir pada 1934 silam pernah mengirim utusan ke Dusun Jampes hanya untuk menyampaikan keinginannya agar Syekh Ihsan al-Jampesi bersedia diperbantukan mengajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Namun, beliau menolak dengan halus permintaan Raja Faruk lewat utusannya tadi dengan alasan ingin mengabdikan hidupnya kepada warga pedesaan di Tanah Air melalui pendidikan Islam.

Dan, keinginan Syekh Ihsan al-Jampesi tersebut terwujud dengan berdirinya sebuah madrasah dalam lingkungan Ponpes Jampes di tahun 1942. Madrasah yang didirikan pada zaman pendudukan Jepang itu diberi nama Mufatihul Huda yang lebih dikenal dengan sebutan 'MMH' (Madrasah Mufatihul Huda).

Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Jampes terus didatangi para santri dari berbagai penjuru Tanah Air untuk menimba ilmu. Kemudian, dalam perkembangannya, pesantren ini pun berkembang dengan didirikannya bangunan-bangunan sekolah setingkat tsanawiyah dan aliyah. Dedikasinya terhadap pendidikan Islam di Tanah Air terus ia lakukan hingga akhir hayatnya pada 15 September 1952.

Siraj Al-Thalibin, Kitab yang Sarat dengan Ilmu Tasawuf


Umat Muslim yang pernah menuntut ilmu agama di pesantren tentu pernah mendengar atau bahkan memiliki sebuah buku berbahasa Arab berjudul  Siraj al-Thalibin karya Syekh Ihsan Dahlan al-Jampesi. Kitab tersebut merupakan syarah  Minhaj Al-Abidin karya Imam Al-Ghazali, seorang ulama dan filsuf besar di masa abad pertengahan.

Kitab  Siraj al-Thalibin disusun pada tahun 1933 dan diterbitkan pertama kali pada 1936 oleh penerbitan dan percetakan An Banhaniyah milik Salim bersaudara (Syekh Salim bin Sa'ad dan saudaranya Achmad) di Surabaya yang bekerja sama dengan sebuah percetakan di Kairo, Mesir, Mustafa Al Baby Halabi. Yang terakhir adalah percetakan besar yang terkenal banyak menerbitkan buku-buku ilmu agama Islam karya ulama besar abad pertengahan.

Siraj al-Thalibin terdiri atas dua juz (jilid). Juz pertama berisi 419 halaman dan juz kedua 400 halaman. Dalam periode berikutnya, kitab tersebut dicetak oleh Darul Fiqr--sebuah percetakan dan penerbit di Beirut, Lebanon. Dalam cetakan Lebanon, setiap juz dibuat satu jilid. Jilid pertama berisi 544 halaman dan jilid kedua 554 halaman.

Kitab tersebut tak hanya beredar di Indonesia dan negara-negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, tetapi juga di negara-negara non-Islam, seperti Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Australia, di mana terdapat jurusan filsafat, teosofi, dan Islamologi dalam perguruan tinggi tertentu. Sehingga, kitab  Siraj al-Thalibin ini menjadi referensi di mancanegara.

Tidak hanya itu, kitab ini juga mendapatkan pujian luas dari kalangan ulama di Timur Tengah. Karena itu, tak mengherankan jika kitab ini dijadikan buku wajib untuk kajian pascasarjana Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, sebuah lembaga perguruan tinggi tertua di dunia.

Kitab ini dipelajari beberapa perguruan tinggi lain dan digunakan oleh hampir seluruh pondok pesantren di Tanah Air dengan kajian mendalam tentang tasawuf dan akhlak. Menurut Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj, seperti dikutip dari situs  NU Online , kitab ini juga dikaji di beberapa majelis taklim kaum Muslim di Afrika dan Amerika.

Karya fenomenal ulama dari Dusun Jampes, Kediri, ini belakangan menjadi pembicaraan hangat di Tanah Air. Ini setelah sebuah penerbitan terbesar di Beirut, Lebanon, kedapatan melakukan pembajakan terhadap karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi. Perusahaan penerbitan dengan nama Darul Kutub Al-Ilmiyah ini diketahui mengganti nama pengarang kitab  Siraj al-Thalibin dengan Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Bahkan, kitab versi baru ini sudah beredar luas di Indonesia.

Dalam halaman pengantar kitab  Siraj al-Thalibin versi penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah, nama Syekh Ihsan al-Jampesi di paragraf kedua juga diganti dan penerbit menambahkan tiga halaman berisi biografi Syekh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat pada 1941, masih satu generasi dengan Syeh Ihsan al-Jampesi yang wafat pada 1952. Sementara itu, keseluruhan isi dalam pengantar itu bahkan keseluruhan isi kitab dua jilid itu sama persis dengan kitab asal. Penerbit juga membuang  taqaridh atau semacam pengantar dari Syekh KH Hasyim Asyari (Jombang), Syekh KH Abdurrahman bin Abdul Karim (Kediri), dan Syekh KH Muhammad Yunus Abdullah (Kediri).

Kitab tersebut menawarkan konsep tasawuf di zaman modern ini. Misalnya, pengertian tentang  uzlah yang secara umum bermakna pengasingan diri dari kesibukan duniawi. Menurut Syekh Ihsan, maksud dari  uzlah di era sekarang adalah bukan lagi menyepi, tapi membaur dalam masyarakat majemuk, namun tetap menjaga diri dari hal-hal keduniawian.  Via Republika Co id

Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo Kediri

Sejarah Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah

Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah didirikan oleh KH. M. Ma’roef Zainuddin beserta istrinya Nyai Hj. Aina ‘Ainaul Mardliyyah Anwar pada tahun 1426 H., tepatnya pada bulan Syawwal atau bulan Februari 1995. Secara geografis, pondok pesantren ini terletak di Desa Lirboyo Kecamatan Mojoroto Kota Kediri Jawa Timur, menempati satu komplek dengan Pondok Pesantren Lirboyo. Perkembangan yang relatif cepat pada lembaga yang baru ini ditindaklanjuti dengan pendirian Yayasan Pendidikan Ar-Risalah yang akta notarisnya diterbitkan pada tahun 1995. Satu tahun kemudian, pendidikan formal tingkat Sekolah Dasar dimulai tahun pelajaran 1996-1997. Pada tahun pelajaran 1997–1998 mulai diadakan pembenahan pengelolaan pendidikan dengan pemilahan lokasi dan lembaga pengelola. Sesuai dengan namanya, Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah mengelola tiga macam pendidikan yang berbeda. Hal ini dimaksudkan ketiganya tersebut bisa saling menambah dan melengkapi, yakni Pendidikan Alquran, Pendidikan Diniyyah, Pendidikan Umum, dan sebagai wadah pengembangan minat dan bakat santri diselenggarakan kegiatan ekstrakurikuler.
Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Lirboyo Kediri


Masing-masing lembaga pendidikan memiliki struktur kepengurusan dan kurikulum tersendiri, serta alokasi waktu yang berbeda. Pendidikan Alquran dilaksanakan setelah salat Shubuh, pagi hari diselenggarakan Pendidikan Umum, sore hari diadakan Pendidikan Diniyyah. Setiap hari Jumat diselenggarakan kegiatan ekstrakurikuler yang ditangani langsung oleh pengurus pondok. Untuk menjaga keseimbangan perkembangan santri dan kualitas pendidikan pesantren. Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah membatasi usia santri minimal 6 tahun untuk memasuki kelas 1 Sekolah Dasar. Selain itu, pendaftaran penerimaan santri baru diseleksi yang meliputi kemampuan berpikir, psikotes, dan kesehatan. Disamping menjaga kualitas pendidikan, Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah juga ingin menumbuhkan kembali citra pesantren dengan menepis kesan atau anggapan masyarakat bahwa pesantren sebagai tempat penyembuhan anak bermasalah, tempat pendidikan bagi anak lemah berpikir. Dengan menunjukkan kualitas, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mulia dan berharga, lembaga pendidikan berpotensi mencetak generasi bangsa, mampu berpikir cerdas dan maju yang siap bersaing di tengah masyarakat modern dengan didasari Akhlaqul Karimah. Sejalan dengan bertambahnya jumlah santri, maka diadakan penambahan gedung serta sarana dan prasarana dalam setiap tahunnya. Sejak tahun 2005 dilaksanakan pembangunan Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah II diatas lahan 2 hektar, yang berlokasi di sebelah utara Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah I

Visi Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah:

  • Membentuk pribadi luhur yang jujur berdasarkan Akhlakul Karimah dan nilai-nilai keagamaan. 
  • Membentuk insan yang berilmu tinggi dan berwawasan luas
  • Mengembangkan potensi generasi muda Islam menjadi insan berpendidikan

Misi Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah:

  • Mengembangkan potensi intelegensi dan religi untuk membentuk intelektual muslim yang unggul dalam menciptakan, mengembangkan, serta memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dijiwai oleh Akhlakul Karimah sebagai wujud pengabdian kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. 
  • Mengembangkan kepribadian Rasulullah SAW dalam pendidikan sebagai proses terbentuknya cendekiawan muslim yang shidiq, amanah, fathonah, dan tabligh.
  • Memadukan filosofi Islam dan ilmu pengetahuan modern untuk daya nalar berpikir kritis, kreatif, dan inovatif terhadap perkembangan zaman.
  • Membangun kemakmuran umat melalui kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan.
  • Pemandu generasi penerus untuk meraih kesempatan berkarya dan menempatkan diri dalam membangun kehidupan masyarakat dengan toleransi, peduli, dan berbudi.
   

Pondok Pesantren Salafiy Terpadu Ar-Risalah Jl. Aula Muktamar No. 2 Lirboyo Kota Kediri - Jawa timur – Indonesia Telp: (0354) 770077 - (0354) 779977

http://arrisalah.org/

Sabtu, 27 Agustus 2016

Puisi Cak Nun Doa Sehelai Daun Kering

DOA SEHELAI DAUN KERING

Oleh 

Emha Ainun Najib 

Puisi Cak Nun Doa Sehelai Daun Kering
 
Janganku suaraku, ya ‘Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maíshum dan aku bergelimang hawaí
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu


Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999

Profil Pondok Pesantren La Tansa Cipanas Lebak Banten

Profil Pondok Pesantren La Tansa

Pondok Pesantren “LA TANSA” berdiri di sebuah lembah seluas ±13 ha. yang sekelilingnya dialiri sungai Ciberang dan dikelilingi oleh gunung-gunung dan bukit yang menghijau, terhindar dari polusi udara bahkan polusi budaya dan pergaulan amoral, merupakan tempat tafaqquh fiddien yang nyaman dan rekreatif.
Profil Pondok Pesantren La Tansa Cipanas Lebak Banten


Lembaga ini dilahirkan oleh Pondok Pesantren Daar El-Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang, sebagai suatu pengembangan wawasan dan pengembangan daya tampung dengan sistem pendidikan serta pengajaran yang lebih variatif dan memenuhi hajat umat. yang memberikan prospek yang sangat baik  untuk  sebuah sarana pendidikan. Sasaran siswa  yang ditargetkan untuk menuntut ilmu  di Pondok Pesantren La Tansa  bukan hanya warga di wilayah ini, namun lebih jauh lagi adalah seluruh rakyat Indonesia yang ingin memperdalam ilmu umum sekaligus ingin memahami dan mengamalkan  ajaran agama  Islam yang baik. Hal ini terbukti  dengan  kehadiran  para santri dari berbagai kota  dan propinsi di Indonesia untuk menuntut ilmu pengetahuan  di Pondok Pesantren La Tansa setiap tahunnya.

Lembaga ini dikelola oleh Yayasan “LA TANSA MASHIRO” yang didirikan oleh Drs. KH. Ahmad Rifa’i Arief (Alm) dengan Akta Notaris No. 4 Tanggal 9 Januari 1991 dan Akta perubahan No. 44 Tanggal 20 April 1998, beralamat di Parakansantri, Cipanas, Lebak, Banten. Lahirnya Pondok Pesantren “LA TANSA” didasarkan atas kesadaran untuk membangun sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa, berwawasan luas, berilmu, berakhlakul-karimah (mukminin, muttaqien dan rosikhina fil’ilmi) kelak menjadi generasi penerus bangsa, negara dan agama dalam pelbagai sektor kehidupan.

Visi Pesantren La Tansa


Mempersiapkan sumber daya manusia muslim yang memiliki ilmu pengetahuan yang seimbang secara bidimensional (dengan menghilangkan dikotomi duniawi dan ukhrawi) serta mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan yang ihsan fi ad-darain.

Misi Pesantren La Tansa

  1. Mempersiapkan kader-kader muslim masa depan yang menguasai iptek, memiliki daya juang yang tinggi, mampu berkreasi secara inovatif, aktif dan dinamis di atas landasan iman dan taqwa yang kuat. 
  2. Mengkombinasikan kurikulum Pondok Modern dengan kurikulum Pendidikan Nasional dalam rangka menghilangkan kesan dikotomis antara ilmu pengetahuan umum dan agama.
  3. Memperluas medan juang santri meliputi seluruh aspek kehidupan dengan bekal iman sebagai landasan keyakinan, pandangan dan sikap hidup yang haq.
  4. Meningkatkan kemampuan professional dan pengetahuan tenaga kependidikan sesuai dengan kebutuhan dunia pendidikan dan tuntutan dinamika kehidupan masyarakat.

 hxxp://www. pesantren-latansa. sch. id

Kamis, 25 Agustus 2016

Botol Ajaib Abu Nawas

Botol Ajaib Abu Nawas - Tidak ada henti-hentinya. Tidak ada kapok-kapoknya, Baginda selalu memanggil Abu Nawas untuk dijebak dengan berbagai pertanyaan atau tugas yang aneh-aneh. Hari ini Abu Nawas juga dipanggil ke istana.

Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman. “Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin.” kata Baginda Raja memulai pembicaraan.

“Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil.” tanya Abu Nawas.

“Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya.” kata Baginda.

Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. la tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.

Karena angin tidak bisa dilihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin. Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat. Sedangkan angin tidak.

Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak lebih dari tiga hari. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagiandari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. la yakin bahwa dengan berpikir akan terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi. Dan dengan berpikir pula ia yakinbisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarangAbu Nawas menggondol

sepundi penuh uang emas hadiahdari Baginda Raja atas kecerdikannya.

Tetapi sudah dua hari ini Abu Nawas belum juga mendapat akaluntuk menangkap angin apalagi memenjarakannya. Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar-benar tidak bisa tidur walau hanya sekejap.

Mungkin sudah takdir; kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda. la berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.

“Bukankah jin itu tidak terlihat?” Abu Nawas bertanya kepada diri sendiri. la berjingkrak girang dan segera berlari pulang. Sesampai dirumah ia secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian menuju istana. Di pintugerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya.

Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas. “Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, haiAbu Nawas?”

“Sudah Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri sambil mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu.

Baginda menimang-nimang botol itu. “Mana angin itu, hai Abu Nawas?” tanya Baginda.

“Di dalam, Tuanku yang mulia.” jawab Abu Nawas penuh takzim.

“Aku tak melihat apa-apa.” kata Baginda Raja.

“Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Padukaingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu.” kata Abu Nawas menjelaskan. Setelah tutup botol dibuka Baginda mencium bau busuk. Baukentut yang begitu menyengat hidung.

“Bau apa ini, hai Abu Nawas?!” tanya Baginda marah.

“Ampun Tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol. Karenahamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol.” kata Abu Nawas ketakutan.

Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal. Dan untuk kesekian kali Abu Nawas selamat.

Rabu, 24 Agustus 2016

3 Keunggulan Pondok Pesantren Modern Gontor

3 Keunggulan Pondok Pesantren Modern Gontor- Pondok Modern Darussalam Gontor memperingati usianya yang ke-90 tahun pada hari ini, Sabtu (20/8). Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang juga sebagai alumni di Ponpes Gontor di Ponorogo, Jawa Timur ini menyampaikan sejumlah keunggulan dan kekhasan pondok pesantren Gontor di depan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Sejumlah keunggulan yang dimaksud adalah kedisiplinan, keikhlasan, dan keberkahan. "Kedisiplinan. Ini sesuatu yang khas yang kita temui di Gontor yang mungkin tidak kita temui di Ponpes yang lain," kata Lukman di Ponpes Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (20/8).

3 Keunggulan Pondok Pesantren Modern Gontor


Lebih lanjut, ia menjelaskan, terdapat tiga lembaga pendidikan dunia yang menjadi dasar acuan Ponpes Gontor dalam memberikan pendidikan pada santri-santrinya. Salah satunya yakni Universitas Al Azhar di Kairo. Namun, Ponpes Gontor dinilainya sama sekali tak mengambil atau mencontoh sistem kedisiplinan dalam mengajar dari tiga lembaga pendidikan tersebut.

"Saya merasa dari bacaan yang saya baca, itu tidak satupun Gontor mengambil inspirasi kedisiplinan. Jadi saya menduga dan meyakini ini murni dari pendiri," jelas dia.

Menurut dia, dengan kedisiplinan tersebut dapat menyatukan cara pandang seluruh santri yang berasal dari berbagai macam daerah, suku, dan budaya. Di Gontor, sambung dia, para santri juga dilatih untuk menjadi mandiri dan peka terhadap kondisi sesama.

Keunggulan Ponpes Gontor lainnya, yakni keikhlasan. Selain ikhlas, Lukman mengatakan, Gontor memiliki lima prinsip panca jiwa lainnya, yakni kesederhanaan, kemandirian, persatuan, dan kebebasan.

Dan kekhasan Ponpes Gontor yang ketiga, yakni keberkahan. "Saya selalu teringat Pak Haji Abdullah Sahal selalu mengatakan berkah itu anugerah. Tapi ada juga keberkahan yang bisa kita ikhtiarkan. Itulah yang terwujud dalam gerakan," jelas Lukman.

Menurut dia, di setiap materi pelajaran yang diajarkan oleh Ponpes Gontor selalu diisi dengan hal-hal yang memotivasi, menginspirasi, dan menanamkan kepercayaan diri pada santrinya.

Ia pun berharap, pendidikan di Ponpes Gontor dapat menjadi role model, khususnya dalam pendidikan Islam baik di tanah air maupun dunia.

"Gontor sudah menjadi iconic jadi lembaga pendidikan yang jadi role model, jadi contoh bagaimana mengembangkan lembaga pendidikan," tutup dia.

sumber : republika.co.id

Hukum Rokok Menurut Tiga Lembaga Fatwa Bergengsi Dunia

Hukum Rokok Menurut Tiga Lembaga Fatwa Bergengsi Dunia - Wacana pemerintah yang akan menaikkan harga rokok pada 2017, mendapat sambutan beragam dari masyarakat. Pro dan kontra pun muncul. Tak terkecuali dari produsen rokok.

Rencana ini antara lain didasari atas berbagai pertimbangan. Di antaranya menekan jumlah perokok aktif.

Hukum Rokok Menurut Tiga Lembaga Fatwa Bergengsi Dunia


Sebuah survei dari Universitas Indonesia menunjukkan, salah satu penyebab tingginya angka perokok adalah murahnya harga barang tersebut. Menaikkan harga rokok dua kali lipat dinilai efektif menekan perokok aktif.

Terlepas dari pro kontra wacana pemerintah itu, penting untuk menelaah ulang hukum rokok dari aspek agama. Republika merangkum fatwa dari tiga lembaga fatwa bergengsi dunia menyikapi hukum rokok. Berikut pembahasannya:

Lembaga Fatwa Yordania : Hindari Merokok dan Menjual Rokok


Seperti termaktub dalam fatwa yang dirilis pada 2006, lembaga yang saat itu dipimpin oleh Syekh Ahmad Muhammad Halil itu, mengimbau masyarakat tidak menjual rokok, tembakau, bahkan hingga menyewakan lokasi jual beli/ produksi tembakau atau jual beli rokok.

Meski lembaga ini memberikan penjelasan memang, secara para ulama berbeda pendapat terkait hukum rokok antara yang memperbolehkan, makruh, hingga mengharamkan, tergantung dengan teori mereka tentang tingkat bahaya yang diakibatkan rokok. 

Ini berangkat antara lain dari fakta bahwa, rokok atau tembakau belum dikenal pada masa Rasulullah SAW, para sahabat, dan para imam mazhab. Rokok baru dikenal pada abad ke-11 hijriyah.

Hal itulah yang memicu mengapa tak ditemukan teks agama yang secara gamblang mengharamkan atau menyebutnya termasuk perkara yang memabukkan.

Akan tetapi, lembaga ini berpendapat, banyak kajian tentang bahaya rokok terhadap kesehatan dan dampak ekonomi akibat menghambur-hamburkan uang tanpa manfaat.

Dampak negatif tersebut berseberangan dengan anjuran agama seperti larangan berbuat mubazir (QS al-An’am :141). Di Yordania sendiri lebih dari 1,5 miliar dinar pertahun uang yang dibelanjakan untuk rokok.

Atas dasar inilah, hukum rokok haram bagi mereka yang terbukti rokok bisa membahayakan kesehatannya, atau menunda kesembuhannya (QS an-Nisa’ : 29).

Rokok juga haram bagi mereka yang semestinya memberikan nafkah kepada keluarga. Mestinya yang pembelian rokok dibelanjakan untuk kepentingan sehari-hari yang lebih urgen.

Dalam hadis riwayat Muslim dari Abdullah bin Amr, ditegaskan seseorang akan berdosa bila menelantarkan keluarga yang wajib dinafkahi.

Lembaga ini juga mengharamkan rokok di tempat atau fasilitas umum seperti rumah sakit, transportasi publik, sekolah, dan lainnya.

Dan pada pengujung fatwanya lembaga ini mengajak untuk melawan kampanye rokok dengan cara yang elegan.

Lembaga Fatwa Mesir : Rokok Lebih Banyak Mudharatnya


Dalam fatwa yang dikeluarkan pada 2008, lembaga yang kini di pimpin oleh Mufti Agung Syauqi Ibrahim Abdul Karim Allam itu menyatakan, telah terbukti bahwa berbagai macam rokok membahayakan kesehatan manusia, karena itu hukumnya haram.

Lembaga ini mengutarakan dalil di antaranya pertama Islam mengharamkan segala perkara yang membahayakan baik fisik atau nonfisik. Ini seperti penegasan surah al-A’raf ayat ke-157.

“Menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.”

Ayat lainnya, yang tertuang dalam surah al-Baqarah ayat ke-195, menyatakan, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”

Sedangkan dalam hadis riwayat Ibnu Abbas RA, ditegaskan bahwa Islam menegasikan segala hal yang mengandung usur celaka atau mencelakakan.

Lembaga Fatwa Eropa : Rokok Ancam Perokok Pasif


Lembaga ini menegaskan bahaya rokok yang mematikan berdasarkan  kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kajian tersebut menjadi rujukan dunia internasional untuk mempersempit ruang gerak peredaran rokok.

Dan tak kalah penting adalah, merokok juga mengancam kesehatan para perokok pasif. Hal ini, tentu sangat bertentangan dengan ajaran agama.

 “Menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS al-A’raf: 157)

Lembaga ini juga berpendapat, merokok adalah bentuk penghambur-hamburan uang dan tidak memberikan manfaat baik di dunia atau akhirat. Atas dasar ini pulalah, lembaga mengharamkan jual beli rokok.

Selasa, 23 Agustus 2016

Rahasia Sukses 90 tahun Pondok Modern Gontor

Rahasia Sukses 90 tahun Pondok Modern Gontor - Di tengah perkembangan zaman yang penuh kompleksitas ini, Pondok Modern Darussalam Gontor masih mampu hadir dan berkiprah hingga menginjak usia 90 tahun. Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengungkapkan kunci sukses dari eksistensi Gontor dari sejak pertam kali didirikan hingga saat ini.

Rahasia Sukses 90 tahun Pondok Modern Gontor


“Salah satu rahasianya adalah keikhlasan dari para pendiri Pondok Modern Gontor serta pengelola Gontor,” ungkap Wakil Ketua MP RI, Hidayat Nur Wahid, kepada Republika, Ahad (21/8).

Kemampuannya untuk terus menjaga keikhlasan ini, Hidayat menambahkan, membuat Gontor tidak terjebak pada konflik ataupun kepentingan kelompok.

Kunci sukses Gontor masih tetap eksis juga disebabkan karena kemampuan Gontor untuk berkomunikasi secara efektif dengan pihak pemerintah tanpa harus terkooptasi dengan kepentingan politik pemerintah. “Ini menjadi nilai lebih dari Gontor sehingga Gontor tidak terkesan ekslusif,” kata Hidayat.
Hidayat yang juga alumnus Pondok Modern Gontor ini menyebutkan ada banyak pengalaman dan pelajaran yang ia dapatkan ketika menempuh pendidikan selama lima tahun di Pondok Modern Gontor. Kedisplinan yang ditanamkan Gontor sangat berperan dalam membentuk karakternya sehingga bisa sukses di tengah masyarakat.

Selain itu, Hidayat menambahkan, Pondok MOdern Gontor juga mengajarkan pentingnya berorientasi kepada keumatan. Menurutnya, alumni Gontor bertanggungjawab terhadap Islam dan umat Islam di manapun mereka berada.

Salah satu yang dilakukan Pondok Modern Gontor adalah dengan menyebar para santri untuk menjadi imam dan khatib di sekitar Gontor sebagai pembelajaran bagi mereka untuk terjun di masyarakat agar tidak canggung untuk berdakwah apaun profesi mereka nantinya.

Hidayat berharap Pondok Modern Gontor bisa terus menjaga segala amanah dan kepercayaan publik. Dia menilai menjaga amanah dan kepercayaan publik merupakan modal dasar agar Pondok Modern Gontor bisa terus eksis dan berkiprah di tengah masyarakat.

Dia juga berharap Gontor tidak henti melakukan dalam pengembangan dan pembenahan. Sebab, tantangan dan tuntutan zaman ke depan semakin komplek dan kompetitif. Untuk itu, dia menyimpulkan, Pondok Modern Gontor harus bisa menyipkan para kadernya untuk menghadapi tantangan kedepan.

Source: www.republika.co.id