Thursday, 19 January 2017

Kaulah Yang Membakar Al-Quran!

Kaulah Yang Membakar Al-Quran! 

 Kaulah Yang Membakar Al-Quran!


“Gila!” rutukku sesaat setelah membaca berita pembakaran Al-Quran yang dilakukan dua pendeta di Amerika, “Ini gila! Kita harus perang! Terkutuklah mereka!” Umpatan-umpatan dan caci-maki-ku keluar tanpa kontrol.

“Setan!” aku berteriak sekali lagi.

Tiba-tiba Tuan Setan muncul di hadapanku! Wajahnya penuh kemarahan. “Bakarlah Al-Quranmu!” kata Tuan Setan tiba-tiba.

Jelas, aku berang mendengar ucapannya. Emosiku naik pitam. Dadaku turun naik. Dan seketika kutuk dan serapah membrudal dari mulutku. “Percuma selama ini aku mulai menaruh rasa simpati kepadamu! Kau ternyata memang pantas dilaknat dan dimusuhi! Terkutuklah kau!”

“Bakarlah Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, dengan nada yang lebih tegas. Matanya nyalang. Gigi-giginya gemertak. Lalu telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. “Bakar!” ia berteriak, “Bakarlah kalau memang selama ini ia hanya menjadi kertas, bakarlah! Bakarlah!”

Napasku turun naik, mataku memerah, tanganku mengepal. “Terkutuklah kau!” teriakku lantang.

“Mana Al-Quranmu!?” bentak Tuan Setan.

Tiba-tiba aku tersentak. Tiba-tiba aku merasa harus menemukan Al-Quran milikku yang entah aku simpan di mana, sementara Tuan Setan terus menerus berteriak “Bakar! Bakarlah Al-Quranmu!” Aku terus mencari. Di manakah aku menyimpan Al-Quranku? Aku membongkar isi lemari, mengeluarkan buku-buku, berkas-berkas, tumpukan kliping koran, dan kertas-kertas apa saja dari dalam lemari. Di manakah Al-Quranku? Aku mulai resah mencari di mana Al-Quranku. Aku ke ruang tamu, ke ruang tengah, ke dapur, ke seluruh penjuru rumah. Aku memeriksa ke belakang lemari, ke sela-sela tumpukan kaset dan CD-CD, ke mana-mana. Tetapi, aku tak menemukan Al-Quranku! Di manakah aku menyimpan Al-Quranku?

“Bakarlah Al-Quranmu!” sementara Tuan Setan terus-menerus berteriak, “Bakar!”

Aku mulai panik dan resah, kemarahanku mulai pudar, ternyata aku tak bisa menemukan Al-Quranku sendiri.

“Bakarlah Al-Quranmu kalau itu hanya menjadi kertas usang yang kausia-siakan!” kata Tuan Setan tiba-tiba.

Dadaku berguncang hebat. Pelan-pelan tapi pasti aku mulai menangis—tetapi aku belum menyerah untuk terus mencari Al-Quranku. Di mana Al-Quranku? Ada sebuah buku tebal berwarna hijau di atas lemari tua di kamar belakang, aku kira itulah Al-Quranku, setelah aku ambil ternyata bukan: Life of Mao. Aku kecewa. Aku terus mencari sambil diam-diam air mataku mulai meluncur di tebing pipi.

“Bakarlah Al-Quranmu!” suara Tuan Setan kembali memenuhi ruang kesadaranku. Tetapi kini aku tak bisa marah lagi, ada perasaan sedih dan kecewa mengaduk-aduk dadaku. Ada sesak yang tertahan, semantara isak tangis tak sanggup aku tahan.

Akhirnya aku menyerah. Aku tak menemukan Al-Quranku di mana-mana di setiap sudut rumahku!

Kemudian Tuan Setan tersenyum menang, ia menyeringai dan menatapku dengan sinis. “Jadi, kenapa kau mesti marah saat ada orang yang membakar dan menginjak-injak Al-Quran?” Kemudian ia tertawa, “Lucu! Ini lucu! Mengapa kau mesti marah sedangkan kau sendiri tak mempedulikannya selama ini?”

Aku terus menangis. Dadaku berguncang. Tuan Setan tertawa. “Jadi, mengapa kau mesti mengutuk mereka yang menyia-nyiakan dan merendahkan Al-Quran sementara kau sendiri melakukannya—diam-diam?” katanya sekali lagi. Ada perih yang mengaliri dadaku, mendesir gamang ke seluruh persendianku.

Tiba-tiba aku ingat sebuah tempat: gudang belakang rumah. Barangkali Al-Quranku ada di situ!

Aku bergegas bangkit dari tubuhku yang tersungkur, aku berlari menuju gudang belakang, membuka pintunya, lalu menyaksikan tumpukan barang-barang bekas yang usang dan berdebu. Sebuah kotak tersimpan di sudut ruang gudang, aku segera ingat di situlah aku menaruh buku-buku bekas yang sudah tua dan tak terbaca. Seketika aku hamburkan isi kotak itu, membersihkannya dari debu, dan akhirnya… Aku mendapatkannya: Al-Quranku!

Aku menatap Al-Quranku dengan tatap mata rasa bersalah. Aku mengusap-usapnya, meniupnya, membersihkannya dari debu yang melekat di mushaf tua itu. Kemudian aku mendekapnya erat-erat—mengingat masa kecilku belajar mengeja huruf hijaiyyah, menghafal surat Al-Fatihah… “Astagfirullahaladzhim…” tiba-tiba dadaku bergemuruh, air mataku menderas.

Tuan Setan tertawa lepas. “Bakar saja Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, “Bukankah ia tak berguna lagi bagimu?” nada bicaranya mengejek.

Aku masih mendekap Al-Quranku, tergugu dengan dada seolah tersayat sembilu.

“Jika pendeta yang membakar Al-Quran itu mengatakan bahwa Al-Quran adalah buku yang penuh kebencian, bukankah mereka hanya menilainya dari perilaku yang kalian tunjukkan? Bila mereka mengira Al-Quran hanyalah kitab omong kosong dan Muhammad yang membawanya hanya nabi palsu yang berbohong tentang firman, bukankah itu karena kau—kalian semua—tak pernah sanggup menunjukkan keagungan dan keindahannya? Kau, kalian semua, harus menjelaskannya!

“Jangankan menunjukkan keindahan dan keagungan Al-Quran, membacanya pun kau tak! Jangankan menaklukkan musuh Tuhan sementara menaklukkan dirimu sendiri pun kau tak sanggup! Apa sih maumu? Al-Quran tak pernah mengajarkan permusuhan dan kebencian, Al-Quran tak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk, lalu kenapa kau terus-menerus melakukannya? Al-Quran selalu mengajarimu kebaikan, mengapa kau tak pernah mau mengikutinya? Heh, ya, aku baru ingat, jangankan mengikuti petunjuknya, memahami dan membacanya pun kau tak!

“Lalu kenapa kau harus marah ketika Al-Quran dibakar? Mengapa kau tak memarahi dirimu sendiri saat kau menyia-nyiakan Al-Quranmu? Ini bukan semata-mata soal pendeta yang membakar Al-Quran, ini bukan semata-mata soal pelecehan terhadap institusi agamamu, ini bukan semata-mata soal permulaan dari sebuah peperangan antar-agama, ini semua tentang kau yang selama ini menyia-nyiakan Al-Quran, tentang kau yang secara laten dan sistematis menyiapkan api dan bensin dari perilaku burukmu untuk menunggu Al-Quran dibakar lidah waktu yang meminjam tangan orang-orang yang membenci agamamu! Mereka tak akan berani membakar Al-Quran, kitab sucimu itu, kalau saja selama ini kau sanggup menunjukkan nilai-nilai agung yang dibawa Nabimu, nilai-nilai kebaikan yang termaktub dalam teks suci kitab yang difirmankan Tuhanmu! Maka bila kau tak sanggup menggemakan Al-Quran amanat nabimu ke segala penjuru, tak sanggup menerima cahayanya dengan hatimu, bakarlah Al-Quranmu! ”

Lalu seketika terbayang, Al-Quran yang teronggok sia-sia di rak-rak buku tak terbaca, Al-Quran yang diletakkan di paling bawah tumpukkan buku-buku dan majalah, Al-Quran yang kesepian tak tersentuh di masjid dan langgar-langgar, Al-Quran yang tak terbaca dan (di)sia-sia(kan)!

Aku menangis; memanggil kembali hapalan yang entah hilang kemana, mengeja kembali satu-satu alif-ba-ta yang semakin asing dari kosakata hidupku. Aku melacaknya dalam ingatanku yang terlanjur dijejali kebohongan, kebebalan, penipuan, dan pengkhiatan-pengkhiantan. Di manakah Al-Quran dalam diriku?

“Maka, bakarlah Al-Quran oleh tanganmu sendiri!” kata Tuan Setan, “Hentikan airmata sinetronmu, hentikan amarah palsumu, hentikan aksi solidaritas penuh kepentinganmu, hentikan rutuk-serapah politismu, sebab kenyataannya kau tak pernah mencintai Al-Quran! Bakarlah!”

Tuan Setan tertawa lepas.

“Maafkan…,” suaraku tiba-tiba pecah menjelma tangis, “Maafkan…,” lalu aku bergegas pergi dengan Al-Quran yang kugamit di lengan kananku.

“Bakar saja Al-Quranmu!” teriak Tuan Setan yang kutinggalkan di gelap ruangan gudang. Lamat-lamat tawanya masih ku dengar di ujung jalan.

Aku mencari masjid; Aku ke mal, ke pasar, ke terminal, ke sekolah, ke mana-mana… Aku ingin mencari mushaf-mushaf Al-Quran yang disia-siakan. Aku ingin membersihkannya dari debu dan mengajak sebanyak mungkin orang membacanya. Aku masih bergegas dengan langkah yang galau. Aku ingin mengabarkan keagungan dan keindahan Al-Quran, tapi bagaimana caranya? Sedangkan aku sendiri tak memahaminya? Aku ingin menggaungkannya di mana-mana, tapi bagaimana caranya?

Aku terus bertanya-tanya bagaimana agar Al-Quran tak dibakar? Bagaimana agar Al-Quran tak terbakar? Bagaimana?

    Ya, Tuhan akukah insan yang bertanya-tanya?
    Ataukah aku Mukmin yang sudah tahu jawabnya?
    Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
    Aduhai, akan ke manakah kiranya aku bergulir
    Di antara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
    Akankah kulihat sezarah saja kebaikan yang pernah kubuat?

    Ya Tuhan, nafasku gemuruh, diburu firmanmu!

    [KH. Mustafa Bisri, Tadarus]


Aku terus menangis dalam langkah-langkah gelisah yang bergegas, haruskah aku melawan semua ini dengan amarah dan kebencian? Ataukah aku harus menunjukkan kepada mereka semua yang membenci Al-Quran bahwa sungguh mereka telah keliru? Haruskah aku kembali marah dan membakar kitab suci mereka di mana-mana, atau akan lebih baikkah jika aku jawab mereka dengan cinta dan kasih sayang—meneladani Muhammad dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan cahaya Al-Quran karena sesungguhnya mereka hanya belum tahu!?

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bacalah!” tiba-tiba suara Tuan Setan datang lagi, “Biarkanlah mereka membakar mushaf sebab Al-Quran bukanlah kertas yang bisa mereka bakar. Bacalah Al-Quran hingga suaranya terdengar oleh hatimu, bergema di seluruh ruang kesadaranmu, maka kau tak akan kecewa mendapati mushaf-mushaf yang terbakar atau ayat-ayat yang teronggok di ruangan-ruangan tua berdebu buku. Sebab Al-Quran bukanlah mushaf, Al-Quran adalah semesta, nama di luar kata! Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”

Aku terdiam mendengar kata-kata Tuan Setan yang terakhir, “Tuan Setan, sebenarnya siapakah kamu? Apa agamamu?”

Ia terkekeh, bahunya berguncang, “Akulah yang kau lihat dalam tidurmu: berlarian atau terbang atau tertawa tanpa suara, sesuatu yang lama kau idamkan tetapi lupa kau sapa. Akulah yang telah sengaja membakar Al-Quranmu!”

Ia terus terkekeh, terbatuk, lalu menghilang.

“Fahd Djibran“

Sumber : galangromadhon.wordpress.com

Sebelumnya saya pernah membaca artikel ini di salah satu situs resminya caknun beberapa tahun yang lalu. Namun ketika saya cari adanya disitus yang tersebut di atas. Entah ini karya siapa sesungguhnya. Mungkin ini karya Budayawan EMHA AINUN NAJIB.

Semoga dapat menginspirasi.

Friday, 13 January 2017

Multi Level Marketing (MLM) Bolehkah? Multi Level Marketing (MLM) Dalam Pandangan Islam

Multi Level Marketing (MLM) Bolehkah?

Oleh
Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi MA

Multi Level Marketing (MLM) Bolehkah? Multi Level Marketing (MLM) Dalam Pandangan Islam
  
Multi Level Marketing yang lebih dikenal dengan MLM adalah : Sebuah sistem penjualan langsung, di mana barang dipasarkan oleh para konsumen langsung dari produsen. Para konsumen yang sekaligus memasarkan barang mendapat imbalan bonus. Bonus tersebut diambil dari keuntungan setiap pembeli yang dikenalkan oleh pembeli pertama berdasarkan ketentuan yang diatur.[1]

Karena dipercaya dapat memberikan keuntungan yang cukup besar kepada perusahaan, dewasa ini, berbagai jenis barang marak dipasarkan dengan menggunakan marketing (pemasaran) pola MLM : perhiasan, program komputer, minuman suplemen, kosmetik, kaset-kaset islami, dan lain-lain.

Semenjak pemasaran barang pola MLM masuk ke negeri-negeri Islam para ulama telah berbeda pendapat tentang hukumnya.

PENDAPAT PERTAMA : MLM (Multi Level Marketing) HUKUMNYA MUBAH (BOLEH)

Ini merupakan pendapat Lembaga Fatwa al-Azhar, Mesir. Alasannya, karena dianggap sama dengan samsarah (perantara antara penjual dan pembeli/calo).

Berikut teks soal-jawab tentang perusahaan “BIZNAS”, salah satu perusahaan program komputer di Timur Tengah yang berdiri pada tahun 2001, berpusat di Kesultanan Oman, yang menggunakan sistem MLM dalam memasarkan produknya. Pada tahun 2008, perusahaan ini telah memiliki 110.000 anggota yang tersebar di 50 negara.

Soal: Sebuah perusahaan yang berpusat di Oman baru membuka cabang di Mesir, bernama “BIZNAS” Perusahaan ini menjual program panduan belajar komputer, mencakup program panduan menggunakan komputer, internet, panduan servis komputer, dan program-program pembelajaran lainnya, selalu dimutakhirkan (update) melalui situs resmi perusahaan, dijual seharga $90.
Pada saat pembelian produk, pembeli memperoleh program atau dapat menjualnya kembali. Selain itu, dia mendapat kesempatan untuk bergabung dalam jaringan untuk meraih keuntungan dengan cara memasarkan barang kepada orang-orang terdekat. Karena dia telah berusaha meyakinkan pihak lain untuk membeli produk dan juga telah membeli produk dan juga dia melatih orang-orang yang membeli produk melaluinya untuk menggunakan produk dan memasarkan ke pihak lain. Pada saat ia mendapatkan 9 orang pembeli produk baik langsung maupun tidak, dengan syarat 2 orang pembeli produk langsung melaluinya maka perusahaan akan memberikan bonus sebagai motivasi agar terus memasarkan produk dan dia akan terus menerima bonus selama orang membeli produk melalui jaringannya.

Pertanyaan saya, apakah boleh menerima bonus sebagai imbalan atas usaha memasarkan barang serta melatih para pembeli baru?

Jawab : Setelah menelaah pertanyaan yang disampaikan maka dewan memutuskan, “Usaha yang dilakukan yaitu : sebagai perantara antara produsen dan konsumen untuk memasarkan barang. Usaha ini termasuk samsarah. Dan samsarah sebagaimana dijelaskan oleh para ahli fikih : bahwa apabila tidak terdapat penipuan, kezaliman, atau menjelaskan barang tidak sesuai dengan hakikatnya pada saat memasarkan barang/jasa maka uang hasil usaha sebagai perantara halal dan sama sekali tidak ada keraguan.”
Fatwa ini ditanggapi oleh banyak para peneliti ekonomi Islam.

Menurut Dr. Husain Syahrani dalam disertasinya yang diajukan ke Fakultas Syariah, Universitas Islam al-Imam Saud, Riyad, Arab Saudi yang berjudul “al-Taswiq al-Tijari wa Ahkamuhu fi al-Fiqh al-Islami” bahwa fatwa ini tidak berarti membolehkan sistem MLM secara mutlak, disebabkan beberapa hal:

• Fatwa tersebut berdasarkan deskripsi yang disampaikan penanya tanpa mengkaji ulang secara langsung sistem yang digunakan perusahaan yang bersangkutan, sebagaimana dijelaskan pada pembukaan fatwa.

Padahal, kalau penanya menjelaskan hal-hal yang dapat memengaruhi hukum MLM kemukinan fatwanya berbunyi lain, seperti bahwa pembelian produk merupakan syarat untuk dapat memasarkan barang dan meraih bonus, lalu tujuan utama orang membeli produk untuk ikut MLM adalah meraih bonus yang dijanjikan, perbandingan bonus yang dijanjikan sangat jauh dibandingkan dengan harga produk dan usahanya memasarkan barang.

Misalnya, BIZNAS menjanjikan bonus sebanyak lima puluh ribu Dolar Amerika di akhir tahun, padahal harga produk tidak lebih dari $99,- dengan perbandingan 0,3% harga produk dan bonus 99,7% ini pasti membuat setiap orang yang membeli produk serta ikut jaringan bertujuan mendapatkan bonus dan bukan menginginkan produk, karena ternyata program-program yang dijual oleh BIZNAS dapat diperoleh dari beberapa situs di internet secara gratis, serta usahanya untuk meraih bonus hanya cukup memasarkan produk kepada dua orang di bawah tingkatan, kemudian dua orang dibawah mencarai dua orang lagi dan seterusnya.

Juga tidak dijelaskan dalam pertanyaan bahwa untuk mendapatkan bonus disyaratkan bahwa 9 penjualan harus berasal dari downline jalur kiri-kanan seimbang, 5 penjualan dari downline kanan dan 4 dari kiri atau 6-3, jika seluruh penjualan hanya dari satu jalur saja maka bonus gagal diperoleh sekalipun ribuan penjualan.

• Fatwa ini tidak membolehkan secara mutlak akan tetapi berkait, yaitu tidak terdapat penipuan, kecuarangan, dan kezaliman dalam memasarkan produk.

Persyaratan ini tidak terpenuhi dalam praktik MLM. Sebab, kenyataannya, pada saat memasarkan produk dan sekaligus merekrut downline selalu dipenuhi kecurangan, penipuan, dan kezaliman, di mana upline menjanjikan bonus yang sangat besar kepada calon pembeli, padahal yang mendapatkan bonus itu hanya 6% saja dari seluruh anggota. Ini namanya spekulasi tingkat tinggi (judi), dengan janji itu pembeli bersedia membeli produk yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan harga sebenarnya, bahkan produk BIZNAS dapat diperoleh secara gratis, ini adalah kezaliman dan kecurangan dalam penjualan produk.

• Fatwa yang menganggap MLM sama dengan samsarah (calo) tidaklah tepat, karena terdapat perbedaan yang mendasar antara MLM dan samsarah[2]: 

PENDAPAT KEDUA : MLM (Multi Level Marketing) HUKUMNYA TIDAK BOLEH (HARAM).


Ini merupakan pendapat mayoritas para ulama kontemporer, juga fatwa Dewan Ulama Kerajaan Arab Saudi, keputusan Lembaga Fikih Islam di Sudan, dan fatwa Pusat Kajian dan Penelitian al-Imam al-Albani Yordania.

Menurut Dr. Sami al-Suwailim (Direktur Pengembangan Keuangan Islam di Islamic Development Bank, Jeddah dan bekas anggota Dewan Syariah Bank Al-Rajhi, Riyad) dalam sebuah penelitiannya mengatakan bahwa MLM adalah perpanjangan dari Pyramid Scheme/ Letter Chain (pengiriman uang secara berantai) yang berasal dari Amerika. 

Tatkala pemerintah setempat melarang praktik ini karena dianggap sebagai penipuan maka sistem ini dikembangkan dengan memasukkan unsur barang/produk agar mendapat legalitas dari pemerintah.

Sangat ironis, jika saja Negara yang menganut sistem liberal dalam ekonominya-menghalalkan riba dan judi- telah melarang praktek ini, kenapa juga ulama Islam masih ragu-ragu menjatuhkan hukum praktik ini.
Ide Asas Kerja MLM Adalah Sebagai Berikut:

A menyerahkan uang sebanyak $100 kepada sebuah perusahaan dengan harapan mendapatkan bonus yang jauh lebih besar dari nominal uang yang dibayar ke perusahaan tersebut. Agar A mendapat bonus, dia harus mencari dua orang yang mau menyerahkan uang $100 kepada perusahaan itu untuk menutupi uang A $100 dan agar dapat bonus serta sisanya merupakan laba bagi perusahaan pengelola.

Kemudian B dan C yang telah membayar masing-masing $100 ke perusahaan melalui perantara A agar uangnya kembali dan mendapat bonus masing-masing harus mencari dua orang yang mau menyerahkan uang $100.

Maka jumlah orang pada level ini empat orang, begitulah seterusnya hingga skema piramida ini membesar, di mana jumlah peserta di tingkat bawah lebih banyak daripada jumlah tingkat atas.

Yang pasti, semakin lama berjalan maka semakin susah untuk merekrut orang baru yang mau menyerahkan uangnya kepada perusahaan pengelola dan pada suatu saat sampai pada kondisi stagnan, tidak bergerak. Maka dapat dipastikan orang-orang yang berada pada tingkat akhir mengalami kerugian dan jumlah anggota pada tingkat ini adalah peserta terbanyak.

Ini adalah sebuah penipuan, yaitu: memberikan keuntungan untuk sedikit orang dan merugikan orang banyak. Dalam hitungan matematika, persentase anggota yang mengalami kerugian mencapai 94% sedangkan anggota level atas yang meraih keuntungan hanyalah 6% saja. Ini sangat jelas merupakan penipuan.

Oleh karena itu, pemerintah Amerika telah melarang praktik Pyramid Scheme. Namun, agar sistem ini dapat diakui oleh pemerintah maka pihak pengelola memasukkan produk sebagai kedok. Dan namanya di ubah menjadi Multi Level Marketing, Direct Selling, dan lain-lain.[3]

Hukum Pyramid Scheme jelas haram karena mengandung unsur riba ba’i, yaitu: menukar uang sejenis dengan cara tidak tunai dan tidak sama nominalnya , juga mengandung unsur garar, yaitu: saat seseorang bergabung dengan sebuah jaringan Pyramid Scheme dia tidak tahu apakah uang yang telah dibayarkannya akan kembali ditambah bonus karena dia berada di tingkat atas, atau uang dan bonusnya hilang karena statusnya berada pada tingkat bawah.

Bila hukum ini telah disepakati maka selanjutnya yang perlu dikaji, apakah penyertaan sebuah barang/produk ke dalam sistem ini dapat mengubah hukum MLM menjadi halal atau tidak?

Seseorang Yang Bergabung Dengan MLM Ada Tiga Macam:

• Seseorang yang murni bertujuan untuk menjadi perantara antara produsen dan konsumen (agen) dengan sistem MLM.

Perantara ini tidak dapat menjualkan produk sebagaimana layaknya perantara dalam sistem marketing biasa, yaitu barang diambil terlebih dahulu berdasarkan kepercayaan kemudian ia mendapat upah sekian persen dari hasil penjualan. Akan tetapi, ia diharuskan terlebih dahulu membeli salah satu produk tersebut.

Proses ini jelas dilarang dalam Islam karena terdapat dua akad dalam satu akad.

Dan tujuan di balik persyaratan perantara harus membeli salah satu produk terlebih dahulu perlu dicermati karena persyaratan ini merupakan indikasi kuat bahwa produk hanya sebatas kedok untuk melegalkan Pyramid Scheme. Sebab, bila ia hanya sebatas perantara tanpa membeli produk maka mata rantai Pyramid Scheme akan terputus. Dengan demikian, pengelola jaringan akan mengalami kerugian karena bonus yang diberikan jauh lebih besar daripada hasil penjualan barang.

• Seseorang yang bertujuan membeli produk saja tanpa ambil peduli dengan bonus yang dijanjikan perusahaan MLM karena ia merasa cocok dengan produknya.

Maka konsumen ini sesungguhnya telah tertipu karena harga jual yang telah ditetapkan oleh perusahaan lebih dari 60% dianggarkan untuk pemberian bonus. Hal ini disepakati oleh seluruh perusahaan MLM. Maka pembeli yang hanya membeli barang saja dia telah tertipu karena harus membayar 60% dari harga barang untuk bonus orang-orang dalam jaringan, padahal ia membeli produk langsung dari tangan pertama.

Berbeda dengan harga yang sampai ke tangannya melalui sistem marketing biasa sekalipun termasuk biaya agen dan iklan, jika ia memotong jalur perantara maka dia dapat memperoleh potongan harga. Persentase lebih dari 60 untuk bonus dan kurang dari 40 untuk biaya produksi barang jelas bahwa status barang hanyalah sebagai kedok untuk melegalkan Pyramid Scheme, di mana yang diinginkan adalah uang dan bukan barang.

• Seseorang yang ikut bergabung dalam MLM dengan tujuan bonus. Karena, bonus yang dijanjikan untuk tahun pertama saja sangat besar dan jauh dibanding harga barang yang dipasarkan kepada kedua orang yang sekaligus merupakan downlinenya.

dan tujuan ini merupakan tujuan utama mayoritas orang-orang yang bergabung dalam MLM, yaitu memperoleh bonus puluhan juta rupiah. Dan mereka sama sekali tidak menghiraukan produk yang dijual dan dibelinya. Dalam kasus ini jelas bahwa barang hanyalah sebagai kedok untuk melegalkan Pyramid Scheme.

Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa sistem MLM tidak berbeda hukumnya dengan Pyramid Scheme, sekalipun disertakan barang/produk karena status barang hanyalah sebagai kedok.

Hal ini dicermati oleh Dewan Fatwa Kerajaan Arab Saudi, dengan fatwa no. 22936, tanggal: 14-3-1425 H, yang berbunyi:

Soal : Banyak pertanyaan masuk ke dewan fatwa tentang hukum MLM seperti “BIZNAS” dan “Hibatul Jazirah”[4], inti sistem pemasarannya : setiap anggota berusaha meyakinkan 2 orang untuk membeli produk, kemudian setiap pembeli tadi berusaha meyakinkan 2 orang lagi untuk membeli. Semakin tinggi tingkatan peserta semakin besar bonus yang didapatkan. Mencapai ribuan riyal.

Jawab : Sistem ini (MLM) termasuk muamalat yang diharamkan karena tujuan orang yang bergabung adalah bonus bukan barang. Terkadang bonus mencapai ribuan riyal, sedangkan harga barang hanyalah ratusan riyal. Setiap orang yang berakal bila ditawarkan pilihan barang dan bonus pasti akan memilih bonus. Oleh karena itu, yang menjadi jargon perusahaan MLM menarik orang untuk membeli produknya adalah besarnya bonus yang dijanjikan, sebagai imbalan harga barang yang tidak seberapa bila dibandingkan dengan bonus yang akan diperoleh.

Berdasarkan penjelasan hakikat sistem pemasaran ini maka hukumnya adalah haram sesuai dengan dalil-dalil berikut:

1. Sistem MLM mengandung unsur riba fadl dan nasi’ah.
Setiap anggota menyerahkan uang dalam jumlah kecil untuk mendapatkan uang dalam jumlah yang lebih besar. Ini berarti uang ditukar dengan uang dengan nominal yang tidak sama dan tidak tunai. Inilah riba yang diharamkan berdasarkan teks Alqur’an dan Hadis, beserta Ijmak.

Sementara itu, status barang/produk yan dijual perusahaan kepada konsumen hanyalah sebatas kedok, karena barang bukanlah tujuan orang yang ikut dalam jaringan tersebut. Dengan demikian, keberadaan barang tidak mempengaruhi hukum (menjadi halal).

2. Sistem MLM mengandung unsur garar (spekulasi) yang diharamkan syariat. Karena, setiap orang yang ikut dalam jaringan ini, ia tidak tahu apakah akan berhasil merekrut anggota (downline) dalam jumlah yang diinginkan atau tidak.

Sementara itu, jaringan ini sekalipun terus beroperasi, pada suatu saat pasti akan terhenti; maka pada saat ia bergabung ke dalam jaringan ia tidak tahu, apakah dia berada pada tingkat atas sehingga dia akan beruntung ataukah dia akan berada pada tingkat bawah sehingga dia akan rugi.

Dan kenyataannya, sebagian besar anggota jaringan inilah hakikat garar. Yaitu, keberadaannya antara untuk dan rugi, dengan rasio rugi lebih besar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah melarang garar, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya.

3. Sistem MLM mengandung unsur memakan harta manusia dengan cara yang batil.

Karena, yang mendapat keuntungan dari sistem ini hanyalah perusahaan MLM dan sejumlah kecil anggota dalam rangka mengelabui orang-orang untuk ikut bergabung.

Dalam hal ini teks Alqur’an sangat jelas mengharamkan praktik ini. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil” [an-Nisa/2 : 29]

4. Sistem MLM mengandung unsur penipuan, menyembunyikan cacat dan pembohongan publik.

Dari sisi penyertaan barang/produk dalam jaringan, seolah-olah ini adalah penjualan produk, padahal sesungguhnya yang terjadi bukanlah demikian. Dan dari sisi menjanjikan bonus yang sangat besar, namun jarang diperoleh setiap anggota. Ini adalah penipuan yang diharamkan syariat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

“Tidak termasuk golonganku orang yang menipu”. [HR Muslim]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga bersabda:

البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مَحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Penjual dan pembeli dibenarkan melakukan khiyar selagi mereka berada dalam satu majelis dan belum berpisah. Jika keduanya jujur dan saling terbuka maka niscaya akad mereka diberkahi. Dan jika keduanya berdusta dan saling menutupi cacat (barang) maka niscaya dicabut keberkahan dari akad yang mereka lakukan.” [HR al-Bukhari dan Muslim]

KESIMPULAN Tentang Multi Level Marketing (MLM) 

Dari dua pendapat di atas, jelaslah bahwa pendapat yang terkuat adalah MLM hukumnya haram. Adapun fatwa yang membolehkan, sebetulnya bukanlah membolehkan secara mutlak, melainkan memboleh kan berkait, yakni bila persyaratan-persyaratan yang ditentukan syariat terpenuhi; padahal, kenyataannya, semua persyaratan tersebut dilanggar oleh sistem MLM.

Oleh karena itu, Dr. Husain Syahrani dalam disertasi doktoralnya yang berjudul “al-Taswiq al-Tijari wa Ahkamuhu fi al-Fiqh al-Islami” (Marketing Dalam Tinjauan Fikih) yang dibimbing oleh Dr. Abdurrahman al-Athram (Sekjen International Bureau For Economics & Finance, Anggota Dewan pakar AAOIFI, dan mantan Sekjen Dewan Syariah Bank Al Rajhi, Riyad) sampai pada kesimpulan bahwa tidak seorang pun ulama dari dunia Islam yang menghalalkan sistem MLM. Ia berkata,”Setelah mencari, meneliti, mendiskusikan, serta mengkaji maka saya tidak menemukan seorang ulama pun yang berpendapat bahwa sistem MLM hukumnya mubah (boleh) secara mutlak.”[5]

Kemudian perlu juga diingat bahwa MLM diharamkan bukan karena produknya, melainkan karena sistem pemasarannya. Maka apa pun jenis produk yang dipasarkan dengan sistem MLM, sekalipun produknya adalah barang-barang yang Islami, seperti CD literatur Islam yang dijual oleh perusahaan “Hibatul Jazirah” Riyadh, atau kaset-kaset dan CD yang berisi ceramah serta kajian keislaman yang dijual oleh perusahaan “Madaar An Nuur” Mesir dengan sistem MLM hukumnya juga haram.[6]

(Dinukil dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, cet. Ke-5, hlm. 299-308)
[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 6, Tahun ke-13/Muharram 1435. Diterbitkan Oleh Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon Al-Islami, Alamat : Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim (61153). Telp & Fax 0313940347, Redaksi 081231976449]
_______
Footnote
[1]. Al-Taswiq al-Tijari wa Ahkamuhu fi al-Fiqh al-Islami karya Dr. Husain Syahrani hlm. 502
[2]. Ibid. halm. 525-528
[3]. Dr. Sami al-Suwailim dalam konsultasi syariah di http://www.islamtoday.com
[4]. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2003 M, berpusat di Riyad. Produknya CD yang berisi program buku-buku Islam dalam bentuk elektronik. Dipasarkan dengan sistem MLM. 1 keping CD dijual dengan harga 500 riyal (mata uang Arab Saudi).
[5]. Hlm. 516
[6]. Haramnya perusahaan “HibatulJazirah” telah difatwakan oleh dewan fatwa Kerajaan Arab Saudi dan haramnya perusahaan “Madaar An Nuur” Mesir, difatwakan oleh Dr. Sami al-Suwailim. Lihat konsultasi syariah di http://www.islamtoday.com tertanggal 16-1-1424 H.


Perbedaan Mendasar Antara MLM Dan Samsarah:

1. Samsarah (Calo/Makelar)
Untuk menjadi perantara tidak disyaratkan harus membeli produk terlebih dahulu.
MLM (Multi Level Marketing)
Untuk menjadi anggota MLM diharuskan membeli produk. Ini termasuk dalam larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dua jual beli dalam satu jual beli, yaitu: untuk bisa memasarkan barang dia harus melakukan (1 akad ijarah) dan dia harus membeli barang (1 akad bai’)

2. Samsarah (Calo/Makelar)
Perantara (agen) mendapat imbalan dari setiap barang yang dijualnya kepada siapa pun. 
MLM (Multi Level Marketing)  
Dalam MLM, seseorang mendapat bonus jika menjual barang kepada dua orang kemudian dua orang itu menjual barang lagi kepada dua orang, dan begitu seterusnya. Jika persyaratan ini tidak terpenuhi maka bonus tidak akan didapat.

3. Samsarah (Calo/Makelar)
Upah yang diterima oleh perantara jelas jumlahnya baik dengan cara persentase harga barang ataupun dengan cara penetapan. 
MLM (Multi Level Marketing) 
Upah (bonus) yang akan diterima oleh penjual produk MLM tidak jelas dan ini termasuk garar (spekulasi).


Sumber: https://almanhaj.or.id/3876-mlm-bolehkah.html

Thursday, 12 January 2017

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme - Satuu negara dengan negara lain tentunya memiliki perbedaan. Tidak terkecuali Indonesia dan luar negeri. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara berkembang, belum termasuk negara maju. Tentunya hal ini membuat perbedaan antara Indonesia dengan luar negeri. Seperti apa saja perbedaan Indonesia dan luar negeri ? Di bawah ini ada beberapa meme yang menggambar perbedaan antar Indonesia dan luar negeri. Apa saja, monggo di pahami meme di bawah ini
Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Perbandingan Indonesia VS Luar Negeri Versi Meme

Tuesday, 10 January 2017

Warga Malang dan Sekitarnya Harap Hati-Hati

Warga Malang dan Sekitarnya Harap Hati-Hati - Sebagai info agar kepada bapak, ibu, saudara dan teman-teman sekalian, yang ingin melakukan perjalanan dari PASURUAN menuju MALANG melewati LAWANG/SINGOSARI dengan kendaraan roda 4 terlebih roda 2 untuk lebih berhati-hati.

Warga Malang dan Sekitarnya Harap Hati-Hati


Sekitar pukul 8.00 tadi malam, sebuah bus pariwisata AKAS mengalami kejadian yang sangat menakutkan dan membuat para penumpang BIS AKAS trauma. Awalnya dibuntuti oleh 5 pengendara motor, yang masing-masing membonceng 1 orang sehingga seluruhnya berjumlah 10 orang. Mereka berpakaian serba hitam.

Mereka membuntuti BIS AKAS secara beriringan/konvoi dari PURWOSARI menuju MALANG. Namun saat memasuki daerah LAWANG setelah Pos Polisi mereka mulai menyebar. 2 motor berada di belakang bis, 2 motor berada di depan bis & 1 motor disamping bis, dengan mengendarai motor secara zig zag/ugal ugalan. Ulah mereka yang sangat mencurigakan, membuat resah sopir, Kondektur & seluruh penumpang.

Sopir mengatakan pada Kondektur bahwa ia curiga, pasti mereka akan merampok. Hal ini pernah dialaminya berasaskan pengalaman beberapa tahun lalu dengan modus yang sama. Makanya sopir menyuruh Kondektur agar menutup pintu dan berusaha menenangkan penumpang, lalu si supir dan kondektur tetap siaga dengan parang yang sudah dibawa kalau- kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tak lama pengendara motor yang berada di samping merapat ke pintu sopir. Kemudian pengendara motor yang dibonceng menggedor2 pintu bus, lalu membuka kaca helm & berteriak pada si sopir : "OM TELOLET OM"

Sunday, 8 January 2017

Sebab Ilmu Tidak bermanfaat

Sebab Ilmu Tidak bermanfaat - Belajar merupakan proses untuk memperoleh suatu ilmu. Tempat untuk mempeoleh ilmu bisa di sekolah ataupun di pesantren. 
Sebab Ilmu Tidak bermanfaat


Ilmu yang bermanfaat merupakan ilmu yang barokah karena tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri namun juga orang di sekitar kita. Mengapa ilmu yang diperoleh seseorang tidak bermanfaat. Berikut ini sedikit ulasan mengenai sebab ilmu tidak bermanfaat.

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih dia berkata, “Salah seorang ulama Bani Israil mengumpulkan 70 peti buku ilmu pengetahuan. Masing-masing peti berukuran 70 hasta. Kemudian Allah menurunkan wahyu kepada nabi pada zaman itu agar dia menyampaikan kepada ulama itu, “Ilmu  itu tidak bermanfaat bagimu, walaupun mengumpulkan buku berlipat-ganda selama kamu memiliki tiga perkara: cinta dunia, berkawan dengan setan, dan menyakiti orang Muslim.”

Ini karena Fir’aun pun mengetahui kenabian Musa. Namun, pengetahuannya itu terhalang oleh cinta dunia dan kekuasaan, sehingga dia tidak mengikuti Musa dan ilmunya pun tidak bermanfaat. Demikian pula ilmu iblis tentang Adam as. dan ilmu orang Yahudi tentang  Nabi saw. Mereka tidak akan meraih kebahagiaan hanya dengan sekadar ilmu dan tidak akan menemukan hasil yang baik. Andaikan mereka mengamalkan apa yang mereka nasihatkan, niscaya mereka selamat.

Saturday, 7 January 2017

Penjelasan Lengkap Hukum Sholat Jumat Di Lapangan

Penjelasan Lengkap Hukum Sholat Jumat Di Lapangan - Shalat Jumat adalah kewajiban individual bagi laki-laki Muslim. Ia diwajibkan sejak periode Makkah. Namun, karena kuatnya resistensi orang musyrik Makkah, maka Nabi saw. tak bisa menjalankan shalat Jum’at di sana. Nabi saw. baru menjalankan shalat Jum’at ketika sampai ke Madinah. Beberapa referensi menyebutkan bahwa masjid yang pertama kali ditempati shalat Jum’at adalah masjid yang berdiri di perkampungan Bani Sulaim. Yang lain berkata bahwa tempat pelaksanaan shalat Jum’at pertama Nabi saw. itu bukan masjid melainkan sebuah lembah. Belakangan, di lembah itu dibangun sebuah masjid yang dikenal Masjid Jum’at. 

Penjelasan Lengkap Hukum Sholat Jumat Di Lapangan


Pasca shalat Jum’at di perkampungan Bani Sulaim itu, Nabi saw. melaknakan shalat Jum’at di dalam masjid. Sejauh yang bisa dipantau, tak terdengar kisah lanjutan bahwa Nabi saw. pernah shalat Jum’at di luar masjid. Ini mungkin karena masjid-masjid masih bisa menampung laki-laki Muslim yang hendak shalat Jum’at. Seiring waktu ketika jumlah umat Islam terus bertambah, maka muncul pertanyaan tentang boleh tidaknya umat Islam melaksanakan shalat Jum’at di luar masjid.

Dalam menjawab pertanyaan itu, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama lain mempersyaratkan agar shalat Jum’at dilakukan dalam masjid. Artinya, shalat Jum’at yang dilaksanakan di luar masjid seperti di lapangan tidak sah. Pendapat ini misalnya dikemukakan Mazhab Maliki.

(وبجامع) ابن بشير : الجامع من شروط الأداء ابن رشد : لا يصح أن تقام الجمعة في غير مسجد (مبني) الباجي : من شروط المسجد البنيان المخصوص على صفة المساجد فإن انهدم سقفه صلوا ظهرا أربعا (محمد بن يوسف بن أبي القاسم العبدري أبو عبد الله، التاج والإكليل لمختصر خليل، ج، ۲، ص. ۱٥٩




Namun, mayoritas ulama menyatakan bahwa shalat Jum’at tidak disyaratkan dilaksanakan di dalam masjid. Artinya, shalat Jum’at bisa diselenggarakan di gedung-gedung perkantoran, lapangan, dan lain-lain. Pendapat ini misalnya dikemukakan Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.  

وذهب البعض إلى اشتراط المسجد قال لأنها لم تقم إلا فيه وقال أبو حنيفة والشافعي وسائر العلماء إنه غير شرط وهو قوي (محمد شمس الحق العظيم آبادي أبو الطيب، عون المعبود شرح سنن أبي داود، ج, ۳، ص. ۲٨۱(


Merujuk pada teks di atas jelas bahwa Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah tak mempersoalkan sekiranya shalat Jum’at dilakukan di luar masjid. Namun, Mazhab Syafi’i memberi penekanan agar pelaksanaan shalat Jum’at dilaksanakan di area pemukiman. Dari sini bisa dipahami bahwa melaksanakan shalat Jum’at di luar masjid adalah boleh, tetapi dengan ketentuan memenuhi standar “dar al-iqamah”.


Wallahu A’lam


Sumber : Situs PBNU

Friday, 6 January 2017

Makanan Khas Bojonegoro Yang Perlu Dicoba

Makanan Khas Bojonegoro Yang Perlu Dicoba - Bojonegoro merupakan salah satu daerah yang ada di Jawa Timur. Bojonegoro terletak di sebelah barat, berbatasan langsung dengan Cepu Jawa Tengah.

Bojonegoro dikenal juga sebagai Bumi Angling Darma. Ya begitulah, ada yang mengatakan bahwa Prabu Angling Darma merupakan Prabu yang pernah berkuasa di Kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Tuban ini.

Selain dikenal sebagai Bumi Angling Darma, Bojonegoro juga memiliki berbagai makanan yang belum tentu ada di daerah lain. Apa saja itu ?

Ledre Khas Bojonegoro

Makanan Khas Bojonegoro Yang Perlu Dicoba - Ledre Khas Bojonegoro

 

Makanan ini merupakan makanan yang dibuat dari adonan tepung kemudian dijepit dan digulung ketika panas. Dan jadilah Ledre. Yang khas dari Ledre ini adalah bahan yang ditambahi dengan pisang raja yang membuat Ledre Bojonegoro ini menggoda hidung dan membuat lidah semakin penasaran bagaimanan rasanya.

Serabi Khas Bojonegoro

Makanan Khas Bojonegoro Yang Perlu Dicoba - Serabi Khas Bojonegoro

 

Makanan yang satu ini memang makanan yang cocok dinikmati saat santai. Serabi. Makanan ini merupakan makan yang terbuat dari adonan kemudian di cetak dengan alat khusus. Masalah harga tidak usah khawatir karena harganya murah meriah

Keripik Tempe Kriuk Bojonegoro

Makanan Khas Bojonegoro Yang Perlu Dicoba - Keripik Tempe Kriuk Bojonegoro

 

Terbuat dari tempe kemudian dibalut dengan adonan tipis dan digoreng sampai kecoklatan dan kriuk renyah adalah salah satu makanan yang tidak boleh dilewatkan ketika ke Bojonegoro.

Putu Bambu Khas Bojonegoro

Makanan Khas Bojonegoro Yang Perlu Dicoba - Putu Bambu Khas Bojonegoro

 

Jajanan yang satu ini dikukus menggunakan bambu. Makanan ini bernama Putu. Makan ini merupakan cocok dinikmati selagi waktu hujan. Setelah dikukus menggukan bambu makanan ini kemudian ditaburi parutan kelapa yang membuatnya semakin nikmat dilidah.

Thursday, 5 January 2017

Masuk Islam Karena Serigala Berbicara


Masuk Islam Karena Serigala Berbicara

Masuk Islam Karena Serigala Berbicara - Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah, dia berkata : “Rasulullah shalat Subuh, kemudian seusai shalat beliau menghadap kepada para sahabat. Beliau bersabda : ‘Ketika seorang penggembala sedang menggembala domba-dombanya, tiba-tiba seekor serigala menyerang dan membawa lari seekor domba. Penggembala itu mengejarnya sampai domba miliknya bisa diselamatkan dari serigala itu.

Tiba-tiba serigala itu berkata kepada penggembala, ‘Kamu menyelamatkannya dariku. Lalu siapa yang akan menyelamatkannya pada hari datangnya binatang buas, pada hari itu tidak ada penggembala kecuali aku?’. Para sahabat berkata, ‘Subhanallah, serigala bisa berbicara’. Rasulullah bersabda, ‘Aku percaya dengan kisah ini, begitu pula Abu Bakar dan Umar’.”

Adapun binatang bisa berbicara kepada manusia dengan bahasa manusia, hal itu telah terjadi sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah dalam hadis di atas. Abu Nuaim meriwayatkan dalam Dalailin Nubuwah, bahwa peristiwa ini pernah terjadi pada seorang sahabat yang bernama Uhban bin Aus. Seekor serigala menyerang dombanya. Serigala itu menerkam seekor domba. Uhban berteriak, lalu serigala itu duduk di atas ekornya. Serigala itu berbicara kepadanya, ‘Siapa yang akan menjaganya di hari ketika kamu sedang sibuk darinya?

Kamu telah menghalangiku mendapatkan rezeki dari Allah’. Uhban berkata, ‘Lalu aku menepuk tanganku. Aku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih aneh dari ini.’ (Hal ini terjadi setelah Nabi diangkat menjadi Rasul Allah).

Serigala itu berkata lagi, ‘Ada yang lebih aneh dari ini, ada seorang utusan Allah di kota yang ditumbuhi kurma (Mekkah), dia mengajak kepada Allah’.


Setelah kejadian tersebut, Uhban pun bergegas mencari utusan Allah yang diceritakan oleh serigala itu. Setelah bertemu dengan Rasulullah, Uhban pun menceritakan kejadian yang menimpanya dan dia memutuskan masuk Islam.


Wallahu A’lam


Sumber : Kitab Shahihul Qishas

Wednesday, 4 January 2017

Ketika Tumbuhan dan Hewan Bertasbih

Ketika Tumbuhan dan Hewan Bertasbih - Ternyata hewan dan tumbuhan dapat bertasbih. Karena hewan dan tumbuhan juga merupakan makhluk Allah. Bagaimana kah tumbuhan dan hewan bertasbih ??

Ketika Tumbuhan dan Hewan Bertasbih


“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’ : 44)

Ada sebuah penelitian ilmiah yang diberitakan oleh sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, menyebutkan bahwa sekelompok ilmuwan yang mengadakan penelitian mendapatkan suara halus yang keluar dari tumbuhan yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam dengan sebuah alat perekam tercanggih yang pernah ada. lafadz Allah terdengar, getaran di atas suara (ultrasonic/ultra sound) tersebut berubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditangkap oleh monitor.

Penelitian diatas dikaitkan dengan potongan ayat 44 “kamu tidak mengerti tasbih mereka” yang dimaksud pada ayat diatas adalah sebagian besar manusia tidak mengerti sunatullah atau hukum alam. Namun ada sebagian lainnya yang dapat mengetahuinya yaitu para ahli. Orang-orang ahli itulah yang berakal budi dan berpengetahuan yang bisa mengerti hukum alam, maka juga bisa mengerti akan tasbih dari benda-benda yang ada di langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya.


Rasulullah saw. dan para sahabatnya juga pernah mendengar tasbihnya makanan, padahal pada waktu itu belum ditemukan alat-alat super canggih pendeteksi (perekam) suara yang tidak bisa didengar telinga. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam beberapa sabda Nabi saw. :

“Seekor semut menggigit seorang Nabi di antara Nabi-Nabi, lalu Nabi tersebut menyuruh membakar sarang semut itu, lalu dibakarlah. Kemudian Allah swt. berfirman kepadanya : ‘Apakah karena seekor semut yang menggigitmu, lalu engkau musnahkan satu umat (semut) dari umat-umat yang selalu membaca tasbih’ .” (HR. Muslim)

“Kalian menganggap tanda-tanda (kebesaran Allah) sebagai azab (siksa) sedangkan kami (sahabat) pada masa Rasulullah saw. menganggapnya sebagai berkah. Sungguh, dahulu kami memakan makanan bersama Nabi saw. dan kami mendengar makanan tersebut bertasbih ketika kami makan.” (HR. Tirmidzi)

“Sungguh, kami (sahabat) pernah mendengar makanan membaca tasbih ketika sedang dimakan.” (HR. Bukhari)

Dapat diambil kesimpulan, hanya orang-orang yang diberikan pengetahuan yang dapat mengungkap fakta akan bunyi tasbih dari segala benda yang ada di langit dan di bumi. Semua itu atas izin Allah swt.


Wallahu A’lam

Tuesday, 3 January 2017

Kisah Sapi Berbicara

Kisah Sapi Berbicara - Kita tidak boleh menyusahkan makhluk ciptaan Allah. Semuanya, termasuk sapi sekalipun. Di bawah ada kisah yang bersumber dari Hadist yang menceritakan tentang sapi yang dapat berbicara karena sapi tersebut dipukuli. Berikut kisah Kisah Sapi Berbicara.

Kisah Sapi Berbicara


Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah, dia berkata : “Rasulullah shalat Subuh, kemudian seusai shalat beliau menghadap kepada para sahabat. Beliau bersabda : ‘Ada seorang laki-laki menuntun seekor sapi, di tengah perjalanan tiba-tiba dia menaikinya dan memukulnya. Sapi itu berkata, ‘Kami tidak diciptakan untuk ini, tetapi kami diciptakan untuk membajak sawah’. Maka para sahabat berkata, ‘Subhanallah, seekor sapi dapat berbicara’. Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya aku percaya dengan kisah ini, begitu pula Abu Bakar dan Umar’.”


Wallahu A’lam


Sumber : Kitab Shahihul Qishas

Monday, 2 January 2017

Keutamaan Membaca Surat Ar Rohman

Keutamaan Membaca Surat Ar Rohman - Surat Ar Rohman merupakan salah satu surat Al Quran yang ke 55. Surat merupakan salah satu surat yang banyak di baca orang. Banyak juga yang memfavoritkan surat ini. Ada banyak alasan mengapa banyak orang memfavoritkannya. Adapula yang menghafal dan/atau membaca saat pernikahan, yang mana mungkin dianggap sebagai surat yang romantis. 

Keutamaan Membaca Surat Ar Rohman


Selain itu Surat yang tersusun setelah surat Al Waqiah ini juga memiliki banyak keutamaan. Apa saja keutamaan Surat Ar Rohman : 

Dapat mengingatkan tentang Sifat Allah Ar Rohman atau Maha Pengasih


Dari nama suratnya saja tentunya kita akan paham bahwa artinya Allah Maha Pengasih. Surat Ar Rohman merupakan surat yang mampu mengingatkan kita akan kebesaran-Nya dan kasih sayang-Nya terhadap Semua mahluknya. Ada suatu kitab yang menjelaskan bahwa kasih sayang Allah yang diberikah kepada makhluk-Nya di dunia ini ada beberapa persen saja. Selebihnya akan diberikan Allah kelak di Hari Kiamat. 

Pengingat Agar Tidak Kufur Nikmat


Mari kita perhatikan isi dan kandungan surat Ar-Rahman, maka akan kita temui di dalamnya terdapat sekitar 40% lebih ayat yang sama.

Ayat tersebut merupakan sebuah kepada para makhluknya yang jarang bahkan tidak pernah bersyukur sama sekali atas nikmat-nikmat yang telah diberikan.

Meskipun para makhlukNya bersikap seperti itu, namun karena sifatNya yang maha pengasih, Allah masih saja memberikan nikmat-nikmat tersebut (di dunia) kepada makhlukNya.

Diberikan Syafaat Allah di Hari Kiamat


Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Jangan tinggalkan membaca surat Ar-Rahman, bangunlah malam bersamanya, surat ini tidak menentramkan hati orang-orang munafik, kamu akan menjumpai Tuhannya bersamanya pada hari kiamat, wujudnya seperti wujud manusia yang paling indah, dan baunya paling harum. Pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang berdiri di hadapan Allah yang lebih dekat denganNya daripadanya.

Pada saat itu Allah berfirman padanya: Siapakah orang yang sering bangun malam bersamamu saat di dunia dan tekun membacamu. Ia menjawab: Ya Rabbi, fulan bin fulan, lalu wajah mereka menjadi putih, dan ia berkata kepada mereka: Berilah syafaat orang-orang yang mencintai kalian, kemudian mereka memberi syafaat sampai yang terakhir dan tidak ada seorang pun yang tertinggal dari orang-orang yang berhak menerima syafaat mereka. Lalu ia berkata kepada mereka: Masuklah kalian ke surga, dan tinggallah di dalamnya sebagaimana yang kalian inginkan.” 

(Tsawabul A’mal, hlm 117).

Artikel Menarik