Monday, 5 December 2016

Puisi Negeri Haha Hihih Karya Gus Mus - KH. Musthofa Bisri

Puisi Negeri Haha Hihih Karya Gus Mus - KH. Musthofa Bisri

Puisi Negeri Haha Hihih Karya Gus Mus - KH. Musthofa Bisri

Bukan karena banyaknya grup lawak, maka negriku selalu kocak
Justru grup – grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak
Negriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut

Banyak yang terus pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan
Banyak yang terur pamer keberanian dengan kebodohan yang mengharukan
Banyak yang terus pamer kekerdilan dengan teriakan memilukan
Banyak yang terus pamer kepengecutan dengan lagak yang memuakkan

hahaha penegak keadilan jalannya miring Penuntut
keadilan kepalanya pusing
Hakim main mata dengan maling
Wakil rakyat baunya pesing hihihihi

kalian jual janji – janji untuk menebus kepentingan sendiri
kalian hafal pepatah produktif untuk mengelabui mereka yang tertindih
Pepatah petitih

hahaha Anjing menggonggong kafilah berlalu, sambil menggonggong kalian terus berlalu hahaha
Ada udang dibalik batu, udang kepalanya batu hahaha
Sekali dayung 2 pulau terlampaui, sekali untung 2 pulau terbeli hahaha

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, kalian mati meninggalkan hutang hahaha
Hujan emas dinegri orang, hujan batu dinegri sendiri,

lebih baik yook hujan – hujanan caci maki.

Sunday, 4 December 2016

Tukang Cukur Murah

Tukang Cukur Murah - Mukidi memanggil tukang cukur keliling yang kebetulan lewat depan rumahnya, ia berniat mencukur rambutnya.

Tukang Cukur Murah


Mukidi: “Bang! Tukang cukur, cukur sini bang!”

Tukang Cukur: “Mau cukur???”

Mukidi: “Di bikin pendek berapa harganya bang?”

Tukang Cukur: “Murah cuma 3000.”

Mukidi: “Kalau botak berapa bang?”

Tukang Cukur: “Kalau botak 2000.”

Mukidi: “Ya sudah kalo gitu di bikin pendek aja bang biar rapi.”

Kemudian si tukang cukur segera mencukur rambut Mukidi, setelah rapi Mukidi membayar tukang cukur dengan uang 5000an.

Tukang Cukur: “Wah nggak ada kembaliannya,ni aja baru penglaris.”

Mukidi: “Waduh gimana yah bang gak ada recehan nih bang.”

(Sambil garuk kepala Mukidi berpikir, setelah lama berpikir kemudian Mukidi memutuskan).

Mukidi: “Ya udah bang, kalau gitu yang 2000 botak aja.”

Tukang Cukur: “!@@#!#$%#@#!?”

Tips Usaha Dengan Modal Kecil

Tips Usaha Dengan Modal Kecil - Menjadi seorang pengusaha bukanlah hal mudah. Apalagi yang masih mudah dan belum berpengalaman. Tentuny akan bertemu berbagai hambatan yang harus dilalui.

Tips Usaha Dengan Modal Kecil


Ada banyak hambatan yang bisa ditemui, salah satunya adalah masalah modal. Hampir semua orang yang bermimpi atau bercita-cita menjadi pengusaha sukses terhambat masalah modal atau biaya.

Namun ada pula usaha atau bisnis yang irit modal atau biaya. Usaha atau bisnis yang tanpa modal ini bisa online dan juga bisa offline. Tergantung selera bisnis online atau offine.

Bagi sobat yang mengalami hambatan masalah modal maka di bawah ini akan disajikan beberapa usaha yang bermodal kecil. Apa saja itu :

Menjahit

Menjahit merupakan salah satu bidang usaha yang dapat dilakukan tanpa harus memiliki tempat usaha. Jika sobat hobi dalam hal fashion maka tidak sulit untuk belajar menjahit. Atau mungkin sobat sudah pernah menjadi pegawai atau karyawan konveksi, maka hal itu merupakan keberuntungan karena memiliki pengalaman menjahit.

Pulsa

Pulsa zaman sekarang ini ibarat sebuah makanan pokok. Yang mana bila tidak mengkonsumsi terasa ada yang kurang atau bahkan bisa membahayakan. Hehehe. Kebutuhan pulsa memang dibutuhkan banyak orang. Dengan pulsa kita bisa berkirim SMS, teleponn dan juga dapat berinternetan.

Karena sifatnya yang seakan-akan menjadi kebutuhan pokok inilah maka pulsa bisa dijadikan ladang bisnis. Bagi yang berminat dengan bisnis pulsa ini silakan baca Artikel tentang "bisnis pulsa yang menggiurkan"

Les Private

Jika memiliki waktu senggang bisa saja hal itu dijadikan lahan untuk memperoleh tambahan. Misalnya saja untuk membuka les private. Les private apa ? Tentu yang sudah sobat kuasai agar para siswa les cepat paham karena sobat telah menguasainya.

Apalagi jika sobat pernah menjadi guru private semasa kuliah. Atau memang kuliah jurusan pendidikan, tentunya hal ini lebih cocok untuk membuka jasa les private.

Desain Dan Editing Foto dan Percetakan

Berawal dari hobi dan berbuah sukses. Hal itu bisa saja terjadi apabila hobi tersebut bersifat positif. Misalnya saja hobi editing foto. Daripada iseng dan jahil edit foto orang lain mengapa tidak membuka jasa editing. Bukankah hal itu lebih bermanfaat karena bisa mengasah kemampuan sekaligus menghasilkan uang.

Selain jasa editing kembangkan juga masalah percetakan. Jika mempunyai keduanya maka akan lebih dikenal banyak orang karena kemampuan yang kita miliki belum tentu dimiliki orang lain.

Saturday, 3 December 2016

Pengalaman Perang

Pengalaman Perang - Saat 17 Agustus-an Mukidi bercerita tentang pengalamannya waktu ikut perang pada jaman doeloe kepada cucunya.



Mukidi: “Dulu Kakek ikut perang. Waktu kakek dan teman-teman mo nyerang musuh pake pesawat, ternyata di tengah perjalanan pesawat kakek ditembaki musuh sehingga pesawat itu hancur. Semua yang ada dipesawat itu meninggal termasuk Pilotnya.”

Cucu: “Loh kok, kakek sekarang masih hidup?”

Mukidi: (Dengan penuh kebanggaan) “Waktu itu Kakek ketinggalan pesawat!”

Legenda Asal - Usul gajah Mada dari Modo - Lamongan

Legenda Asal - Usul gajah Mada dari Modo - Lamongan

Legenda Asal - Usul gajah Mada dari Modo - Lamongan

LEGENDA ASAL-USUL GAJAH MADA DARI LAMONGAN

Desa Cancing – Gunung Ratu terletak di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, berada di wilayah Kecamatan Ngimbang, Lamongan. Secara Geografis, daerah tersebut berbatasan dengan Kabupaten Jombang dan Mojokerto (tempat pusat kerajaan Majapahit).

Penulis sendiri kebetulan dilahirkan di Desa Sekidang, sekitar 10 km sebelah utara Gunung Ratu. Sewaktu kecil, saat itu Desa Sekidang belum ‘digusur’ menjadi areal Waduk Gondang, penulis sedikit banyak mendengar cerita rakyat tentang Gajah Mada. Beberapa diantaranya Tersingkirnya Dewi Andongsari (Ibu Gajah Mada) dari Keraton Majapahit, Peristiwa Kucing dan Ular, Tempat Joko Modo (Gajah Mada) mengembala kerbau (angon kebo), dan beberapa kisah masa kecil Joko Modo. Waktu SD dulu, lebih dari 20 tahun yang lalu, selain menggembala sapi dan cari kayu bakar, penulis sering ikut kegiatan Pramuka. Yang paling berkesan ialah saat Penjelajahan. Sekali waktu, rute penjelajahan yaitu Desa Sekidang, Jegreg, Plapak dan Cancing (Gunung Ratu).

Untuk menuju ke makam tersebut, harus melewati tangga undakan. Saat itu, saya dan beberapa teman menghitung berapa undakan yang dilewati. Hasilnya, bervariasi. Sampai di atas, saya melihat makam Dewi Andongsari kelihatan sering diziarahi orang, nampak dari banyaknya taburan bunga. Hal yang sama juga nampak ditempat Kucing dikubur—yang ditandai dengan bongkahan batu. Menurut cerita yang beredar, situs pemakaman tersebut sering disalahgunakan, misal mencari ilmu atau juga ngalap berkah.

Kondisi pemakaman saat ini, jelas jauh berbeda. Lokasi tersebut sudah direhab oleh Pemkab Lamongan dan difungsikan sebagai Peninggalan Situs Bersejarah sekaligus tempat Wisata Sejarah. Setiap hari tempat tersebut dikelola dan dirawat oleh Mbah Sulaiman, seorang juru kunci dari Makam tersebut. Menurut Mbah Sulaiman inilah bukti fisik akan keberadaan asal usul Gajah Mada. Gunung atau biasa juga disebut bukit Ratu, dulunya merupakan petilasan dari Dewi Andong Sari yang diusir dari Majapahit karena iri hati dari permaisuri Dara Petak dan Dara Jingga karena dikhawatirkan memiliki seorang putra. Di bukit inilah tempat Dewi Andongsari menjalani hari-harinya sampai akhirnya melahirkan Joko Modo (Gajah Mada).

Kisah berawal ketika pada suatu hari Desa Cancing kedatangan sekelompok prajurit Majapahit yang sedang mengiringkan istri selir Raden Wijaya yang sedang mengandung.  Sekelompok prajurit tersebut mendapat tugas rahasia untuk menyingkirkan (mungkin membunuh) Dewi Andong Sari, tapi karena suatu hal Dewi Andong Sari tidak dibunuh melainkan hanya disembunyikan di desa Cancing yang terletak di dalam hutan jauh dari pusat pemerintahan majapahit (± 35 km arah barat laut dari Trowulan). Jalur desa tersebut dekat dengan jalur perjalanan Majapahit-Kadipaten Tuban.


Saat itu, desa tersebut dipimpin oleh Ki Gede Sidowayah yang juga mempunyai keahlian membuat senjata pusaka (Mpu). Setelah usia kandungan cukup maka lahirlah bayi laki-laki, tapi sayang Dewi Andong Sari tidak berumur panjang. Pada saat putranya masih kecil ia meninggal dunia dan dimakamkan di tempat tersembunyi yaitu di atas bukit dan di tengah rimbunnya hutan. Bukit itulah yang kemudian lebih dikenal dengan nama Gunung Ratu.

Pernah pada suatu ketika, saat Gajah Mada masih bayi, Dewi Andongsari turun dari bukit hendak mengambil air di telaga (sendang) yang terletak di bawah bukit. Gajah Mada ditinggal sendirian, hanya ditemani kucing setia milik Dewi Andongsari. Pada saat itulah seekor ular hendak mematok Gajah Mada. Kucing milik Dewi Andongsari menghalanginya sehingga terjadi perkelahian. Si kucing berhasil menggigit ular hingga mati. Beberapa saat kemudian, Dewi Andongsari datang dan langsung melihat kucing yang mulutnya penuh darah. Dewi Andongsari menyangka bahwa kucing tersebut telah menggigit Gajah Mada. Kucing itu pun kemudian dia pukul. Tapi Dewi Andongsari pun kemudian tersadar ketika tak jauh dari bayinya, terlihat bangkai ular. Dewi Andongsari menyesal bukan main, apalagi tak lama kemudian kucing itupun mati.

Sampai sekarang keberadaan telaga tersebut masih ada, demikian juga dengan tempat dikuburkannya kucing tersebut.

Tak lama setelah peristiwa itu, Dewi Andongsari pun meninggal. Oleh warga desa Cancing jenazahnya dimakamkan di bukit tersebut, tak jauh dari kuburan kucing kesayangannya. Bayi Gajah Mada sendiri kemudian diambil oleh Ki Gede Sidowayah…


Ki Gede Sidowayah tidak mempunyai istri. Dia merasa kasihan dan khawatir bayi tersebut tidak terurus dengan baik. Oleh karena itu, bayi tersebut diserahkan pada adik perempuannya (janda Wara Wuri) yang tinggal di desa Modo. Bayi laki-laki tersebut tumbuh sehat dan cerdas yang kemudian dipanggil dengan nama Joko Modo (pemuda dari Modo).


Seperti pemuda desa pada umumnya, Joko Modo pun ikut bekerja membantu orang tua angkatnya yaitu sebagai pengembala kerbau. Karena kecakapanya Joko Modo oleh sesama teman penggembala dianggap sebagai pemimpin. Meskipun hanya sebagai pemimpin sekelompok anak gembala, ternyata bakat kepemimpinannya mulai nampak.

Untuk memudahkan mengawasi kerbau-kerbau yang sedang digembala tersebut, Joko Modo dan kawan-kawan gembala lainnya naik di atas bukit kecil sehingga jarak pandangnya menjadi jauh dan luas. Bukit tersebut sampai sekarang masih ada dan oleh masyarakat setempat dinamakan Sitinggil (Siti= tanah, Inggil= tinggi) artinya tanah yang tinggi.

Pada saat Joko Modo diatas bukit sambil mengawasi kerbau-kerbaunya itu tidak sengaja ia pun kadang-kadang melihat iring-iringan prajurit Majapahit menuju Tuban atau sebaliknya dari Tuban menuju majapahit. Hal ini terjadi karena letak Modo memang berada diantara Majapahit dan Tuban.

Dari seringnya melihat iring-iringan prajurit Majapahit yang gagah-gagah tersebut membuat hati Joko Modo tertarik, kelak suatu saat ia ingin menjadi prajurit Majapahit juga. Ki Gede Sidowayah sendiri diberi hadiah tanah perdikan di Songgoriti Malang. Hadiah tersebut nampaknya sebagai penghargaan pada Ki Gede yang diam-diam berhasil menyelamatkan Dewi Andongsari dan memelihara bayinya. Ki Gede Sidowayah tidak lupa mengajak pula Joko Modo ke Songgoriti, dengan pertimbangan agar jiwa, sikap, serta cara berpikir Joko Modo yang cerdas dan cakap bisa berkembang dengan baik. Hal ini dimungkinkan karena Songgoriti daerahnya lebih subur dan makmur jika dibandingkan dengan Modo atau Ngimbang Lamongan yang letaknya jauh di dalam lebatnya hutan belantara.


Karena kecakapan dan kepandaiannya tersebut dan didukung oleh pengaruh Ayah angkatnya yaitu Ki Gede Sidowayah maka Joko Modo akhirnya tercapai cita-citanya yaitu menjadi prajurit Majapahit, yang kelak Kemudian kariernya terus menanjak sehingga menjadi Patih Gajah Mada, seorang tokoh besar di Kerajaan Majapahit.
*

Berikut ini analisa seputar Legenda Gajah Mada dari Lamongan:

1. Peristiwa penculikan Dewi Andong sari dari Keraton Majapahit (1299 M)

Adanya peristiwa rencana pembunuhan terhadap istri Selir Raden Wijaya yang sedang mengandung yaitu Dewi Andong Sari sangat mungkin terjadi atas kehendak Putri Indreswari yaitu Dara Petak yang berasal dari Melayu.

Dara Petak adalah Putri Melayu yang datang ke Majapahit bukan atas kehendak sendiri, melainkan dibawa oleh Kebo Anabang (Pemimpin ekspedisi Pamalayu) sebagai putri rampasan sebab negerinya ditaklukkan oleh Singosari / Majapahit. Ketika ia diperistri oleh Raden Wijaya tentu bukan bukan atas dasar cinta tapi karena terpaksa karena itu punya gagasan dalam hati yaitu Melayu bisa tunduk pada Majapahit tapi keturunan Melayu yaitu anaknya suatu saat harus jadi Raja Majapahit.

Ketika ia melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Kalagemet (Jayanegara) tahun 1294 M. Ia sangat senang, sebab kedua anak Raden Wijaya permaisuri yang lain semuanya wanita, yaitu : Diyah Tribhuana Tungga Dewi dan Diyah Wiyat Sri Raja Dewi. Dengan demikian cita-citanya pasti terwujud, sebab sepeninggal Raden Wijaya tahta Kerajaan pasti jatuh ke tangan anaknya.

Tapi perasaan gembira itu berubah jadi cemas setelah tahu istri Selir Raden Wijaya yaitu Dewi Andong Sari teryata hamil, jika nanti Dewi Andong Sari melahirkan anak laki-laki tentu akan jadi Bantu sandungan bagi cita-citanya. Karena itu sebelum Dewi Andong Sari melahirkan ia harus segera segera dilenyapkan.

2. Ditinjau dari segi geografis

Posisi Desa Cancing, Ngimbang dengan Trowulan (pusat kerajaan Majapahit) jika ditarik garis lurus 35 km, suatu jarak yang masuk akal sebagai jalur pelarian untuk tempat sembunyinya Dewi Andong sari, apalagi Cancing berada di dalam lebatnya hutan. Demikian juga dengan letak Modo (sekarang Kec. Modo). Diceritakan, Joko Modo sering melihat iring-iringan prajurit Majapahit menuju Tuban atau sebaliknya dari Tuban menuju Majapahit, itu sangat masuk akal sebab Modo memang terletak di antara jalur Majapahit dengan Tuban.

3. Ditinjau dari segi politik

Pada saat pemberontakan Ra Kuti (1319) Gajah Mada yang saat itu menjadi kepala pasukan Bhayangkara menyelamatkan Raja Jaya Negara dengan sembunyi di Desa Badander. Para sejarawan banyak yang menduka bahwa Badander yang dimaksud itu adalah Dander di Bojongoro, padahal tidak. Sebab ada lagi nama Desa yang namanya persis sepert yang disebut dalam Negara Kertagama yaitu Badander (buah dander) yang berada di kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang.

Jarak antara Desa Badander dengan Cancing, Ngimbang hanya 10 km, sedang jarak Badander Trowulan 25 km, sehingga sangat mungkin yang dimaksud Desa Badander tempat persembunyian Raja jayanegara kerena adanya pemberotakan Rakuti adalah Badander tersebut (bukan Dander Bojonegoro).

Suatu kebiasaan, jika ada kerusuhan di ibu koa maka para pembesar ibu kota berusaha menyelamatan diri ke Daerah asalnya yaitu daerah dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Dengan pertimbangan itu, tentu mendapat dukungan dan perlindungan dari masyarakat sekitarnya, di samping juga menguasai medan sehingga banyak membantu untuk perjuangan berikutnya.

Demikian juga halnya dengan Gajah Mada, kemungkinan besar benarya ia tidak senaja sembunyi di Desa Badander melainkan ke Desa Cancng (Ngimbang) tempat ia berasal. Tapi karena kondisinya pada saat itu tidak memungkinkan disamping letak Badander dengan Ngimbang sangat dekat apalagi adanya jaminan perlindungan dari Ki Buyut Badander, maka dipilihnya Badander sebagai tempat persembunyian sementara sambil menyusun siasat untuk merebut kembali tahta kerajaan dari pemberontak Ra Kuti.

4. Ki Gede Sidowayah mendapat hadiah tanah perdikan di Songgoriti Malang.

Dalam sejarah adalah hal yang wajar jika seseorang mendapat hadiah tanah perdikan dari Raja sebagai imbalan karena orang tersebut berjasa besar pada Raja atau Negara. Demikian juga halnya dengan Ki Gede Sidowayah yang mendapat tanah perdikan di Singgoriti.

Ada dua kemungkinan Ki Gede Sidowayah mendapat tanah perdikan di Songgoriti yaitu :
(a). Sebagai seorang Mpu mungkin Ki Gede Sidowayah pernah membuat sejenis pusaka yang ampuh untuk Raden Wijaya. Tapi kemungkinan ini lemah, sebab diantara banyak pusaka peninggalan Majapahit tdak dikenal buatan Mpu Sidowayah. Disamping itu dalam sejarah belum pernah ada seseorang mendapat hadiah tanah perdikan hanya karena berjasa membuat pusaka untuk Raja.
(b). Karena Ki Gede Sidowayah berjasa besar yaitu menyelamatkan garwo selir R. Wijaya yang sedang mengandung hingga melahirkan dengan selamat. Untuk menjaga kerahasiaan tersebut Ki Gede Sidowayah diberi hadiah tanah perdikan yang letaknya sangat jauh dari Lamongan yaitu di Songgoriti Malang. Sebab jika diketahui bahwa R. Wijaya punya anak laki – laki selain Kalagamet, maka bias timbul masalah besar dalam proses pergantian raja sepeninggalan R. Wijaya nanti. Mungkin kedua inilah yang agak lebih mendekati kebenaran.

5. Peristiwa Tanca tahun 1.328 M (Bhasmi bhuto nangani ratu = 1250 C)

Dalam Pararaton disebutkan selama Ra Tanca menjalankan tugas pengobatan terhadap raja Jayanegara Gajah Mada mengawasinya, begitu Tanca membunuh Jayanegara maka Gajah Mada langsung membunuh Ra Tanca

Dalam Pararaton tersebut dengan jelas mengatakan kalau Jayanegara meninggal karena dibunuh oleh Ra Tanca, kemudian Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gaja Mada tanpa proses pengadilan. Kita semua sependapat jika Ra Tanca membunuh Jayanegara karena sakit hati sebab istrinya pernah diganggu oleh Jayanegara. Tapi mengapa Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gaja Mada tanpa proses pengadilan? Tidak ada orang mempermasalahkan.

Kalau kita memperhatikan cerita rakyat Ngimbang tentang Joko Modo, sangat mungkin bahwa peristiwa pembunuhan Jayanegara oleh Ra Tanca adalah hasil skenario Gajah Mada sendiri. Sebab ibunda Gajah Mada Yaitu Dewi Andong Sari dilenyapkan dari istana oleh ibunda Jayanegara yaitu Dara Petak. Peristiwa itu tentu sangat menyakitkan hati Gajah Mada, sehingga timbullah niat balas dendam yaitu melenyapkan Jaya negara melalui tangan Ra Tanca, setelah itu Ra Tanca langsung dibunuhnya untuk menutup rahasia selamanya.

6. Peristiwa Bubat tahun 1357 M (Sanga Turangga Paksa Wani = 1279 C)

Ketika raja Hayam Wuruk sudah cukup dewasa untuk menikah, maka dikirimkan ke segala penjuru untuk mencari wanita yang paling cantik, segala lukisan yang dikirimkan ke Majapahit tidak ada yang menarik kecuali lukisan putri Sunda yaitu “ Diyah Pitaloka“. Maka dipinanglah Diyah Pitaloka untuk menjadi permaisuri Raja Hayam Wuruk.

Pada saat upacara pernikahan terjadilah beda pendapat antara Gajah Mada dengan keluarga pihak pengantin putrinya yaitu : Gajah Mada menghendaki agar raja Sunda menyerahkan putrinya kepada Raja Majapahit sebagai upeti, sedang raja Sunda menghendaki upacara pernikahan sebagaimana mestinya, yaitu putrinya harus dijemput oleh keluarga Majapahit denga upacara pernikahan sebagaimana biasanya.

Beda pendapat tersebut tidak dapat diselesaikan maka terjadilah perang yang mengakibatkan terbunuhnya semua orang Sunda termasuk calon permaisuri yaitu Diyah Pitaloka. Peristiwa tersebut terjadi di lapangan Bubat karena itu dinamakan perang Bubat dan terjadi tahun 1256 C /tahun 1357 M. Peristiwa Bubat tersebut jelas kesalahan besar Gajah Mada, akibat tindakan Gajah Mada tersebut tidak saja berakibat gagalnya pernikahan Hayam Wuruk tapi juga meninggalnya calon permaisuri Diyah Pitaloka beserta keluarga pengiringnya Karena kesalahan itu kemudian Gajah Mada diberi sanksi yaitu dibebas tugaskan selama 2 (dua) tahun (1357 1359 M).

Mengapa kesalahan Gajah Mada yang begitu besar terhadap raja hanya mendapat hukuman ringan? Mengapa pula Gajah Mada terlibat begitu dalam soal pernikahan Hayam Wuruk? Banyak kemungkinan untuk menjawabnya, diantara jawaban itu ialah: Hayam Wuruk tahu bahwa Gajah Mada itu pamanya sendiri. Hal ini terjadi karena Gajah Mada adalah adik ibunda Hayam Wuruk (Diyah Tribhuwana Tungga Dewi) satu ayah lain ibu. Gajah Mada anak R. Wijaya dari istri selir (Dewi Andongsari), sedangkan Diyah  anak R. Wijaya dari permaisuri Gayatri.

7. Gajah Mada tidak mau kudeta terhadap kekuasaan Hayam Wuruk

Pada saat Hayam Wuruk dinobatkan sebagai Raja, ia baru berusia 17 tahun. Segala urusan pemerintahan diserahkan kepada Gajah Mada. Bahkan sejak masa pemerintahan ibunda hayam Wuruk yaitu Tribhuwana Tungga Dewi urusan pemerintahan seolah diserahkan sepenuhnya kepada Gajah Mada.
Keadaan seperti itu sangat memungkinkan jika Gajah Mada mau kudeta, dalam arti Gajah Mada mau kudeta maka tidak akan ada hambatan yang berarti. Lalu timbul pertanyaan mengapa Gajah Mada tidak melakukan kudeta? banyak kemungkinan untuk menjawab, diantaranya jawaban itu ialah : “karena raja Hayam Wuruk masih Keponakan Gajah Mada sendiri “.

***

(2) Beberapa Pendapat dan Dugaan lain berkaitan Asal-Usul Gajah Mada

Berikut ini penulis tampilkan ringkasan artikel berkaitan dengan asal-usul Gajah Mada. Beberapa pendapat menyatakan bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatera, Bali, Kalimantan, NTB dan Mongol.

1. Versi Sumatera

Seperti kita kita ketahui bersama, jaman dahulu nama orang identik atau disimbolkan dengan nama-nama hewan. Raja Majapahit yang terkenal, H(ayam) Wuruk sendiri mempunyai arti ayam jantan. Beberapa nama hewan yang biasa dipakai antara lain : Mahesa(Sapi), Lembu, Kebo, Banyak (Angsa) dll.

  • Menurut Nagarakretagama, Mahesa Cempaka memiliki anak Dyah Lembu Tal yang diberi gelar Dyah Singhamurti dan kemudian menurunkan Raden Wijaya.
  • Ronggolawe, adalah putera Ario Banyak Wide alias Ario Wiraraja bupati Sumenep yang membantu Raden Wijaya saat dikejar-kejar tentara JayaKatwang.
  • Mahesa Anabrang, atau juga disebut dengan nama Kebo Anabrang dan Lembu Anabrang, adalah seorang mantan senapati Singasari (Ketua Ekspedisi Pamalayu) yang membunuh Ranggalawe, pada saat Ranggalawe memberontak pada Majapahit.
  • Dara Petak (harafiah berarti “Merpati Putih”) adalah istri kelima dari Raden Wijaya, merupakan putri dari Raja Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa dari Kerajaan Dharmasraya. Dari perkawinannya dengan Raden Wijaya, Dara Petak melahirkan seorang putra yaitu Kalagemet atau Sri Jayanegara yang menjadi penerus tahta ayahnya di Majapahit.

Diantara nama-nama yang menghiasi perjalanan sejarah Majapahit, bahkan kerajaaan sebelumnya ataupun sesudahnya nama-nama seperti itulah yang populer dipakai oleh golongan bangsawan maupun rakyat biasa. Karena hewan-hewan itu ada di lingkungan mereka. Kecuali untuk nama hewan gajah, kita hanya mendapati satu nama, yaitu Gajah Mada. Berangkat dari sinilah kalau Gajah Mada bukan orang Jawa. Satu-satunya pulau di Indonesia yang ada gajahnya adalah Sumatra. Yang pusat koservasinya ada di Way Kambas, Jambi. Dan kalau dilihat dari catatan sejarah, ada benang merah yang dapat ditarik.

Seperti tulisan diatas, Dara Petak berasal dari Kerajaan Dharmasraya. Kerajaan ini lokasinya ada di Sumatra, yang dapat disampaikan sebagai berikut :
  • Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan yang terletak di Sumatra, berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto, Sumatera Barat sekarang, dan di utara Jambi.
  • Hubungan antara Mahesa (Kebo) Anabrang, Dara Petak, Dara Jingga,  dan Jayanegara
Diduga kuat Mahesa Anabrang ini adalah orang yang sama dengan tokoh yang dikenal sebagai Adwaya Brahman atau Adwayawarman, ayah dari Adityawarman yang disebutkan dalam Prasasti Kuburajo I di Kuburajo, Limo Kaum, dekat Batusangkar, Sumatera Barat. Menurut pembacaan Prof. H. Kern yang diterbitkan tahun 1917, tertulis bahwa batu prasasti itu “dikeluarkan oleh Adityawarman, yang merupakan putra dari Adwayawarman dari keluarga Indra. Dinyatakan juga bahwa Adityawarman menjadi raja di Kanakamedini (Swarnadwipa)“.

Dara Jingga adalah putri dari Tribuanaraja Mauliawarmadewa, raja Kerajaan Dharmasraya dan juga merupakan kakak kandung dari Dara Petak. Dara Jingga memiliki sebutan sira alaki dewa — dia yang dinikahi orang yang bergelar dewa — dinikahi oleh Adwaya Brahman, pemimpin Ekspedisi Pamalayu.

Nama tokoh ini juga ditemukan pada prasasti yang tertulis di alas arca Amoghapasa, yang ditemukan di Padang Roco, dekat Sei Langsat, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Menurut pembacaan R. Pitono, tertulis bahwa arca itu adalah hadiah perkawinan Kertanagara kepada seorang bangsawan Sumatera, dan “bersama dengan keempat belas pengiringnya dan saptaratna, dibawa dari Bhumi Jawa ke Swarnnabhumi” dan bahwa “Rakyan Mahamantri Dyah Adwayabrahma” adalah salah seorang pengawal arca tersebut.

Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga beserta keluarganya dan Dara Petak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Kertanegara, raja yang mengutusnya. Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Sang Kertanegara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah musnah oleh Jayakatwang, raja Kediri.


Oleh karena itu, Dara Petak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanegara, raja Majapahit ke-2. Dengan kata lain, raja Majapahit ke-2 adalah keponakan Mahesa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.

Berdasarkan catatan-catatan diatas, dapat disimpulkan saat Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Petak dari Sumatra ke Jawa, Gajah Mada termasuk dalam rombongan tersebut yang bertugas untuk mengawal keselamatan putri raja mereka sekaligus sebagai duta dari Kerajaan Darmasraya. Atau malah Gajah Mada ditugaskan secara khusus untuk menjadi pengawal pribadi Dara Petak. Yang akhirnya tinggal dan menetap di Majapahit mengikuti tuannya yang menjadi permaisuri raja Majapahit.

2. Versi Malang

Muhammad Yamin didalam bukunya yang berjudul Gajah Mada, Balai Pustaka, cetakan ke  6, Tahun 1960, hal 13 mengungkapkan tokoh ini sebagai:

“Diantara sungai brantas yang mengalir dengan derasnya menuju kearah selatan dataran Malang dan dikaki pegunungan Kawi-Arjuna yang indah permai,maka disanalah nampaknya seorang-orang indonesia berdarah rakyat dilahirkanpada permulaan abad ke-14.

Ahli sejarah tidak dapat menyusur hari lahirnya dengan pasti: ibu bapak dan keluarganya tidak dapat perhatian kenang-kenangan riwayat: Begitu juga nama desa tempat dia dilahirkan dilupakan saja oleh penulis keropak jaman dahulu asal usul gajah mada semua dilupakan dengan lalim oleh sejarah”
Jadi jelaslah menurut Muhammad Yamin, asal-usul Gajah Mada masih sangat gelap, walaupun ada dugaan bahwa Gajah Mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir keselatan diantara kaki gunung Kawi-Arjuna, diperkirakan sekitar tahun 1300 M.

3. Versi Bali

Keinginan untuk mengetahui asal-usul Patih Gajah Mada sebagai Negarawan besar pada Jaman Kerajaan Majapahit, telah lama menarik perhatian ahli sejarah, salah satunya I Gusti Ngurah Ray Mirshaketika mengadakan Klasifikasi Dokumen Lama yang berbentuk Lontar-lontar pada “perpustakaan Lontar Fakultas Sastra, Universitas Udayana” (sekitar tahun 1974. Salah satu lontar yang menarik perhatian diantaranya adalah lontar yang berjudul “Babad Gajah Maddha”. Lontar tersebut memakai kode: Krop.7, Nomer 156, Terdiri dari 17 Lembar lontar berukuran 50×3,5 cm, ditulisi timbal balik, setiap halaman terdiri atas 4 baris, memakai huruf dan bahasa Bali-Tengahan.

Lontar tersebut adalah merupakan Salinan sedangkan yang asli belum dapat dijumpai. Secara garis besar lontar babad Gajah Maddha tersebut berisikan
1. Asal Usul Gajah Mada
2. Gri Kresna Kapakisan dalam hubungannya dengan raja-raja Majapahit
3. Emphu keturunan pada waktu memerintah di Bali

Yang menjadi perhatian dari sekian lontar tersebut dan dapat dijadikan penelitian lebih lanjut adalah bagian yang menjelaskan tentang Asal-Usul/Kelahiran sang Maha Patih Gajah Mada.

“Tersebutlah Brahmana Suami-Istri di wilwatikta, yang bernama Curadharmawysa dan Nariratih, keduanya disucikan (Diabhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat. Setelah disucikan lalu kedua suami istri tersebut diberi nama Mpu Curadharmayogi dan istrinya bernama Patni Nuriratih. Kedua pendet tersebut melakukan Bharata (disiplin) Kependetaan yaitu :Sewala-brahmacari” artinya setelah menjadi pendeta suami istri tersebut tidak boleh berhubungan sex layaknya suami istri lagi.

Selanjutnya Mpu Curadharmayogi mengambil tempat tinggal (asrama) di Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat, Sedangkan Patni Nariratih bertempat tinggal di rumah asalnya di wilatikta, tetapi senantiasa pulang ke asrama suaminya di gili madri untuk membawa santapan,dan makanan berhubungan jarak kedua tempat tinggal mereka tidak begitu jauh.

Pada suatu hari Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya ke asrama di gili madri, tetapi sayang pada saat hendak menyantap makanan tersebut air minum yang disediakan tersenggol dan tumpah (semua air yang telah dibawa tumpah), sehingga  Mpu Curadharmayogi mencari air minum lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat itu arah ke barat. Dalam keadaan Patni Nariratih  seorang diri diceritakan timbulah keinginan dari Sang Hyang Brahma untuk bersenggama dengan Patni Nariratih. Sebagai tipu muslihat segerah Sang Hyang Brahma berganti rupa (berubah wujud, ”masiluman”) berwujud seperti Mpu Curadharmayogi sehingga patni Nariratih mengira itu adalah suaminya.
Segera Mpu Curadharmayogi palsu (Mayarupa) merayu Patni Nariratih untuk melakukan senggama, Tetapi keinginan tersebut ditolak oleh Patni Nariratih,oleh karena sebagai pendeta sewala-brahmacari sudah jelas tidak boleh lagi mengadakan hubungan sex,oleh karena itu Mpu Curadharmayogi palsu tersebut memperkosa Patni Nariratih.

Setelah kejadian tersebut maka hilanglah Mpu Curadharmayogi palsu, dan datanglah Mpu Curadharmayogi yang asli (Jati). Patni Nariratih menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya kepada suaminya dan akhirnya mereka berdua menyadari, bahwa akan terdjadi suatu peristiwa yang akan menimpa meraka kelak.kemudian ternyata dari kejadian yang menimpa Patni Nariratih akhirnya mengandung.

Menyadari hal yang demikian tersebut mereka berdua lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan asrama itu, mengembara ke hutan-hutan ,jauh dari asramanya tidak menentu tujuannya,hingga kandungan patni Nariratih bertambah besar. Pada waktu mau melahirkan mereka sudah berada didekat gunung Semeru dan dari sana mereka menuju kearah Barat Daya, lalu sampailah disebuah desa yang bernama desa Maddha. Pada waktu itu hari sudah menjelang malam dan Patni Nariratih sudah hendak melahirkan, lalu suaminya mengajak ke sebuah “Balai Agung” yang etrletak pada kahyangan didesa Maddha tersebut.

Bayi yang telah dilahirkan di bale agung itu, segera ditinggalkan oleh mereka berdua menuju ke sebuah gunung. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa didesa Maddha,lalu oleh seorang patih terkemuka di wilatikta di bawa ke wilatikta dan diberi nama “Maddha”.

4. Versi Kalimantan


Ada pula yang meyakini Gajah Mada itu merupakan orang Dayak, Kalimantan Barat, yaitu dari sebuah kampung di Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sebagian masyarakat Dayak mempercayai hal ini berkaitan dengan kisah masyarakat Dayak Tobag, Mali, Simpang dan Dayak Krio. Tokoh Gajah Mada di Dayak Krio dikenal dengan nama Jaga Mada, namun masyarakat Dayak lainnya menyebutnya Gajah Mada, seorang Demung Adat yang mempunyai tugas mempersatukan nusantara.

5. Versi Nusa Tenggara Barat

Masyarakat Bima khususnya Dompu percaya kalau Gajah Mada berasal dari daerah ini, mengingat kemiripan dengan tokoh legenda masyarakat Dompu yaitu “ombu Mada Roo Fiko”. Ombu artinya Tuan, Mada artinya saya, Roo artinya telinga dann Fiko artinya lebar. Jadi ditafsirkan sebagi Tuan Mada bertelinga lebar (seperti gajah). Di daerah ini juga terdapat kuburan kuno yang diyakini sebagai makam Gajah Mada.

6. Versi Mongol

Ada yang mengatakan bahwa Gajah Mada merupakan perwakilan atau utusan tersamar Dinasti Yuan dari daratan Cina. Menurut seorang dosen Fisipol UGM, kota Trowulan yang merupakan pusat kerajaan Majapahit, jika dipindai dengan tekno remote sensing, maka akan nampak ada kanal-kanal yang disiapkan untuk jalur menuju laut.

LAIN-LAIN
A. Bunyi sumpah Palapa:
“Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring seram, tanjungpura, ring haru, pahang, dompo, ring bali, sunda, palembang, tumasik, samana isun amukti palapa”
“Apabila sudah kalah Nusantara, saya akan beristirahat, apabila Gurun telah dikalahkan, begitupula Seram, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, pada waktu itu saya akan menikmati istirahat”
B. Bendera Majapahit: Merah Putih (bergaris)


C. Lambang/Simbol Kerajaan: Surya Majapahit

D. Peta Wilayah Kekuasaan Majapahit:


***
EPILOG:
Tulisan ini sama sekali tidak bertendensi pada pengklaiman terhadap sosok Gajah Mada berdasarkan wilayah, etnisitas, dan apalagi golongan atau orang tertentu. Sampai detik ini, segala legenda, mitos, maupun dugaan masih belum bisa menyingkap tabir asal-usul Gajah Mada. Yang jelas, Gajah Mada adalah sejarah Indonesia, dan oleh sebab itu sudah menjadi bagian integral bangsa ini; menjadi milik Indonesia.
Penulis menutup tulisan ini dengan mengutip sepenggal tulisan di buku karangan Langit Kresna Hariadi:
“Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan pulang. Lebih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa. Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal-usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tak diketahui anak turunnya. Biarlah Gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.” (Gajah Mada Madakaripura Hamukti Moksa, Langit Kresna Hariadi, 2007).

sumber : lamongan kota blogspot com

Friday, 2 December 2016

Melihat Lebih Dekat Sosok Jet Li

Melihat Lebih Dekat Sosok Jet Li - Jet Li merupakan bintang film action yang sudah tidak asing lagi. Dia merupakan sosok pemain film yang jago dalam seni bela diri kungfu. 

Melihat Lebih Dekat Sosok Jet Li


Aktor yang disejajarkan dengan pemain film kungfu lain seperti Jackie Chan dan Bruce ini sekarang merupakan warga negara Singapura. Negara tetangga negara Indonesia. Yang mana sebelumnya dia merupakan warga negara Amerika Serikat.

Jet Li lahir di Cina pada 26 April 1963. Orang tua sejak kecil menyekolahkannya di sekolah wushu. Bakat dalam bidang seni bela diri ini membuatnya mampu mewakili negara cina dalam lomba wushu internasional. Nama "Jet" merupakana nama panggilan yang diberikan kepadanya karena ia memiliki gerakan yang sangat cepat.

Sejak itulah Jet Li dikenal banyak orang. Tawaran bermain film action pun datan kepadanya. Film pertama yang pertama kali ia bintangi adalah Shaolin Temple.

Namanya semakin melejit ketika ia memerankan Master Wong Fei Hung dalam film yang berjudul ONCE UPON A TIME IN CHINA. Sosok Wong Fei Hung dalam film ini merupakan sosok yang ahli kung fu dan juga ahli pengobatan (tabib).

Diantaranya Film yang pernah dibintangi Jet Li antara lain :
- Shaolin Temple
- ONCE UPON A TIME IN CHINA
- ROMEO MUST DIE
- DANNY THE DOG
- THE FORBIDDEN KINGDOM
dan lain-lain

Dalam bermain film Jet Li ingin menyebarkan filosofi Buddha tentang cinta kasih tanpa kondisi sehingga beberapa orang bisa memahaminya walaupun sedikit, tentang bagaimana cara menjalani kehidupan ini. Ia tidak bertujuan untuk mengubah agama penontonnya tapi untuk menyebarkan informasi.

Saat ini pria yang memiliki 2 putri ini tinggal di Singapura. Ia memili menjadi warga negara Singapura karena pendidikan di negara Singapura dianggapnya baik untuk kedua putrinya.

Dalam hal sosial, dia mendirikan One Foundation pada Januari 2005. Konsep yayasan ini adala setiap orang menyumbang 1 Dollar setiap bulan yang digunakan untuk membantu sesama.

Amalan-Amalan Memperlancar Rezeki

Amalan-Amalan Memperlancar Rezeki - Berbagai alaman berikut InsyaAllah akan mendatangkan rezeki atau paling tidak dapat melancarkan rezeki. Walaupun amalan-amalan dibawah ini simpel namun khasiatnya luar biasa efeknya. Jangan pernah menganggap remeh amalan-amalan berikut. 

Amalan-Amalan Memperlancar Rezeki

1. Shodaqoh

Shodaqoh merupakan amalan untuk membagi kepunyaan kita kepada orang lain. Dengan melakukan shodaqoh maka akan membuat kita rezekinya semakin lancar.

Nabi s.a.w. bersabda kepada Zubair bin al-Awwam: "Hai Zubair, ketahuilah bahawa kunci rezeki hamba itu ditentang Arasy, yang dikirim oleh Allah azza wajalla kepada setiap hamba sekadar nafkahnya. Maka siapa yang membanyakkan pemberian kepada orang lain, nescaya Allah membanyakkan baginya. Dan siapa yang menyedikitkan, nescaya Allah menyedikitkan baginya." (Riwayat ad-Daruquthni dari Anas .a.)

2. Berbakti Kepada Orang Tua

Orang tua kita adalah orang yang paling penting dan berharga di muka bumi. Berkat orang tua kita terlahir ke dunia ini. Maka balaslah kebaikan mereka dengan segala sesuatu yang baik.

Baginda s.a.w. juga bersabda: "Siapa berbakti kepada ibu bapanya maka kebahagiaanlah buatnya dan Allah akan memanjangkan umurnya." (Riwayat Abu Ya'ala, at-Tabrani, al-Asybahani dan al-Hakim)

3. Perbanyak Istigfar

Istigfar merupakan kalimat yang banyak manfaatnya. Selain digunakan untuk memohon ampun kepada Allah dan mengaku dosa khasiat lain dari istigfar adalah memperlancar rezeki

Sabda Nabi s.a.w.: "Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah s.w.t akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka." (Riwayat Ahmad, Abu Daud, an-Nasa'i, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas .a.)

4.  Sholat Dhuha Rutin

Sholat dhuha memang sudah terkenal sebagai sholat yang mampu melapangkan rezeki. Jika belum segera laksanakan dhuha agar rezeki semakin lancar

"Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (solat Dhuha), nanti pasti akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya." (Riwayat al-Hakim dan Thabrani)

5. Membantu Orang Lain

Ketika seseorang membutuhkan bantuan kita janganlah segan untuk membantu. Bantulah tanpa pamrih jika kita dapat membantu.

Sabda Nabi s.a.w.: "Siapa yang menunaikan hajat saudaranya maka Allah akan menunaikan hajatnya…" (Riwayat Muslim)

6. Perbanyak Sholawat

Sholawat mudah dilakukan. Banyak sekali manfaatnya jika kita membaca sholawat. Ada sebuah hadist yang menganjurkan untuk membaca showalat agar hajat atau cita-cita yang membaca terkabul.

7. Jalin Silaturahmi

Nabi s.a.w. bersabda : "Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dilambatkan ajalnya maka hendaklah dia menghubungi sanak-saudaranya." (Riwayat Bukhari)
Hadist ini sudah jelas sekali. Bahwa barang siapa ini rezeki lancar dan panjang umur maka perbanyaklah silaturahmi.

8. Perbanyak Ibadah

Ibadah yang kita lakukan akan berdampak baik kepada kita. Tidak hanya di akhirat kelak, tetapi juga di dunia ini. Seperti firman-Nya dalam hadis qudsi:

"Wahai anak Adam, sempatkanlah untuk menyembah-Ku maka Aku akan membuat hatimu kaya dan menutup kefakiranmu. Jika tidak melakukannya maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu." (Riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abu Hurairah)

9. Jangan Lakukan Maksiat Atau Perbuatan Dosa

Ternyata jika melakukan maksiat Allah akan menyempitkan rezeki kita. Jangan anggap remeh dosa yang kita perbuat.

"… dan seorang lelaki akan diharamkan baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya." (Riwayat at-Tirmizi)

10. Iktiar Semampunya

Sebagai manusia tentunya kita tidak bisa langsung mendatang rezeki langsung di depan kita. Harus ada iktiar dan usaha. Apa yang kita perbuat maka kita akan mendapatkan hasilnya. Segala yang kita lakukan tidak ada yang sia-sia.

11. Tawakkal kepada Allah

Sesudah kita berusaha maka kita harus pasrahkan hasilnya kepada Allah. Biarkan Allah yang mengaturnya. Karena Allah lebih paham apa yang terbaik untuk kita.

Demikianlah amalan-amalan yang dapat memperlancar rezeki kita. Bagi yang belum semoga segera mampu untuk melaksanakannya. Terima Kasih dan semoga bermanfaat. Silakan share agar lebih bermanfaat.

Thursday, 1 December 2016

Puisi Kaum Beragama Negeri Ini Karya Gus Mus - KH. Musthofa Bisri

Puisi

Kaum Beragama Negeri Ini

Karya Gus Mus - KH. Musthofa Bisri


Puisi Kaum Beragama Negeri Ini Karya Gus Mus - KH. Musthofa Bisri

Tuhan,
lihatlah
betapa baik kaum beragama
negeri ini
mereka terus membuatkanmu
rumah-rumah mewah
di antara gedung-gedung kota
hingga di tengah-tengah sawah
dengan kubah-kubah megah
dan menara-menara menjulang
untuk meneriakkan namaMu
menambah segan
dan keder hamba-hamba
kecilMu yang ingin sowan kepadaMu.

NamaMu mereka nyanyikan dalam acara
hiburan hingga pesta agung kenegaraan.
Mereka merasa begitu dekat denganMu
hingga masing-masing
merasa berhak mewakiliMu.

Yang memiliki kelebihan harta
membuktikan
kedekatannya dengan harta
yang Engkau berikan
Yang memiliki kelebihan kekuasaan
membuktikan kedekatannya dengan
kekuasaannya yang Engkau limpahkan.
Yang memiliki kelebihan ilmu
membuktikan
kedekatannya dengan ilmu
yang Engkau karuniakan.

Mereka yang engkau anugerahi
kekuatan sering kali bahkan merasa
diri Engkau sendiri
Mereka bukan saja ikut
menentukan ibadah
tetapi juga menetapkan
siapa ke sorga siapa ke neraka.

Mereka sakralkan pendapat mereka
dan mereka akbarkan
semua yang mereka lakukan
hingga takbir
dan ikrar mereka yang kosong
bagai perut bedug.
Allah hu akbar walilla ilham.

Jejak Kahuripan di Lereng Gunung Pegat Babat Lamongan

Jejak Kahuripan di Lereng Gunung Pegat Babat Lamongan - Para budayawan-peneliti berdarah Lamongan “blusukan” lagi, demi cinta dan bakti mereka terhadap tanah leluhur yang sejarahnya disia-siakan terlalu lama. Mereka ialah Viddy Ad Daery, Sufyan Al-Jawi yang kali ini disertai Mat Rais dan Jumartono serta Ahmad Fanani Mosah dari LKL (Lembaga Kebudayaan Lamongan), dan kini mengarahkan penelitiannya ke tanah tinggi di lereng Gunung Pegat, Babat, ke sebuah desa yang bernama Kuripan, sebelah timur desa Puncak Wangi. Hal itu merupakan langkah lanjutan “meneliti jejak Mahapatih Gajah Mada di masa mudanya”, dimana temuan-temuan di lapangan semakin mengukuhkan teori yang berdasarkan folklore dari desa Modo dan sekitarnya, bahwa “Gajah Mada adalah kelahiran Modo dan sekitarnya”.
Jejak Kahuripan di Lereng Gunung Pegat Babat Lamongan


“Nama Kuripan itu menarik hati kami, karena merupakan toponimi atau pergeseran nama dari Kahuripan, dan menurut catatan arkeologi, sebelah desa Kuripan, yakni desa Puncak Wangi pernah ditemukan prasasti dan benda-benda kuno, maka kami menduga desa Kuripan pernah menjadi desa penting di masa lalu.” Kata Viddy Ad Daery yang bertindak sebagai juru-bicara tim peneliti tersebut.

“Ketika kami mendatangi lokasi desa Kuripan memang ada “aura” desa kuno, yakni tata desanya yang sederhana tapi rapi, yakni ada perempatan sebagai pusat desa, lalu dari situ rumah-rumah berjajar-jajar. Beberapa rumah juga masih tampak berciri kuno, yakni rumah limas atau rumah bucu kalau mewah”.Simpul Sufyan Al-Jawi, seorang Arkeolog-numismatik.

“Dalam prasasti disebutkan, bahwa vassal atau kerajaan bawahan Majapahit antaralain adalah Kahuripan dipimpin Bre Kahuripan dan Kabalan dipimpin Bre Kabalan. Nah, coba lihat, posisi Kuripan ini berseberangan dengan desa Kabalan (kini Kebalan Dono) nun disana, jadi pasti Kuripan ini dulunya mempunyai posisi sepenting Kabalan !” simpul Viddy pula.

Jumartono yang bertugas sebagai fotografer juga menyatakan, bahwa bulukuduknya merinding ketika memasuki desa Kuripan. “Aroma desa kunonya sangat kuat.” Kata pelukis yang kini menekuni art-fotografi itu.

Tim berhasil mewawancarai dua orang narasumber, yaitu Sutrisno yang rumahnya berada di dekat perempatan desa lama, dan H.Sulanan yang merupakan kyai desa. Sutrisno menuturkan kisah folklore yang berharga, bahwa dulunya desa Kuripan disebut “Tanah Majapahit”. “Orang-orang tua kami bertutur, bahwa di zaman Belanda dulu, konon Belanda tidak berani membeli tanah Kuripan karena merupakan “Tanah Majapahit” yang dikeramatkan”, tuturnya.

Sutrisno juga menuturkan, bahwa sungai di sebelah rumahnya dulu merupakan sungai yang agak besar dan membelah Gunung Pegat. “Jadi, orang-orang menyebut Gunung Pegat itu sebetulnya berasal dari sungai ini yang membelah Gunung…kalau jalan raya yang membelah Gunung Pegat sekarang itu kan baru dibangun oleh Belanda, jadi di zaman Majapahit, jalan raya itu belum ada.” Jelas Sutrisno.

Ketika ditanya mengenai bekas-bekas Istana Kerajaan , Sutrisno menuturkan bahwa konon dulu pernah ditemukan pondasi istana, tapi sekarang sudah hilang atau tertutup tanah, namun situs kuburan tua masih ada di Kuripan.Sebetulnya yang lebih fasih berkisah adalah Pak Haji Sulanan…” Kata Sutrisno memberi informasi lebih lanjut.

PERJALANAN ZAMAN

Sementara itu, H.Sulanan memberi informasi mengenai “kisah tutur nenek moyangnya”, bahwa desa Kuripan atau Kahuripan dulunya adalah “Desa Majapahit sampai zaman Prabu Brawijaya”, dengan jalan keluar-masuk desa mengarah ke barat atau ke arah desa Puncak Wangi.

“Namun semenjak zaman Prabu Brawijaya, desa diperluas ke arah utara, karena desa dari arah barat diserang oleh Kerajaan Blambangan dan dibumihanguskan. Arah utara masa kini adalah menyambung ke desa Payaman, desa Gendong, selanjutnya ke Plaosan tembus jalan raya Babat-Kabalan”, kisah H.Sulanan yang berprofesi petani merangkap kyai desa.

Perjalanan zaman adalah “up and down”. Selanjutnya, menurut H.Sulanan, di zaman akhir Majapahit, Payaman justru lebih maju daripada Kuripan, maka Payaman menjadi Kademangan, yang meliputi kelurahan Kuripan, Payaman, Sogo, Bedahan, Plaosan, Gembong, Terpan, Datinawong, Kepoh dan Awar-awar.

Menurut H.Sulanan, Demang yang paling terkenal adalah Adi Taruna yang merupakan kakek buyutnya. Pada zaman kejayaan Kademangan Payaman, Sunan Ampel sempat mampir ke situ untuk berdakwah, karena itu di Payaman ada kuburan Ngampel, yang kemungkinan adalah makam beberapa santri Sunan Ampel.

“Dulu, bengawan Solo kan mengalirnya ke selatan dari Bedahan ke Terpan, jadi Sunan Ampel konon mendarat atau melabuhkan perahunya di Terpan lalu mendaki bukit ke desa Kademangan Payaman.”kisah H.Sulanan yang kini berusia 66 tahun.

Kini, rupanya roda berputar lagi, dan Payaman kembali menjadi padukuhan, sedang Kuripan alias Kahuripan naik status lagi menjadi Kelurahan.

Menurut Ahmad Fanani Mosah, budayawan Babat anggota LKL, dari kisah sejarah desa Kuripan dan Payaman itu, sudah menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan desa penting di zaman Majapahit awal sampai Majapahit akhir. “Bahwa kini desa itu menjadi desa kecil terisolir di pedalaman wilayah Babat, lha begitu itulah perputaran roda zaman.” Simpul guru SMPN 3 Babat tersebut.

Dalam catatan sejarah resmi disebutkan , bahwa Kahuripan adalah wilayah vassal Majapahit paling penting , karena setiap putra mahkota dijadikan bre atau pimpinan di Kahuripan. Tribuana Tungga Dewi sebelum jadi Ratu Majapahit adalah Rani Kahuripan . Demikian juga Hayam Wuruk sebelum diserahi mahkota Raja Majapahit juga di”raja-muda”kan sebagai Bre Kahuripan.
“Bahkan yang menarik, Gajah Mada sebelum diangkat menjadi mahapatih Majapahit , di”tatar” dulu oleh Ratu Tribuana Tungga Dewi , ditugasi menjadi Patih Kahuripan , setelah matang , baru dipindah menjadi Patih Kediri, wilayah “musuh dalam selimut” Majapahit , dan setelah siap sebagai politikus yang matang, baru diangkat menjadi Mahapatih Majapahit!” simpul Viddy yang memandang dari sudut politik , karena Viddy kini juga terjun ke politik praktis masuk anggota Partai Politik tertentu , yang masih mempunyai visi idealis dan belum tercemar dosa korupsi dan belum pernah mengkhianati bangsa.

Sumber : kompas.com dan lamongan kota blogspot com

Wednesday, 30 November 2016

Biografi dan Profil Djarot Saiful Hidayat

Biografi dan Profil Djarot Saiful Hidayat
Biografi dan Profil Djarot Saiful Hidayat - Sosok yang satu ini akhir-akhir ini memang sedang banyak dibicarakan orang, yakni Djarot Saiful Hidayat. Saat artikel ini ditulis beliau merupakan calon wakil Gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dangan Basuki Tjahaya Purnama atau lebih dikenal dengan nama Ahok.

Siapa Djarot Saiful Hidayat

Beliau merupakan politi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).  Beliau terlahir di Magelang pada 06 Juli 1962. Sebelum menjadi politi beliau merupakan seorang Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya. Dalam lingkungan kampus beliau tidak hanya menjadi dosen, beliau juga memegang peranan penting yakni Pembantu Rektor I.

Djarot Saiful Hidayat merupakan lulusan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) di Universitas Brawijaya (UB). Kemudian S2 beliau lanjutkan ke Fakultas Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta. 

2 Periode Menjadi Wali Kota Blitar

Menjadi Wali Kota Blitar selama 2 periode membuat kota Blitar mendapat gelar Adipura selama 3 kali berturut yakni pada 2006 sampai 2008. Pada 2008 pula beliau mendapatkan penghargaan Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah. Dalam bidang kesehatan beliau mendapatkan Terbaik Citizen's Charter.

Dalam memimpin kota blitar beliau sukses dengan cara cara membatasi adanya toko yang berbau metropolitan, sejenis swalayan. Beliau tidak mengizinkan adanya swalayan waralaba yang dapat mematikan perokonomian kota blitar. Mall modern pun dilarang berdiri. Beliau ingin masyarakat Blitar yang memutar roda perokonomian, artinya masyarakat kota Blitar lah yang sepenuhnya memiliki usaha tersebut.

Djarot Saiful Hidayat menata Pedagang Kaki Lima (PKL) yang awalnya terlihat kumuh akhirnya disulap menjadi rapi dan bersih. Beliau pun lebih suka meninjau langsung dengan membawa sepeda.

Menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta

Pada tahun 2014 beliau diangkat menjadi Wakil Gubernur DKI yang berpasangan dengan Basuki Tjahaya Purnama karena yang mana sebelumnya Basuki Tjahaya Purnama merupakan wakil gubernur DKI sedangkan Joko Widodo merupakan Gubernurnya. Karena Joko Widodo berhasil menjadi presiden pada pesta demokrasi maka Basuki Tjahaya Purnama diangkat sebagai Gubernur DKI dan Djarot Saiful Hidayat diangkat sebagai wakilnya.

Ketika Badui Kencing Di Dalam Masjid

Ketika Badui Kencing Di Dalam Masjid - Semoga kisah ini dapat diambil hikmahnya bahwa Islam mengajarkan kedamaian dan ketretaman. Berikut kisahnya :
Ketika Badui Kencing Di Dalam Masjid


Alkisah ada seorang Badui bernama Si Fullan. Si Fullan diketahui tidak memiliki tempat tinggal dan hidup mengembara. Suatu ketika Si Fullan lewat di depan masjid Rasulullah. Pada saat itu pula Si Fullan merasa ingin buang air kecil. Tanpa bersuci, tanpa melepas alas kaki dan tanpa rasa berdosa pula, Si Fullan menurunkan celana dan membuang air kencingnya di dalam masjid.

Kebetulan pada saat kejadian itu Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat akan pergi ke masjid karena waktu sholat dzuhur sudah tiba. Setibanya di masjid, rombongan Nabi Muhammad SAW kaget melihat Si Fullan yang belum menuntaskan kencingnya. Salah satu sahabat sempat kesal melihat kejadian itu dan meminta ijin kepada Nabi Muhammad SAW untuk menebas kepala Si Fullan.

Mendengar permintaan sahabat itu, tahu apa yang di katakan Nabi Muhammad SAW? Dengan sabar dan kepala dingin beliau hanya menjawab “Jangan, biarkan dia menyelesaikan kencingnya terlebih dahulu dan kemudian bersihkan kencing orang itu”. Nabi Muhammad tidak memperkenankan para sahabatnya melakukan tindakan kekerasan sebagai jalan utama.

Menurut beliau, orang Badui itu tidak paham soal agama dan jalan yang terbaik untuk orang seperti dia harus menggunakan dialog terlebih dahulu. Itulah salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang membuktikan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang mencintai perdamaian.

Begitulah kisah teladan dari Nabi Muhammad. Sebenarnya kisah di atas hanya cuilan dari banyak kisah Nabi Muhammad yang bisa di ambil hikmah bahwa nabi Muhammad toleran terhadap orang lain, baik beda suku maupun agama.

Artikel Menarik